PENDEKATAN EXPLORATORY DAN CONFIRMATORY DALAM GEOGRAFI


Metode saintifik menyediakan pendekatan terstruktur untuk menjawab pertanyaan.  Inti dari metode ini adalah untuk membangun dan menguji suatu hipotesis. Seperti kita lihat, hipotesis dapat dianggap sebagai jawaban potensial dari suatu pertanyaan.  Misalnya snowfall map dapat mamberikan suatu hipotesis bahwa jarak dari danau terdekat memainkan peran penting pada distribusi jumlah snowfall.

Geografer menggunakan spatial analisis dengan konteks metode saintifik yang minimal memiliki dua jalan yang jelas.  Metode exploratory (penyelidikan) dari analisis digunakan untuk menggiring kepada hipotesis. Metode confirmatory digunakan untuk menguji suatu hipotesis.  Metode visualisasi atau deskripsi seperti pada kasus gambar 1.2 memaksa kita untuk menemukan klaster dari kasus kanker akan menjadi metode exploratory, sebaliknya metode statistic yang  menguatkan/menegaskan kemungkin terjadi suatu peristiwa oleh adanya peluang disebut metode confirmatory.

Kita seharusnya dapat mencatat dua point penting, pertama, metode confirmatory tidak selalu melakukan penegasan atau menyangkal hipotesis – dunia memiliki tempat yang rumit, dan metode tersebut seringkali memiliki keterbatasan dalam mencegah comfirmation dan refutation (sangkalan). Namun, metode tersebut sangat penting dalam strukturisasi pikiran kita dan membawa sebuah ketelitian dan pendekatan sainstifik akan menjawab pertanyaan. Kedua, penggunaan metode eksplanatory selama beberapa tahun terakhir meningkat secara cepat. Ini datang karena ada kombinasi dari tersedianya database besar dan kecanggihan softwere (termasuk GIS) dan sebuah pengakuan bahwa metode confirmatory statistika sangat cocok di beberapa situasi.   

(STATISTICAL METHODS FOR GEOGRAPHY - PETER ROGERSON)

KEBIJAKAN, PROGRAM DAN PROYEK


Kebijakan, program dan proyek merupakan suatu tindakan/ kegiatan yang disengaja dengan variasi intensitas yang berbeda-beda, dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada pada lokasi tertentu.

Kebijakan selalu berhubungan dengan dorongan dan peraturan. Program membutuhkan baik dorongan, aturan maupun implementasi, sedangkan proyek hanya fokus pada implementasi.

Hubungan antara kebijakan, program dan proyek adalah, suatu kebijakan seringkali mencakup sejumlah program, dan sebuah program terdiri dari sejumlah proyek. Namun, sebuah kebijakan juga dapat langsung dilakukan dan diimplementasikan dalam bentuk proyek.

Kebijakan selalu berhubungan dengan bagaimana untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sehingga dapat diartikan sebagai suatu wujud aksi umum program untuk mencapai tujuan khusus. Tujuan tersebut telah ditentukan sebelumnya secara spesifik dan kebijakan tersebut dicapai melalui program atau proyek tertentu. Contoh dari kebijakan adalah, ketika terjadi suatu fenomena fisik yang menimbulkan akibat terhadap manusia, misalnya terjadi bencana letusan Gunungapi. Maka terdapat kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait, yaitu management bencana.

Program dapat dijelaskan sebagai kebijakan dalam hal tujuan yang ingin dicapai. Program tersebut merupakan langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Contoh dari program adalah ketika terdapat kebijakan management bencana, maka program yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan, yaitu untuk meminimalisir dampak bencana, dilaksanakan program mitigasi bencana. Mitigasi bencana tersebut dapat dipecah dalam berbagai kegiatan lain yang disebut proyek.

Proyek merupakan aktivitas tertentu yang ditentukan waktunya, lokasinya dan tujuannya/maksudnya (anggarannya). Proyek menjelaskan suatu program yang dijabarkan secara terperinci pada sasaran tujuan. Proyek memiliki cakupan yang lebih sempit dari program, dan dikerjakan dalam jangka waktu yang terbatas. Aktivitasnya direncanakan,dengan menentukan alokasi anggaran dan lokasi geografis secara spesifik. Contoh dari proyek adalah, implementasi dari mitigasi bencana yang dilakukan, misalnya sosialisasi, pemetaan daerah rawan bencana banjir, simulasi, perkiraaan kerugian akibat bencana dan sebagainya.

Kebijakan memiliki cakupan yang lebih luas daripada program dan proyek. Kebijakan biasanya dikeluarkan oleh pemegang kekuasaan, atau memiliki kekuatan untuk mengatur. Program dan proyek merupakan cara untuk mencapai suatu kebijakan yang dikeluarkan.

Contoh dari Kebijakan, Program dan Proyek adalah misalnya DIY punya visi untuk Menjadi Pusat Pendidikan dan Periwisata terkemuka.

Kebijakan yang diambil misalnya "Pengembangan Pariwisata Alam, Budaya dan Minat Khusus.

Program untuk melaksanakan kebijakan tersebut misalnya Mengembangkan Pariwisata Pantai Parangtritis.

Proyek lebih detil lagi dari Program. Misal dari program tersebut dapat disusun
Proyek Pembangunan Kawasan Pelelangan Ikan di Parangtritis,
Proyek Pembangunan Taman Parkir di Parangtritis,
dan sebagainya.



ATLAS NASIONAL INDONESIA (DIGITAL WEB)


Atlas dalam pengertian yang paling sederhana adalah kumpulan peta. Berbagai peta disusun baik dalam dalam bentuk analog maupun digital berisi tentang data yang bereferensi spasial/geo-spatial. Maksud dari kata geospatial merupakan informasi yang terletak pada permukaan bumi dengan koordinat. (Phyton Geospatial Development:2010)

Menurut Ormelling tahun 1997, Atlas adalah data geografi yang disusun secara sistematik dan koheren dalam bentuk analog maupun digital , menampilkan area khusus dengan satu atau lebih tema geografik, berdasarkan tujuan khusus dengan disertai narasi,digunakan sebagai sarana navigasi dan dapat ditampilkan untuk analisis.
Indonesia setelah lama tidak memiliki atlas nasional, pada tahun 2008 meluncurkan atlas nasional resmi oleh Bakosurtanal. Dalam perkembangannya, atlas tersebut saat ini telah mampu diakses umum oleh masyarakat secara digital pada alamat http://atlasnasional.bakosurtanal.go.id/. Badan Kordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) segera melengkapi ANI volume III yang kini sedang disiapkan dan dijadwalkan terbit pada 2011. Sedangkan ANI II diterbitkan Selasa (8/12) melengkapi ANI I yang terbit pada 2008. (http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/atlas-nasional-indonesia-dokumen-resmi-geospasial-tematik)

Atlas Nasional Indonesia tersebut memiliki tiga tema besar, yaitu Fisik & Lingkungan, Potensi & Sumberdaya dan Sejarah, Wilayah dan Budaya. Ketiga tema tersebut memiliki sub tema masing-masing, yaitu Geologi, Geomorfologi, Gunung Api, Iklim, Kelautan, Konservasi lahan, Lahan basah, Penutup lahan, rawan bencana, sumberdaya Geologi, Sumberdaya air, Sumberdaya pesisir laut, transportasi, pariwisata, Flora dan fauna.

Pada tema atlas nasional Indonesia tersebut, wilayah Indonesia digambarkan, terutama untuk pulau-pulau besar, antara lain pulau jawa, sumatera, Kalimantan, bali, Sulawesi, Maluku, Papua. Informasi tersebut ditambahkan keterangan narasi untuk informasi-informasi yang tidak tertuang pada peta. Data yang digunakan dalam pembuatan Atlas Nasional Indonesia dikumpulkan dari badan-badan nasional Indonesia, antara lain Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia, Departemen Kelautan dan Perikanan, Badan Geologi, Badan Pusat Statistik, Departemen Pekerjaan Umum, Jawatan Hidro Oseanografi, Departemen kehutanan, Departemen Perhubungan, Departemen Kebudayaann dan pariwisata, Badan Meteorologi dan Geofisika. Pembuatan atlas Nasional Indonesia tersebut juga dilakukan oleh beberapa instansi, dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Departemen Geografi Universitas Indonesia.
Sub tema Geologi berisikan informasi terkait batuan-batuan di Indonesia, lempeng tektonik dan geologi regional. Informasi tersebut ditampilkan dengan gambar sekaligus deskripsi tentang sub tema Geologi tersebut. Sub tema Geomorfologi berisikan informasi tentang Bentanglahan. Bentuklahan diterangkan untuk memberikan informasi pada beberapa bentuklahan yang ada di Indonesia. Gambaran secara lebih jelas juga diberikan dengan foto agar mempermudah dalam memahami fenomena geomorfologi. Sub tema gunung api dijelaskan tentang tipe-tipe erupsi, bentuk gunungapi, struktur gunungapi, terjadinya gunungapi, lokasi gunungapi, kejadian gunungapi, proses pembentukan gunungapi, bahaya gunungapi dan klasifikasi gunungapi. Subtema iklim menerangkan tentang faktor-faktor yang menentukan iklim. Sub tema Kelautan menerangkan tentang kelautan secara umum. Subtema Konservasi lahan menerangkan tentang hutan dan pemanfaatanya sesuai undang-undang. Subtema lahan basah menerangkan tentang beberapa kenampakan lahan basah, kondisi fisik dengan berbagai habitatnya. Subtema penutup lahan memberikan informasi tentang penutup lahan berupa hutan dengan berbagai spesifikasinya. Subtema rawanbencana menerangkan tentang potensi bencana yang ada di Indonesia.

Pada tema Potensi dan sumberdaya berisikan subtema antara lain sumberdaya geologi yang menerangkan tentang berbagai jenis sumberdaya geologi yang ada di Indonesia. Sumberdaya air memberikan informasi mengenai sumberdaya air bagi masyarakat. Sumberdaya pesiir laut menerangkan tentang berbagai sumberdaya kelautan yang ada di Indonesia. Subtema transportasi menerangkan tentang pergerakan penduduk dengan kondisi geografis Indonesia. Subtema pariwisata menerangkan tentang potensi wisata yang ada di Indonesia terutama de3ngan kekayaan lautnya. Sementara flora dan fauna menerangkan tentang kekhasan flora dan fauna di Indonesia.
Atlas Nasional Indonesia yang telah dirilis oleh bakosurtanal tersebut sebagai satu contoh atlas digital yang belum selesai. Hal tersebut dapat kita cermati dari definisi atlas menurut Ormelling, 1997, Atlas adalah data geografi yang disusun secara sistematik dan koheren dalam bentuk analog maupun digital , menampilkan area khusus dengan satu atau lebih tema geografik, berdasarkan tujuan khusus dengan disertai narasi,digunakan sebagai sarana navigasi dan dapat ditampilkan untuk analisis. Terdapat empat kata kunci dari definisi Ormelling ini, antara lain ,

1. Koleksi koheren dan sistematik dari data geografikal
2. Ditampilkan dalam format analog/konvensional ataupun digital
3. Menggambarkan daerah tertentu
4. Dilengkapi tools/sarana untuk mempermudah informasi dan analisis

Atlas Nasional Indonesia tersebut disusun dalam format digital yang tentunya memiliki tools yang berbeda dari peta analog. Tools tersebut maksudnya adalah berupa alat yang dapat memudahkan kita dalam memahami informasi yang ada dalam atlas. Tools berupa segala sesuatu, baik berupa tulisan/narasi, diagram, ataupun sketsa yang fungsinya untuk mempermudah informasi dan analisis. Kemudian atlas nasional tersebut berupa kumpulan data geografis yang sistematik dan koheren dengan menggambarkan daerah Indonesia secara umum dan beberapa pulau-pulau besar di Indonesia. Informasi ditampilkan dengan membagi pada beberapa tema besar, dan dari tema besar tersebut dibagi kembali menjadi beberapa tema. Hal tersebut tentunya agar informasi dapat diakses oleh user secara lebih mudah.

Kumpulan data geografis tidak selalu berupa peta, namun dapat berupa narasi atau data-data terkait daerah yang ditampilkan. Atlas Nasional Indonesia tersebut menampilkan lebih dominan informasi berupa narasi dibandingkan dengan informasi berupa peta. Secara definisi, Atlas Nasional Indonesia digital tersebut dapat disebut sebagai atlas. Hal tersebut karena menurut saya, Atlas Nasional Indonesia tersebut memenuhi keempat kata kunci sesuai dengan definisi Ormelling.

Selanjutnya ketika memahami tujuan Atlas antara lain,
1. Memperkenalkan atau mengkomunikasikan tentang lingkungan sekitar
2. Mengakses Informasi Global
3. Menyajikan permasalahan di lingkungan sekitar
4. Mengevaluasi kelayakan dan kebenaran fenomena tertentu
5. Mengetahui potensi suatu wilayah

Atlas Nasional Indonesia tersebut menurut saya bertujuan untuk memberikan informasi tentang potensi wilayah baik informasi fisik, social maupun budaya. Menurut jenisnya atlas tersebut merupakan atlas nasional, seperti nama atlas tersebut. Informasi yang disajikan berupa potensi wilayah Indonesia secara umum.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Atlas Nasional Indonesia telah menerapkan beberapa scenario. Atlas tersebuit sudah dilengkapi dengan tools sehingga informasi mudah diakses oleh user. Kemudian menjelaskan suatu situasi dengan narasi, artinya informasi tentang peta yang ditampilkan dieprjelas dengan narasi. Narasi dapat berupa gambar, diagram, video, maupun suara yang mampu memberikan informasi secara lebih jelas.

Atlas tidak pernah terlepas dari peta. Suatu kumpulan peta dengan berbagai tambahan informasi dan narasi. Pada Atlas Nasioanl Indonesia Digital tersebut hanya memberikan informasi berupa narasi tanpa diberikan dasar petanya. Pada tools yang ada, ternyata juga tidak sempurna karena terdapat informasi yang kosong. Jika dilakukan pembenahan dengan memberikan informasi peta pada setiap tema, sehingga user dapat melakukan analisis terhadap peta dengan membaca informasi dan narasi, Atlas Nasional Indonesia ini akan lebih layak untuk disebut atlas.


Sumber :
Rahardjo, Noorhadi. 2011. Catatan Kuliah Atlas dan peta Navigasi. Fakultas Geografi:UGM
(http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/atlas-nasional-indonesia-dokumen-resmi-geospasial-tematik) diakses 13 oktober 2011
http://atlasnasional.bakosurtanal.go.id/. Diakses 13 oktober 2011





UPAYA MITIGASI NON STRUKTURAL

Indonesia merupakan Negara yang tidak dapat lepas dari ancaman bencana. Hal tersebut dipengaruhi oleh posisi Indonesia yang berada pada pertemuan lempeng-lempeng tektonik. Lempeng tersebut antara lain lempeng Eurasia, , Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Lempeng Indo-Australia menabrak lempeng Eurasia di lepas pantai sumatera, jawa dan Nusa tenggara, sementara itu lempeng pasifik bertabrakan dengan lempeng Indo-Asutralia di utara irian dan Maluku utara. Terjsdinys tumbukan tersebut, sehingga Negara ini rawan sekali oleh bencana gempa bumi. Selain itu akibat dari tumbukan antar lempeng menghasilkan bentukan berupa gunungapi. Jumlah gunungapiu yanbg aktif sekitar 140 buah.Bahaya letusan gunungapi juga sangat berpotensi terjadi di Indonesia. Kemudian bahaya longsor juga mengancam. Besarnya curah hujan dapat menyebabkan terjadinya longsor di beberaopa tempat. Besarnya potensi bencana yang terjadi memaksa kita Sebagai warga Negara yang tinggal di daerah rawan bencana, kita harus mengenal alam kita ini.Ketika bencana terjadi ada upaya dari kita untuk mengurangi suatu dampak bahaya yang terjadi. Hal tersebut dikenal sebagai mitigasi.

Mitigasi merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana,baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan mengatasi anczman bencana. Ancaman bencana dapat terjadi sewaktu-waktu, namun bukan berarti kita tidak mempu untuk mengurangi dampak bencana. Upaya mitigasi melalui pembangunan fisik dikenal sebagai mitigasi structural, sedangkan upaya berupa penyadaran kepada masyarakat tentang risiko bencana dikenal sebagai mitigasi non structural.
Pentingnya mitigasi non structural

Mitigasi non structural menurut saya lebih efektif, walaupun perlu pula dikombinasikan dengan mtigasi structural. Berbagai upaya mitigasi non structural antara lain melakukan pelatihan, pendidikan, penyuluhan/sosialisasi, penataan ruang dan relokasi. Ketika masyarakat telah mengetahui resiko bencana melalui usaha-usaha tersebut, maka dampak korban jiwa, minimal dapat dikurangi. Masyarakat akan tau apa yang harus dilakukan ketika gempa bum, banr, tsunamii terjadi dan sebagainya. Msayarakat tidak akan terpengaruh oleh isu-isu tertentu yang membuat panic ketika terjadi bencana. Namun usaha mitigasi non structural tersebut seringkali tidak mudah dilakukan, terutama kepada masyarakt usia tua/lansia. Sehingga ketika bencana terjadi, masyarakat harus bersama-sama saling membantu untuk mengurangi dampak bencana.


Bagaimana langkah yang harus dilakukan?
1. Memberikan pendidikan dan pelatihan kebencanaan
Langkah tersebut dilakukan oleh masyarakat dibantu oleh pemerintah daerah terkait, peneliti, dosen maupun lembaga tertentu dengan memberikan suatu pendidikan tentang bencana yang terjadi. Pendidikan tersebut dapat berupa pengenalan karakteristik bencana, tipe bencana, bagaimana dan apa yang harus dilakukan jika bencana datang. Masyarakat diberikan langkah cepat yang harus dilakukan jika bencana datang tiba-tiba.

2. Memberikan sosialisasi
Sosialisasi juga penting untuk dilakukan. Biasanya sosialisasi dilakukan oleh pemerintah daerah melalui BPBD Badan Nasional Bencana Daerah). Masyarakat sebagai target sosialisasi diberikan pengetahuan tentang bencana yang sering terjadi di daerah tersebut dan memberikan langkah-langkah cepat yang harus dilakukan.

3. Penataan Ruang
Penataan ruang dan relokasi sangat penting dilakukan agar resiko bencana dan korban tidak terjadi lagi. Permukiman yang terkena bencana sebelumnya dipindahkan ke daerah lain yang lebih aman. Daerah yang memiliki potensi terhadap bencana diatur kembali untuk dipindahkan menjauhi daerah dengan resiko bencana lebih besar.

4. Membentuk organisasi penanggulangan bencana tingkat kampong/Desa
Masyarakat dapat saling membantu ketika terjadi bencana maupun ketika sebelum bencana dalam organisasi tersebut. Adanya organisasi tingkat lingkup kecil tersebut tentunya akan lebih dapat mengkoordinir warganya. Organisasi tersebut dapat bersama dengan pemerintah daerah memberikan pelatihan, simulasi bhencana, memberikan papan-papan jalur evakuasi, menyiapkan tanah lapang yang aman dari bencana untuk membangun barak pengungsian dan sebagainya. Bahkan ketika bencana terjadi, dalam lingkup kecil tersebut lebih mudah untuk memberikan bantuan, terutama makanan.

BELAJAR VISUAL BASIC (FUNGSI DAN PROSEDUR)

Cobalah dengan Visual Basic yang ada di Microsoft Office atau softwere lain,
Bangunlah sebuah program seperti dibawah ini, yaitu program penghitung volume bangun ruang

Prosedur
Private Sub cmdKalkulasi_Click()
Dim panjang As Double, lebar As Double, tinggi As Double

panjang = txtPanjang.Text
lebar = txtLebar.Text
tinggi = txtTinggi.Text
Call kalkulasi(panjang, lebar, tinggi)
End Sub
--------------------
Private Sub kalkulasi(a As Double, b As Double, c As Double)
Dim kalkulasi As Double
kalkulasi = a * b * c
lblHasil.Caption = "Hasil kalkulasi adalah, " & kalkulasi
End Sub








Fungsi
Private Sub cmdKalkulasi_Click()
Dim panjang As Double, lebar As Double, tinggi As Double

panjang = txtPanjang.Text
lebar = txtLebar.Text
tinggi = txtTinggi.Text

lblHasil.Caption = "Hasil perhitungan volume adalah, " & kalkulasi(panjang, lebar, tinggi)

End Sub
--------------------
Private Function kalkulasi(a As Double, b As Double, c As Double) As Double
kalkulasi = (a * b * c)
End Function

Pembahasan
Jika Fungsi dan Prosedur dibandingkan, perbedaan keduanya yaitu,
Prosedur menggunakan privat sub 2 sedangkan fungsi menggunakan privat function
Prosedur melakukan call hasil kalkulasi,namun pengisian hasil dilakukan di privat sub 1
Fungsi tidak melakukan call hasil, dan hasil dilakukan di privat sub
Penggunaan kurung pada kalkulasi tidak berpengaruh atau sama saja
Pada Fungsi, privat function dideklarasi variable kalkulasi secara langsung

Pada prosedur, deklarasi dilakukan setelah deklarasi variable panjang, lebar, tinggi di privat sub ke 2

REVIEW ATLAS DIGITAL


Contoh Atlas Digital
sumber : http://users.erols.com


Atlas : http://atlasnasional.bakosurtanal.go.id/

Tipe atlas : Atlas Nasional

Konten Atlas :Atlas tersebut adalah Atlas Nasional Indonesia.
Atlas Nasional Indonesia tersebut memiliki tiga tema besar, yaitu Fisik & Lingkungan, Potensi & Sumberdaya dan Sejarah, Wilayah dan Budaya. Ketiga tema tersebut memiliki sub tema masing-masing, yaitu Geologi, Geomorfologi, Gunung Api, Iklim, Kelautan, Konservasi lahan, Lahan basah, Penutup lahan, rawan bencana, sumberdaya Geologi, Sumberdaya air, Sumberdaya pesisir laut, transportasi, pariwisata, Flora dan fauna.
Pada tema atlas nasional Indonesia tersebut, wilayah Indonesia digambarkan, terutama untuk pulau-pulau besar, antara lain pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Maluku, Papua. Informasi tersebut ditambahkan keterangan narasi untuk informasi-informasi yang tidak tertuang pada peta.
Atlas Nasional Indonesia tersebut menampilkan lebih dominan informasi berupa narasi dibandingkan dengan informasi berupa peta.

Struktur Atlas :Struktur atlas yang diterapkan adalah Deep Organization dengan kedalaman informasi yang berbeda di tiap button. Pada informasi tema-tema terkait fenomena geografis memiliki kedalaman tingkatan informasi yang sama. Namun untuk button berupa produk peta dan gallery, kedalaman informasi berbeda.

Functionality of Atlas :Atlas Nasional Indonesia bertujuan untuk memberikan informasi tentang potensi wilayah baik informasi fisik, social maupun budaya.
Informasi ditampilkan dengan membagi pada beberapa tema besar, dan dari tema besar tersebut dibagi kembali menjadi beberapa tema. Hal tersebut tentunya agar informasi dapat diakses oleh user secara lebih mudah.


Atlas :http://nationalatlas.gov/

Tipe atlas :Atlas Nasional

Konten Atlas :Atlas tersebut merupakan Atlas Nasional dari United States. Informasi yang ditampilkan terkait kondisi fisik maupun sosialnya. Tema yang ditampilkan adalah agriculture, biologi, boundaries, climate, environtment, geologi, government, Histori, Mapping, people, Transportation dan water. Selain itu juga terdapat button yang berisikan peta-peta dengan tema tertentu, atau peta yang dapat kita atur informasi yang ditampilkannya. Isi Atlas cukup ringkas dengan hanya menampilkan secara umum kondisi dari tema-tema tersebut. Kata-kata penting diberikan link penjelasan lebih detail. Narasi diberikan untuk memperjelas setiap tema dilengkapi dengan gambar ataupun animasi dan grafik.

Struktur Atlas :Struktur Atlas yang digunakan adalah Flat Organisation dengan menyamaratakan level atau informasi yanga da dalam atlas digital tersebut.

Functionality of Atlas :Fungsi dari Atlas Nasional United States tersebut adalah untuk publikasi kepada seluruh dunia tentang kondisi yang ada di United States.


Atlas : http://users.erols.com/mwhite28/20centry.htm

Tipe atlas :Atlas Regional

Konten Atlas :Atlas tersebut merupakan Atlas regional untuk beberapa Negara tertentu. Negara-negara tersebut merupakan Negara di seluruh dunia antara lain Amerika, Asia, Afrika, dan Eropa. Informasi yang disajikan terkait kondisi sosial, politik, ekonomi, kenegaraan, bencana, hubungan antar Negara dan sebagainya. Setiap informasi/tema disajikan dengan narasi dan peta secara temporal berurutan sehingga diketahui perkembangan keadaan global dunia secara umum. Jika data berupa informasi tentang peristiwa misalnya kejadian bencana, disajikan pula dalam bentuk table tentang Negara yang terjadi bencana, termasuk jumlah korban jiwanya.

Struktur Atlas :Struktur atlas yang digunakan adalah Deep Organization. Struktur tersebut kurang tertata dengan baik dan kurang menarik apabila dibandingkan dengan atlas digital yang lainnya. Hal tersebut karena atlas ini dibuat sekitar tahun 1998 dan terakhir di update sekitar tahun 2003, sehingga susunanya terkesan kurang modern.

Functionality of Atlas :Fungsi atlas ini adalah sebagai media informasi untuk Negara-negara di dunia tentang peristiwa dan kejadian real yang terjadi terutama kejadian yang berpengaruh besar terhadap seluruh dunia. Selain itu juga berfungsi untuk perbandingan dengan keadaan yang terjadi jauh di tahun kebelakang sampai pada tahun tertentu.



Atlas : http://education.nationalgeographic.com/education/mapping/interactive-map/

Tipe atlas :Atlas Pendidikan

Konten Atlas :Atlas tersebut berisi informasi mengenai tema-tema fisik dan manusia serta hubungan antara lingkungan dan sosial. Tema fisik dijabarkan kembali dalam sub tema perairan, tanah, iklim sedangkan untuk tema manusia dijabarkan menjadi populasi, politik, ekonomi.
Setiap sub tema memiliki informasi kembali dijabarkan lebih detail dan seluruhnya dapat diintegrasikan menjadi satu layer.
Peta yang ditampilkan secara global seluruh dunia, namun dapat diatur untuk menampilkan hanya sebagian Negara saja.
Peta dilengkapi narasi singkat dengan keterangan isi peta berupa legenda setiap perubahan tema.
Atlas dilengkapi tool untuk navigasi, menandai point, dan juga untuk mengukur jarak.
Unsur generalisasi hanya diterapkan pada perubahan skala besar ke kecil. Sementara untuk skala kecil ke sangat kecil generalisasi tidak ada.

Struktur Atlas :Strukutur atlas yang digunakan adalah Balanced Organization. Tampilan informasi memiliki tingkatan yang hampir sama. Setelah masuk ke sub tema, maka dalam setiap sub tema terdapat judul informasi yang akan ditampilkan dalam peta.

Functionality of Atlas :Fungsi atlas ini adalah terutama untuk pendidikan. Atlas dibuat sederhana, yang ditonjolkan adalah pola distribusi dari fenomena yang akan ditampilkan. Tampilan peta yang sederhana dan simple tersebut mengesankan kemudahan akses atlas. Ketika skala diperbesar maka akan tampak toponimi dengan beberapa kenampakan berupa sungai, jalan dan sebagainya.
Mode peta dapat diganti dalam mode topographic, street,terrain , outline, national geographic atau satellite, sehingga dapat digunakan untuk navigasi atau referensi bagi pengguna.



Atlas : http://atlas.nrcan.gc.ca/site/english/index.html

Tipe atlas :Atlas Nasional

Konten Atlas :Atlas tersebut adalah Atlas Negara Canada. Isi dari atlas digital tersebut adalah informasi terkait kondisi fisik maupun kondisi social Terdapat tema terkait lingkungan, sejarah, sosial ekonomi, kesehatan, peta-peta referensi, peta topografi dan sebagainya. Tiap tema tersebut terbagi kembali dalam beberapa sub tema dan berisikan informasi lebih detail terkait sub tema tersebut.
Setiap sub tema diberi narasi,dilengkapi juga dengan gambar, grafik dan keterangan terkait makna kata, deskripsi lebih luas dan mendalam. Selain itu tiap bahasan dalam sub tema berupa kata-kata penting diberikan peta yang mampu di ubah kedetailannya dengan clasifikasi yang telah ditetapkan.

Struktur Atlas :Struktur atlas/ navigasi struktur dapat diakses dengan mudah oleh pengguna.Struktur yang digunakan adalah deep organization. Pada home terdapat beberapa button dengan informasi yang memiliki tingkat kedalaman informasi masing-masing. Pada bahasan yang luas maka jumlah cabang lebih banyak.

Functionality of Atlas :Fungsi Atlas tersebut adalah sebagai media informasi mengenai kondisi fisik dan kondisi sosial dari Negara Canada. Publikasi kondisi negara maka dapat menjadi prestige tersendiri bagi Negara terkait yang mampu menarik seseorang untuk mengetahui kondisi Negara Canada.

*alamat website atlas digital kemungkinan ada yang sudah tidak aktif

PERENCANAAN PENGGUNAAN LAHAN

Ilustrasi suatu perencanaan penggunaan lahan
Sumber : Peta Perda DIY No 2 Tahun 2010

Perencanaan penggunaan lahan merupakan suatu upaya berupa negosiasi dengan stackholder untuk mewujudkan keputusan dalam keberlanjutan penggunaan tanah di wilayah pedesaan secara baik, dari tahapan inisiasi sampai pada monitoring dalam implementasinya.
Dalam perencaan penggunaan lahan tersebut dikenal istilah reasonable, feasible dan economic.

Reasonable mempunyai makna masuk akal. Proses dalam perencanaan penggunaan lahan harus masuk akal dan mampu diterima nalar. Misalnya ketika melakukan perencanaan penggunaan lahan dengan menempatkan suatu daerah sebagai kawasan pariwisata, tentunya daerah tersebut harus memiliki beberapa objek wisata sehingga objek wisata yang dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

Jadi akan sangat tidak masuk akal jika suatu daerah tidak memiliki objek wisata, akan tetapi pemerintah yang berkuasa ingin menjadikan daerah tersebut sebagai kawasan pariwisata.

Feasible mempunyai makna memungkinkan. Memungkinkan dari segi fisik daerah juga dari segi waktu dan biaya. Perencanaan penggunaan lahan yang dilakukan harus mempertimbangkan pertanyaan “dapatkah perencanaan penggunaan lahan dilakukan disini?” Sehingga aspek fisik, sosial, ekonomi wilayah perlu dipertimbangkan dalam konteks feasible. Misalnya ketika akan melakukan perencanaan penggunaan lahan untuk perumahan di daerah X. Perlu dipertimbangkan aspek geomorfologi, tanah, kondisi geologi daerah/patahan, sumber air/airtanah dan sebagainya.

Economic memiliki makna ekonomi. Artinya dalam perencanaan penggunaan lahan juga harus mempertimbangkan aspek ekonomi. Biaya yang dikeluarkan harus dipertimbangkan sesuai dengan mendahulukan yang paling penting. Selain itu juga perencanaan penggunaan lahan juga dapat menghasilkan nilai ekonomi bagi daerah tersebut. Misalnya di Sleman, didirikan Mall X, maka Mall tersebut diharapkan dapat menambah nilai ekonomi bagi daerah Sleman.

Faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan dan perencanaan penggunaan lahan adalah,
a. Faktor fisik lahan
  • Topografi
  • Relief
  • Jenis tanah
  • Ketersediaan air
  • Geomorfologi
  • Geologi
b. Faktor manusia
  • Keinginan politik
  • Kebutuhan manusia

 Contoh
perencanaan penggunaan lahan

Kabupaten Kulon Progo direncanakan dibangun Bandara Internasional yang menggantikan fungsi Bandara Adisucipto. Dalam proses perencanaan tersebut tentu harus dilakukan kajian mendalam mengenai lokasi dibangunnya Bandara Internasional di Temon, Kulon Progo. Dari aspek Fisik dianalisis kemungkinan pembangunan tersebut. Faktor manusia antara lain faktor politik dan kebutuhan juga dipertimbangkan.

Dari segi fisik lahan, topografi, relief, jenis tanah, ketersediaan air, geomorfologi, geologi dan aspek fisik laiinnya sudah barang tentu dipertimbangkan. Yang menjadi catatan adalah, jika memang wilayah tersebut tidak memenuhi salah satu atau beberapa aspek, bukan berarti daerah tersebut menjadi tidak layak, namun dapat digunakan alasan rekayasa teknologi. Misalnya, ketersediaan air yang sedikit pada wilayah akuifer tanah, maka dengan adanya teknologi dapat didatangkan/disediakan air dari luar wilayah tersebut. Atau misalnya wilayah tersebut berada pada relief yang tidak memungkinkan, dengan adanya rekayasa teknologi tentu masalah fisik dapat diatasi.

Sebeanrnya yang cukup menjadi permasalahan rumit seringkali ketika berhubungan dengan faktor manusia. Penduduk sekitar yang tidak menginginkan akan suatu pembangunan, dengan alasan yang berbagai macam seringkali menjadi ganjalan dalam perencanaan penggunaan lahan. Mereka akan melawan jika dianggap rencana yang telah dilakukan oleh pemerintah terkait tidak sesuai dengan harapan warga masyarakat.

Faktor politik juga memegang peranan penting. Ketika misalnya perencanaan penggunaan lahan berupa Bandara tersebut misalnya direncanakan di Kulon progo, namun jika pemegang kekuasaan tidak ingin dikembangkan di lokasi tersebut, maka perencanaan tersebut juga mustahil dapat dilakukan. 

ATLAS NASIONAL INDONESIA (DIGITAL ATLAS)


(http://atlasnasional.bakosurtanal.go.id/images/)


Atlas dalam pengertian yang paling sederhana adalah kumpulan peta. Berbagai peta disusun baik dalam dalam bentuk analog maupun digital berisi tentang data yang bereferensi spasial/geo-spatial. Maksud dari kata geospatial merupakan informasi yang terletak pada permukaan bumi dengan koordinat. (Phyton Geospatial Development:2010)

Menurut Ormelling tahun 1997, Atlas adalah data geografi yang disusun secara sistematik dan koheren dalam bentuk analog maupun digital , menampilkan area khusus dengan satu atau lebih tema geografik, berdasarkan tujuan khusus dengan disertai narasi,digunakan sebagai sarana navigasi dan dapat ditampilkan untuk analisis.
Indonesia setelah lama tidak memiliki atlas nasional, pada tahun 2008 meluncurkan atlas nasional resmi oleh Bakosurtanal. Dalam perkembangannya, atlas tersebut saat ini telah mampu diakses umum oleh masyarakat secara digital pada alamat http://atlasnasional.bakosurtanal.go.id/.
Badan Kordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) segera melengkapi ANI volume III yang kini sedang disiapkan dan dijadwalkan terbit pada 2011. Sedangkan ANI II diterbitkan Selasa (8/12) melengkapi ANI I yang terbit pada 2008.
(http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/atlas-nasional-indonesia-dokumen-resmi-geospasial-tematik)


Atlas Nasional Indonesia tersebut memiliki tiga tema besar, yaitu Fisik & Lingkungan, Potensi & Sumberdaya dan Sejarah, Wilayah dan Budaya. Ketiga tema tersebut memiliki sub tema masing-masing, yaitu Geologi, Geomorfologi, Gunung Api, Iklim, Kelautan, Konservasi lahan, Lahan basah, Penutup lahan, rawan bencana, sumberdaya Geologi, Sumberdaya air, Sumberdaya pesisir laut, transportasi, pariwisata, Flora dan fauna.

Pada tema atlas nasional Indonesia tersebut, wilayah Indonesia digambarkan, terutama untuk pulau-pulau besar, antara lain pulau jawa, sumatera, Kalimantan, bali, Sulawesi, Maluku, Papua. Informasi tersebut ditambahkan keterangan narasi untuk informasi-informasi yang tidak tertuang pada peta. Data yang digunakan dalam pembuatan Atlas Nasional Indonesia dikumpulkan dari badan-badan nasional Indonesia, antara lain Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia, Departemen Kelautan dan Perikanan, Badan Geologi, Badan Pusat Statistik, Departemen Pekerjaan Umum, Jawatan Hidro Oseanografi, Departemen kehutanan, Departemen Perhubungan, Departemen Kebudayaann dan pariwisata, Badan Meteorologi dan Geofisika. Pembuatan atlas Nasional Indonesia tersebut juga dilakukan oleh beberapa instansi, dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Departemen Geografi Universitas Indonesia.

Sub tema Geologi berisikan informasi terkait batuan-batuan di Indonesia, lempeng tektonik dan geologi regional. Informasi tersebut ditampilkan dengan gambar sekaligus deskripsi tentang sub tema Geologi tersebut. Sub tema Geomorfologi berisikan informasi tentang Bentanglahan. Bentuklahan diterangkan untuk memberikan informasi pada beberapa bentuklahan yang ada di Indonesia. Gambaran secara lebih jelas juga diberikan dengan foto agar mempermudah dalam memahami fenomena geomorfologi. Sub tema gunung api dijelaskan tentang tipe-tipe erupsi, bentuk gunungapi, struktur gunungapi, terjadinya gunungapi, lokasi gunungapi, kejadian gunungapi, proses pembentukan gunungapi, bahaya gunungapi dan klasifikasi gunungapi.

Subtema iklim menerangkan tentang faktor-faktor yang menentukan iklim. Sub tema Kelautan menerangkan tentang kelautan secara umum. Subtema Konservasi lahan menerangkan tentang hutan dan pemanfaatanya sesuai undang-undang. Subtema lahan basah menerangkan tentang beberapa kenampakan lahan basah, kondisi fisik dengan berbagai habitatnya. Subtema penutup lahan memberikan informasi tentang penutup lahan berupa hutan dengan berbagai spesifikasinya. Subtema rawanbencana menerangkan tentang potensi bencana yang ada di Indonesia.

Pada tema Potensi dan sumberdaya berisikan subtema antara lain sumberdaya geologi yang menerangkan tentang berbagai jenis sumberdaya geologi yang ada di Indonesia. Sumberdaya air memberikan informasi mengenai sumberdaya air bagi masyarakat. Sumberdaya pesiir laut menerangkan tentang berbagai sumberdaya kelautan yang ada di Indonesia. Subtema transportasi menerangkan tentang pergerakan penduduk dengan kondisi geografis Indonesia. Subtema pariwisata menerangkan tentang potensi wisata yang ada di Indonesia terutama de3ngan kekayaan lautnya. Sementara flora dan fauna menerangkan tentang kekhasan flora dan fauna di Indonesia.

Atlas Nasional Indonesia yang telah dirilis oleh bakosurtanal tersebut sebagai satu contoh atlas digital yang belum selesai. Hal tersebut dapat kita cermati dari definisi atlas menurut Ormelling, 1997, Atlas adalah data geografi yang disusun secara sistematik dan koheren dalam bentuk analog maupun digital , menampilkan area khusus dengan satu atau lebih tema geografik, berdasarkan tujuan khusus dengan disertai narasi,digunakan sebagai sarana navigasi dan dapat ditampilkan untuk analisis. Terdapat empat kata kunci dari definisi Ormelling ini, antara lain ,

1. Koleksi koheren dan sistematik dari data geografikal
2. Ditampilkan dalam format analog/konvensional ataupun digital
3. Menggambarkan daerah tertentu
4. Dilengkapi tools/sarana untuk mempermudah informasi dan analisis

Atlas Nasional Indonesia tersebut disusun dalam format digital yang tentunya memiliki tools yang berbeda dari peta analog. Tools tersebut maksudnya adalah berupa alat yang dapat memudahkan kita dalam memahami informasi yang ada dalam atlas. Tools berupa segala sesuatu, baik berupa tulisan/narasi, diagram, ataupun sketsa yang fungsinya untuk mempermudah informasi dan analisis. Kemudian atlas nasional tersebut berupa kumpulan data geografis yang sistematik dan koheren dengan menggambarkan daerah Indonesia secara umum dan beberapa pulau-pulau besar di Indonesia. Informasi ditampilkan dengan membagi pada beberapa tema besar, dan dari tema besar tersebut dibagi kembali menjadi beberapa tema. Hal tersebut tentunya agar informasi dapat diakses oleh user secara lebih mudah.

Kumpulan data geografis tidak selalu berupa peta, namun dapat berupa narasi atau data-data terkait daerah yang ditampilkan. Atlas Nasional Indonesia tersebut menampilkan lebih dominan informasi berupa narasi dibandingkan dengan informasi berupa peta. Secara definisi, Atlas Nasional Indonesia digital tersebut dapat disebut sebagai atlas. Hal tersebut karena menurut saya, Atlas Nasional Indonesia tersebut memenuhi keempat kata kunci sesuai dengan definisi Ormelling.

Selanjutnya ketika memahami tujuan Atlas antara lain,
1. Memperkenalkan atau mengkomunikasikan tentang lingkungan sekitar
2. Mengakses Informasi Global
3. Menyajikan permasalahan di lingkungan sekitar
4. Mengevaluasi kelayakan dan kebenaran fenomena tertentu
5. Mengetahui potensi suatu wilayah

Atlas Nasional Indonesia tersebut menurut saya bertujuan untuk memberikan informasi tentang potensi wilayah baik informasi fisik, social maupun budaya. Menurut jenisnya atlas tersebut merupakan atlas nasional, seperti nama atlas tersebut. Informasi yang disajikan berupa potensi wilayah Indonesia secara umum.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Atlas Nasional Indonesia telah menerapkan beberapa scenario. Atlas tersebuit sudah dilengkapi dengan tools sehingga informasi mudah diakses oleh user. Kemudian menjelaskan suatu situasi dengan narasi, artinya informasi tentang peta yang ditampilkan dieprjelas dengan narasi. Narasi dapat berupa gambar, diagram, video, maupun suara yang mampu memberikan informasi secara lebih jelas.

Atlas tidak pernah terlepas dari peta. Suatu kumpulan peta dengan berbagai tambahan informasi dan narasi. Pada Atlas Nasioanl Indonesia Digital tersebut hanya memberikan informasi berupa narasi tanpa diberikan dasar petanya. Pada tools yang ada, ternyata juga tidak sempurna karena terdapat informasi yang kosong. Jika dilakukan pembenahan dengan memberikan informasi peta pada setiap tema, sehingga user dapat melakukan analisis terhadap peta dengan membaca informasi dan narasi, Atlas Nasional Indonesia ini akan lebih layak untuk disebut atlas.


Sumber :
Rahardjo, Noorhadi. 2011. Catatan Kuliah Atlas dan peta Navigasi. Fakultas Geografi:UGM
(http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/atlas-nasional-indonesia-dokumen-resmi-geospasial-tematik) diakses 13 oktober 2011
http://atlasnasional.bakosurtanal.go.id/. Diakses 13 oktober 2011

LAUT SEBAGAI THE NEXT “PARU-PARU DUNIA”



Dua pertiga luasan dari bumi ini adalah lautan. Laut menyimpan potensi sumberdaya yang sangat besar. Laut sebagai ekosistem dari berbagai organisme. Hubungan antara organisme laut juga menjalin hubungan erat dengan ekosistem darat dan udatra. Semakin mendekati daratan, di lautan dangkal terdapat terumbu karang dengan pesonanya. Matahari juga memberikan sinarnya, masuk perlahan ke laut hingga dapat terbentuk terumbu karang yang indah tersebut.

Laut memiliki fungsi yang tidak kalah pentingnya dengan hutan. Hutan disebut sebagai paru-paru dunia, sebagai tempat hidup berbagai pohon dan tumbuhan dengan luasan yang sangat besar. Begitu pula terjadi untuk laut. Apabila kita cermati konferensi dunia yang membahas tentang kelautan pada mei 2009 lalu, yaitu WOC (World Ocean Conference) di Indonesia, membahas mengenai fungsi laut yang dapat mengurangi dampak dari global warming. Ada hubungan timbal balik antara laut dengan iklim yang dapat dikaji kembali bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menjaga ekosistem laut, menghentikan eksploitasi laut dan pencemaran laut agar laut tetap terjaga dan mampu menjalankan fungsinya dengan baik sebagai penangkap gas CO2.

Didalam laut terdapat berbagai organisme seperti fitoplankton, algae, terumbu karang, padanglamnun dan organism lain yang dapat berfotosintesis dengan menangkap CO2. Fitoplankton, alga maupun tumbuhan pada padang lamun mensintesis makanan sendiri dari bahan anorganik menjadi bahan organic dengan bantuan cahaya matahari dan menyerap CO2. Hal tersebut karena fitoplankton, alga dan lamun mirip seperti tumbuhan lainnya, yaitu memiliki kandungan klorofil. Untuk dapat berfoosintesis organism-organisme tersebut harus berada pada daerah yang terjangkau sinar matahari. Sinar matahari hanya dapat menembus air laut pada kedalaman tertentu saja. Sehingga organism-organisme tersebut tumbuh dan berada pada bagian permukaan atau pada daerah lautan dangkal.



http://images.sciencedaily.com/2008/12/081217190334-large.jpg

Terumbu karang merupakan kumpulan hewan yang bersimbiosis dengan alga yang dapat melakukan fotosintesis. Fotosintesis dilakukan terumbu karang dengan menghasilkan oksigen-oksigen yang dilarutkan dalam air. Untuk berfotosintesis terumbu karang juga memerlukan cahaya matahari, sehingga terumbu karang banyak terdapat pula pada lautan dangkal. Selain itu adanya terumbu karang juga dipengaruhi oleh suhu dan kandungan zat kapur dengan kadar tertentu.


http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/terumbu-karang.jpg

Tak hanya organism-organisme tersebut saja, masih banyak organism di laut yang jumlahnya sangat banyak, berupa tumbuhan, maupun jasad renik versel satu sampai bersel banyak mampu mengurangi dampak pemanasan global dengan menyerap oksigen. Hal tersebut seperti hutan, yang posisinya di perairan laut. Sungguh sangat luar biasa kekayaan laut tersebut.

Penelitian dalam skala laboratorium yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membuktikan algae di laut mampu tumbuh 20-25 kali hanya dalam 15 hari dengan diberi makan karbondioksida (CO2). Bahkan Chlorella sp dengan jumlah awal 40.000 sel per ml menjadi 1 juta sel per ml dalam 15 hari, kata Kepala BPPT Dr Marzan Aziz Iskandar dalam seminar Implementasi Pengurangan Emisi Karbondioksida sebagai Upaya Mitigasi Global Warming di Jakarta. (Harian Seputar Indonesia, Jumat 15 Mei 2009)

Ketika kita telah mengetahui bahwa terdapat organism-organisme di lautan yang mampu mengkonversi karbondioksida menjadi oksigen, tentunya akan menjadi semangat kita untuk paling tidak menjaga ekosistem laut supaya tetap terjaga. Sesuai data yang telah disampaikan oleh pihak BPPT bahwa algae mampu tumbuh sampai 20-25 kali dalam 15 hari dengan menyerap karbondioksida. Padahal di beberapa wilayah laut memiliki kekayaan berupa alga/ganggang hijau, biru, merah, coklat dan jenis lainnya yang sangat melimpah. Sebarannya dibatasi pada zona daerah yang masih terdapat cahaya matahari yang terdiri atas batuan-batuan dan juga dipengaruhi pula oleh tingkat salinitas.
Terumbu karang juga tak kalah melimpah. Terumbu karang membentuk pola seperti hutan yang berada di dalam lautan. Terumbu karang sebagai rumah dari berbagai organism lainnya, terutama ikan yang banyak berkembangbiak pada daerah terumbu karang. Semakin banyak jumlah terumbu karang, maka jumlah oksigen yang dihasilkan juga semakin besar, Namun pemanasan global mengancam terumbu karang yang dapat mengakibatkan naiknya permukaan laut sehingga terjadi kerusakan karang karena tidak mempu mendapatkan sinar matahari dan terjadinya pemutihan karang/coral bleeching.
Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan luasan laut lebih luas dari daratannya. Kekayaan sumberdaya kelautan Indonesia begitu besar dan beragam, mulai dari terumbu karang, alga, padang lamun, dan masih banyak lagi potensi sumberdaya laut lainnya. Hal tersebut tentunya menjadi sebuah nilai penting untuk Indonesia untuk berperan secara aktif kepada dunia untuk memulai mengembangkan dan melestarikan sumberdaya laut. Isu tentang kemampuan organism dalam mengurangi dampak global warming dapat dikembangkan pula dengan penelitian, misalnya dengan mencari tahu sebaran dan sekaligus seberapa besar kemampuan dari organism laut untuk mengambil dan menghasilkan oksigen. Tentunya akan sangat bermanfaat sekali bagi berbagai kalangan.







Sumber :
http://teenforgreen.blogspot.com/ http://id.wikipedia.org/wiki/Terumbu_karang
http://id.wikipedia.org/wiki/Fitoplankton
http://www.nytimes.com/2007/05/01/business/01plankton.html?ref=science
http://id.wikipedia.org/wiki/Alga
http://www.scribd.com/doc/29838613/PADANG-LAMUN
http://alinur.wordpress.com/2009/06/04/pentingnya-world-ocean-conference-woc-bagi-indonesia/