HIDROLOGI (AIRTANAH)

air tanah hidrologi
http://www.scribd.com/doc/33071825/Air-Tanah

ANGKATA KERJA

Konsep dan definisi angkatan kerja yang digunakan mengacu kepada The Labor Force Concept yang disarankan oleh International Labor Organization (ILO). Konsep ini membagi penduduk usia kerja (digunakan 15 tahun ke atas) dan penduduk bukan usia kerja (kurang dari 15 tahun).

Selanjutnya penduduk usia kerja dibagi menjadi dua kelompok, yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.

Khusus untuk angkatan kerja meliputi antara lain :
a. Bekerja
b. Punya Pekerjaan tapi sementara tidak bekerja
c. Mencari Pekerjaan (pengangguran terbuka)

Mulai Tahun 2005, SAKERNAS dilaksanakan secara semester I (bulan Pebruari) dan Semester II (bulan Agustus). Survei tersebut dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik di seluruh Indonesia.

Gambar Sakernas Provinsi Jambi tahun 2015


Sumber utama data ketenagakerjaan adalah Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). Survei ini khusus dirancang untuk mengumpulkan informasi/ data ketenagakerjaan. Pada beberapa survei sebelumnya, pengumpulan data ketenagakerjaan dipadukan dalam kegiatan lainnya, seperti Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), Sensus Penduduk (SP), dan Survei Penduduk Antar Sensus (Supas). Sakernas pertama kali diselenggarakan pada tahun 1976, kemudian dilanjutkan pada tahun 1977 dan 1978. Pada tahun 1986-1993, Sakernas diselenggarakan secara triwulanan di seluruh provinsi di Indonesia, sedangkan tahun 1994 - 2001, Sakernas dilaksanakan secara tahunan yaitu setiap bulan Agustus. Sejak tahun 2002 hingga sekarang, di samping Sakernas tahunan dilakukan pula Sakernas Triwulanan. Sakernas Triwulanan ini dimaksudkan untuk memantau indikator ketenagakerjaan secara dini di Indonesia, yang mengacu pada KILM (the Key Indicators of the Labour Market) yang direkomendasikan oleh ILO (the International Labour Organization).

Hasil Sakernas tahunan pada 2003 disajikan menurut provinsi karena jumlah sampel yang mencukupi (67.072 rumah tangga). Inflation factor yang digunakan dalam penghitungan angka final hasil Sakernas 2003 didasarkan pada total penduduk Indonesia berumur 0 tahun ke atas per provinsi hasil proyeksi penduduk.

Sejak Sakernas 2001, konsep status pekerjaan dan pengangguran mengalami perluasan dan penyempurnaan. Status pekerjaan yang pada Sakernas 2000 hanya 5 kategori, mulai tahun 2001 ditambahkan kategori baru yaitu: pekerja bebas di pertanian dan pekerja bebas di non pertanian. Selain itu, dalam rangka menyesuaikan dengan konsep ILO, konsep Pengangguran Terbuka diperluas yaitu di samping mencakup penduduk yang aktif mencari pekerjaan, mencakup pula kelompok penduduk yang sedang mempersiapkan usaha/pekerjaan baru, dan kelompok penduduk yang tidak mencari pekerjaan, karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan serta kelompok penduduk yang tidak aktif mencari pekerjaan dengan alasan sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.

Penduduk Usia Kerja adalah Penduduk yang berumur 15 tahun ke atas.

Angkatan Kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran.

Pengangguran terbuka adalah seseorang yang termasuk kelompok penduduk usia kerja yang tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan.

Setengah penganggur adalah orang yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu yang masih mencari pekerjaan atau yang masih bersedia menerima pekerjaan lain. Setengah pengangguran yang dimaksudkan defenisi itu disebut sebagai setengah pengangguran terpaksa. Sedangkan orang yang bekerja dibawah 35 jam per minggu namun tidak mencari pekerjaan dan tidak bersedia menerima pekerjaan lain dikelompokkan sebagai setengah pengangguran sukarela.

Tingkat pengangguran = Tingkat pengangguran terbuka ( Pengangguran terbuka dibagi Angkatan kerja dikali 100)+ Tingkat pengangguran setengah pengangguran terpaksa

Bekerja adalah melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan dan lamanya bekerja paling sedikit 1 jam secara terus menerus dalam seminggu yang lalu (termasuk pekerja keluarga tanpa upah yang membantu dalam suatu usaha/kegiatan ekonomi).


sumber

kepri-dev.bps.go.id

TEORI FERTILITAS

Variabel Antara Davis and Black



Kerangka Analisa Sosiologis tentang Fertilitas: Freedman




1. Davis dan Blake: Variabel Antara

Kajian tentang fertilitas pada dasarnya bermula dari disiplin sosiologi. Sebelum disiplin lain membahas secara sistematis tentang fertilitas, kajian sosiologis tentang fertilitas sudah lebih dahulu dimulai. Sudah amat lama kependudukan menjadi salah satu sub-bidang sosiologi. Sebagian besar analisa kependudukan (selain demografi formal) sesungguhnya merupakan analisis sosiologis. Davis and Blake (1956), Freedman (1962), Hawthorne (1970) telah mengembangkan berbagai kerangka teoritis tentang perilaku fertilitas yang pada hakekatnya bersifat sosiologis.
Dalam tulisannya yang berjudul “The Social structure and fertility: an analytic framework (1956)” Kingsley Davis dan Judith Blake melakukan analisis sosiologis tentang fertilitas. Davis and Blake mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas melalui apa yang disebut sebagai “variabel antara” (intermediate variables).
Menurut Davis dan Blake faktor-faktor sosial, ekonomi dan budaya yang mempengaruhi fertilitas akan melalui “variabel antara”. Ada 11 variabel antara yang mempengaruhi fertilitas, yang masing-masing dikelompokkan dalam tiga tahap proses reproduksi sebagai berikut:

Menurut Davis dan Blake, setiap variabel diatas terdapat pada semua masyarakat. Sebab masing-masing variabel memiliki pengaruh (nilai) positip dan negatipnya sendiri-sendiri terhadap fertilitas. Misalnya, jika pengguguran tidak dipraktekan maka variabel nomor 11 tersebut bernilai positip terhadap fertilitas. Artinya, fertilitas dapat meningkat karena tidak ada pengguguran. Dengan demikian ketidak-adaan variabel tersebut juga menimbulkan pengaruh terhadap fertilitas, hanya pengaruhnya bersifat positip. Karena di suatu masyarakat masing-masing variabel bernilai negatip atau positip maka angka kelahiran yang sebenarnya tergantung kepada neraca netto dari nilai semua variabel. Lebih lanjut dalam artikelnya Davis dan Blake menguraikan tetang pengaruh pola-pola institusional terhadap fertilitas melalui 11 variabel antara yang telah dikemukakan dimuka.




2. Ronald Freedman: Variabel Antara dan Norma Sosial


Menurut Freedman variabel antara yang mempengaruhi langsung terhadap fertilitas pada dasarnya juga dipengaruhi oleh norma-norma yang berlaku di suatu masyarakat. Pada akhirnya perilaku fertilitas seseorang dipengaruhi norma-norma yang ada yaitu norma tentang besarnya keluarga dan norma tentang variabel antara itu sendiri. Selanjutnya norma-norma tentang besarnya keluarga dan variabel antara di pengaruhi oleh tingkat mortalitas dan struktur sosial ekonomi yang ada di masyarakat. Kerangka analisis fertilitas yang dikemukakan oleh Freedman digambarkan dalam Bagan 1.

Menurut Freedman intermediate variables yang dikemukakan Davis-Blake menjadi variabel antara yang menghubungkan antara “norma-norma fertilitas” yang sudah mapan diterima masyarakat dengan jumlah anak yang dimiliki (outcome). Ia mengemukakan bahwa “norma fertilitas” yang sudah mapan diterima oleh masyarakat dapat sesuai dengan fertilitas yang dinginkan seseorang. Selain itu, norma sosial dianggap sebagai faktor yang dominan. Secara umum Freedman mengatakan bahwa:


“Salah satu prinsip dasar sosiologi adalah bahwa bila para anggota suatu masyarakat menghadapi suatu masalah umum yang timbul berkali-kali dan membawa konsekuensi sosial yang penting, mereka cenderung menciptakan suatu cara penyelesaian normatif terhadap masalah tersebut. Cara penyelesaian ini merupakan serangkaian aturan tentang bertingkah laku dalam suatu situasi tertentu, menjadi sebagian dari kebudayaannya dan masyarakat mengindoktrinasikan kepada para anggotanya untuk menyesuaikan diri dengan norma tersebut baik melalui ganjaran (rewards) maupun hukuman (penalty) yang implisit dan eksplisit. ... Karena jumlah anak yang akan dimiliki oleh sepasang suami isteri itu merupakan masalah yang sangat universal dan penting bagi setiap masyarakat, maka akan terdapat suatu penyimpangan sosiologis apabila tidak diciptakan budaya penyelesaian yang normatif untuk mengatasi masalah ini”

Jadi norma merupakan “resep” untuk membimbing serangkaian tingkah laku tertentu pada berbagai situasi yang sama. Norma merupakan unsur kunci dalam teori sosiologi tentang fertilitas. Dalam artikelnya yang berjudul “Theories of fertility decline: a reappraisal” (1979) Freedman juga mengemukakan bahwa tingkat fertilitas yang cenderung terus menurun di beberapa negara pada dasarnya bukan semata-mata akibat variabel-variabel pembangunan makro seperti urbanisasi dan industrialisasi sebagaimana dikemukakan oleh model transisi demografi klasik tetapi berubahnya motivasi fertilitas akibat bertambahnya penduduk yang melek huruf serta berkembangnya jaringan-jaringan komunikasi dan transportasi. Menurut Freedman, tingginya tingkat modernisasi tipe Barat bukan merupakan syarat yang penting terjadinya penurunan fertilitas.

Pernyataan yang paling ekstrim dari suatu teori sosiologi tentang fertilitas sudah dikemukakan oleh Judith Blake. Ia berpendapat bahwa “masalah ekonomi adalah masalah sekunder bukan masalah normatif”; jika kaum miskin mempunyai anak lebih banyak daripada kaum kaya, hal ini disebabkan karena kaum miskin lebih kuat dipengaruhi oleh norma-norma pro-natalis daripada kaum kaya.


sumber

Mundiharno.____.BEBERAPA TEORI FERTILITAS.____________. www.akademika.or.id

MENGAPA BERORGANISASI???

Organisasi oh organisasi........

Mulai dari BEM,HMJ,UKM

organisasi berbau islam dari HMI,KMNU,IMM,PMII,KAMMI

dan banyak sekali organisasi mahasiswa tempat kita untuk beraktivitas selain kesibukan kita dalam kuliah,,

"hmmmm,,ngapain sih pakek ribet ikut kegiatan kayak gitu?tugas kuliah uda banyak banget,males banget ikut gituan"

"gak penting ikut gituan,capek,,,kuliah yang paling penting."

"daripada ikutan kayak gitu mending tidur dirumah "

banyak sekali komentar yang mungkin timbul dari pikiran kita,

setiap orang pasti juga berbeda-beda tanggapannya,

akan teteapi kalian tau gak kalok sebenernya aktiv di organisasi itu sangat penting.

Emang apa sih pentingnya???

opo yohhhhh -_____- wkwkwk

gini ceritanya..........


.............beberapa jam yang lalu.......


ceritanya ini pas acara pelantikan pengurus HMI,,,

Inti yang diceritakan Pak Lutfi (dengan bahasa dan tambahan dari penulis)

Jadi saya abis ketemu alumni kemaren. namanya (mas jonchik apa mas jokchik penulis lupa wkwkkwk)

beliau angkatan 90,lulus 10 tahun. Dulu mantan ketua BEM.

Skarang menjadi orang penting di PAN (Jabatannya lupa niihhhhh penulis -______-)

IP nya tiiiiiiiiiiiiiiiit (disensor)

beliau ditanya sama pak lutfi

"apa pentingnya berorganisasi?"

Beliau menjawab,,


"hmmmm jadi berorganisasi itu penting sekali"

1. Sebagai Pelatihan Leadership

apa itu leadership??nggak tau ya?wuu semprull

jadi aku browsing aku temuin nih

"leadership adalah proses mempengaruhi orang lain yang mana seorang pemimpin mengajak anak buahnya secara sekarela berpartisipasi guna mencapai tujuan organisasi."

kita didalam organisasi akan dilatih untuk menjadi seorang yang memiliki jiwa kepemimpinan.

Tujuan kita adalah mengembangkan diri kita,terutama kemampuan softskill kita, termasuk didalamnya kemampuan leadership.

Dalam dunia kerja, EQ akan lebih menentukan daripada IQ.
apabila diukur dalam statistik, 70% EQ akan menunjang keberhasilan,
sedangkan IQ hanya memiliki nilai 30%

seperti kata anis basweden bahwa IP hanya tiket untuk mendaftar, namun bukan tiket untuk menuju keberhasilan.

jadi , sebuah kesuksesan itu tidak semata mata ditentukan oleh berapa besar IP kita,,namun lebih kepada seberapa kemampuan EQ atau softskill kita.


2. Networking

Dalam berorganisasi kita akan mengenal banya sekali teman dari kakak angkatan maupun dari alumni.

hal ini sangat penting sekali karena nantinya dapat juga mempermudah dunia kerja kita.

3. Pendewasaan diri

kita akan banyak belajar tentang arti dari tanggung jawab. Tanggung jawab dalam ini dimulai dengan sebuah pengabdian terhadap organisasi tersebut, untuk dapat melaksanakan tugas yang diberikan.

hal itu akan melatih diri kita untuk menjadi seorang yang tahu mana yang harus dilakukan dahulu, dan tentunya kita aka lebih dewasa dalam berfikir dan bertindak.

4. Belajar Keragaman

Banyak sekali orang dengan karakter yang berbeda pula. Ada yang cenderung keras ,ada yang santai,, semua itu ada dalam suatu organisasi.

Disana kita akan belajar untuk melihat keragaman itu dan belajar untuk menyikapinya dengan bijaksana.


masih banyak lagi pentingnya organisasi,

namun karena saya yang tidak memperhatikan karena ngantuk,wkwkkwkw

jadi hanya segitu yang bisa saya tulis :D

ohowhow

BUDAYA JAWA DAN ISLAM DI SEKITAR KITA















Sebagai Tugas Mata Kuliah Agama Islam

Saya bertempat tingal di Plosokuning. Di kampung tersebut terdapat sebuah masjid tua yang merupakan pusat kegiatan keagamaan sekaligus kebudayaan di kampung saya. Masjid tersebut bernama masjid Pathok Negara Plosokuning. Sejarah Masjid Pathok Negoro Plosokuning bermula dari riwayat Amangkurat IV sebagai Raja Mataram Islam (Kartosura akhir) yang juga bergelar Sunan Prabu yang memerintah pada tahun 1719-1727. Beliau memiliki tiga orang putra yakni, Raden Mas Ichsam, Pangeran Adipati Anom dan Pangeran Mangkubumi.

Sesudah Sultan Hamengkubuwana I yang memerintah pada tahun 1755-1792. Wafat, kemudian digantikan oleh Hamengkubuwana II yang memerintah pada tahun 1792-1812. Lalu diganti oleh Hamengkubuwono III yang memerintah pada tahun 1812-1814. Beliau adalah ayahanda pangeran Diponegoro. Pada masa pemerintahan Sultan inilah Masjid Besar Plosokuning didirikan, yaitu ketika Kyai Raden Mustafa (Hanafi I) menjadi Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berkedudukan di Plosokuning.

Nama Plosokuning sendiri diambil dari nama pohon Ploso yang mempunyai daun berwarna kuning. Dulu, letak pohon ini kira-kira 300 meter sebelah timur masjid, namun sekarang sudah tidak ada. Satu hal yang menarik dari desa ini. Hingga sekarang daerah di sekitar masjid, hanya ditempati oleh orang-orang yang masih memiliki garis keturunan dengan Kyai Mursodo. Daerah di sekitar masjid dikenal dengan sebutan daerah Mutihan yang mempunyai arti sebagai tempat tinggal orang-orang putih atau santri. Daerah di sekitar masjid yang disebut daerah Mutihan juga disebut sebagai daerah Ploso Kuning Jero, yang hanya ditempati oleh orang yang mempunyai ikatan darah dengan pendiri masjid. Sedangkan daerah yang agak jauh dari masjid disebut Ploso Kuning Jobo.

Masjid Pathok Negoro didirikan setelah pembangunan masjid Agung Yogyakarta, sehingga bentuk masjid tersebut meniru masjid Agung sebagai salah satu usaha legitimasi masjid milik Kasultanan Yogyakarta. Persamaan ini juga didukung oleh beberapa komponen yang ada di dalamnya seperti mihrob, kentongan dan beduk. Masjid Pathok Negoro mempunyai ciri beratap tajuk dengan tumpang dua. Mahkota masjid juga mempunyai kesamaan yakni terbuat dari tanah liat dan atap masjid terbuat dari sirap.
Perbedaan jumlah tumpang menandakan bahwa masjid pathok negoro lebih rendah kedudukannya dibandingkan dengan masjid Agung Yogyakarta yang mempunyai atap tajuk bertumpang tiga. Ciri-ciri lain dari kekhasan masjid Pathok Negoro ini adalah pada masing-masing masjid terdapat kolam keliling, pohon sawo kecik dan terdapat mimbar yang ada di dalam masjid.

Di depan masjid terdapat gapura dan dikelilingi kolam dengan kedalaman 3 meter. Setiap orang yang akan memasuki masjid harus bersuci terlebih dahulu di kolam itu. Saat ini kolam tersebut juga digunakan untuk memelihara ikan serta untuk mencuci kaki sebelum masuk ke masjid.

Masjid ini juga masih menganut adat lama dimana adzan pada saat sholat Jum'at dilakukan 2 kali. Dahulu sekitar tahun 1950 adzan pertama dilakukan oleh lima orang sekaligus dan adzan kedua dilakukan salah seorang dari mereka. Begitu juga dengan khotbah dilakukan dengan menggunakan bahasa Arab. Baru pada tahun 1960 adat tersebut berubah, muadzin yang semula berjumlah 5 orang menjadi 2 orang, tetapi adzan tetap dilakukan 2 kali. Khotbah juga diganti dengan menggunakan bahasa Jawa. Pada bagian pintu gerbang, masjid ini memiliki pintu gerbang yang berundak. Pada tiga undakan pertama berarti Islam itu terdiri dari 3 elemen yakni Iman, Islam dan ikhsan. Pada 5 undakan kedua menunjukkan bahwa rukun Islam itu ada 5 sedangkan pada 6 undakan ketiga menunjukkan bahwa rukun iman itu ada 6. Masjid tersebut sekarang menjadi bagian dari pusaka Jogjakarta sebagai warisan Kraton Jogjakarta.

Pada momen-momen tertentu, di masjid ini juga dilaksanakan kegiatan keagamaan yang diikuti oleh keluarga kraton, semisal tradisi Bukhorenan. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari tradisi keraton yang lestari hingga sekarang. Maksud dan tujuannya tidak lain adalah untuk mengkaji ajaran dan tuntunan Nabi dengan membaca dan memahami hadist-hadist yang terdapat dalam Sahih Bukhari.

Tradisi lainnya adalah peringatan Maulid Nabi. Pada setiap tanggal 12 Rabi’ul awwal di masjid tersebut digunakan untuk memperingatinya. Dilantunkan shalawat-shalawat nabi diiringi bunyi rebana pada malam tanggal 12. Setelah itu biasanya diisi ceramah oleh ulama setempat atau dari ulama dari luar Plosokuning.

Selanjutnya adalah menyambut satu sura atau satu muharram. Biasanya ada ritual kirab mengelilingi kampung. Prosesi ritual kirab berawal dari halaman masjid dengan melantunkan shalawat nabi dan tembang bernuansa Islam. Setelah memperoleh restu dari sesepuh masjid, kirab pun dimulai dengan berjalan sejauh 4 kilometer. Pasukan berkuda mengambil posisi terdepan. Selama kirab tak seorangpun diperkenankan berbicara. Tidak hanya melakukan kirab, masjid Plosokuning juga melakukan ritual bersih kolam. Puluhan warga berlomba-lomba membersihkan kolam yang ada disekitar masjid dan menangkap ikan yang ada didalamnya.

Pembahasan Penulis;
Penggunaan kentogan dan beduk ini berawal dari budaya jawa oleh wali sanga, Wali sangga menggunakannya untuk mengajak masyarakat untuk datang ke masjid untuk Shalat berjamaah. Makna filosofis dari kentongan dan beduk tersebut adalah, kentongan bunyinya adalah “thong thong thong” yang maknanya mesjide kothong (artinya masjidnya kosong), dan beduk bunyinya adalah “ dheng dheng dheng” yang maknanya mesjide sedheng (artinya masjidnya cukup). Kentogan dan Beduk bukan termasuk budaya Islam, akan tetapi merupakan budaya Jawa yang telah digunakan oleh Wali sanga sebagai media syi’ar Islam. Menurut saya hal itu bukan suatu masalah besar. Kita boleh-boleh saja menggunakan media apapun untuk mengajak orang lain ke dalam kebaikan.
Untuk gapura, merupakan ciri dari sebuah candi. Sebelum Islam datang, penduduk di Jawa memang beragama Hindu-Budha. Sehingga corak masjid masih mengadopsi arsitektur candi. Kata gapura sendiri diambil dari bahasa arab yaitu Ghafura, yang maknanya pengampunan. Maksudnya adalah kita pergi kemasjid adalah untuk meminta pengampunan dari Allah. Makna lain dari 2 kolam di masjid tersebut adalah ini apabila kita menuntut ilmu haruslah sedalam-dalamnya.

Selanjutnya adalah tradisi Maulid Nabi. Memang Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seremoni peringatan hari lahirnya. Kita belum pernah menjumpai suatu hadits/nash yang menerangkan bahwa pada setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal (sebagian ahli sejarah mengatakan 9 Rabiul Awwal), Rasulullah SAW mengadakan upacara peringatan hari kelahirannya. Bahkan ketika beliau sudah wafat, kita belum pernah mendapati para shahabat r.a. melakukannya. Tidak juga para tabi`in dan tabi`it tabi`in.
Menurut Imam As-Suyuthi, tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah saw ini dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (l. 549 H. - w.630 H.). Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini. Intinya menghimpun semangat juang dengan membacakan syi’ir dan karya sastra yang menceritakan kisah kelahiran Rasulullah SAW.
Maka sejak itu ada tradisi memperingati hari kelahiran Nabi SAW di banyak negeri Islam. Inti acaranya sebenarnya lebih kepada pembacaan sajak dan syi`ir peristiwa kelahiran Rasulullah SAW untuk menghidupkan semangat juang dan persatuan umat Islam dalam menghadapi gempuran musuh. Lalu bentuk acaranya semakin berkembang dan bervariasi.

Untuk hukum merayakan kelahiran Rasulullah tersebut, menurut saya boleh-boleh saja. Seperti Rasulullah SAW merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setia hari Senin Nabi SAW berpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ” : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم

“Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.” (H.R. Muslim)

Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Hadits itu menerangkan bahwa pada setiap hari senin, Abu Lahab diringankan siksanya di Neraka dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Hal itu dikarenakan bahwa saat Rasulullah saw lahir, dia sangat gembira menyambut kelahirannya sampai-sampai dia merasa perlu membebaskan (memerdekakan) budaknya yang bernama Tsuwaibatuh Al-Aslamiyah.

Jika Abu Lahab yang non-muslim dan Al-Qur’an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW?
Kemudian untuk peringatan satu Muharram adalah wujud syukur karena masih diberi kesehatan dan umur oleh Allah di tahun yang baru tersebut. Ritual bersih kolam merupakan bentuk lain manusia membersihkan hati memasuki tahun yang baru. Ikan hasil penangkapan tersebut dilelang kepada masyarakat. Hasil dari leleng tersebut digunakan untuk melestarikan masjid Pathok Negara.


Sumber :
www.krjogja.com
www.nu.or.id

PEMAHAMAN KONSEP-KONSEP WILAYAH

1. PENDAHULUAN
Apakah wilayah itu ? Apakah Ilmu wilayah itu? Apakah manfaat mempelajari Ilmu Wilayah? Wilayah merupakan kata yang sulit untuk didefinisikan.

Asep Mulyadi dalam Sebuah Pemahaman Tentang Wilayah menyatakan bahwa dalam ilmu wilayahpun tidak secara tegas dinyatakan apa yang dimaksud dengan wilayah. Bahkan pelopor ilmu wilayah Walter Isard tidak secara tegas untuk menyatakan apa yang dimaksud dengan wilayah.

Ilmu Wilayah merupakan ilmu yang sangat penting dalam Ilmu Geografi. Ilmu wilayah merupakan bagian dari Ilmu Geografi.

Geografi di Indonesia mempelajari geosfera serta komponen-komponen secara terpadu, holistik dan sistematik dalam konteks keruangan, lingkungan serta kompleks wilayah untuk kepentingan Negara, peradaban manusia dan ilmu pengetahuan atau pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan (Sugeneg Martopo,1995)

Ilmu wilayah adalah ilmu yang mempelajari wilayah sebagai suatu sistem, khususnya yang menyangkut hubungan interaksi dan interdependensi antara subsistem utama ecosystem dan subsistem utama socialsystem , serta kaitannya dengan wilayah lainnya dalam membentuk suatu kesatuan wilayah guna pembangunan termasuk penjagaan kelestarian wilayah tersebut. (Sutami, 1977)

Dari kedua definisi diatas ternyata Geografi di indonesia dan Ilmu Wilayah memiliki tujuan yang sama , geografi mempelajari geosfer dan seluruh komponen didalamnya dengan ketiga pendekatannya untuk manusia, ilmu pengetahuan dan pembangunan berwawasan lingkungan.

Kemudian untuk Ilmu Wilayah juga berfungsi dalam pembangunan wilayah termasuk penjagaan kelestarian lingkungan. Keduanya yaitu Geografi maupun Ilmu Wilayah selalu memperhatikan lingkungan dalam melaksanakan pembangunan. Sebelum melakukan perencanaan pembangunan kita harus terlebih dahulu mengenali wilayah dari suatu daerah tersebut. Untuk mengenali suatu wilayah perlu dipelajari Ilmu Wilayah, yang seperti definisi diatas bahwa ilmu wilayah dipelajari untuk tujuan pengembangan daerah dan pelestarian lingkungan hidup. Jadi dalam melakukan pembangunan perlu diperhatikan kesesuaian dengan lingkungannya. Misalnya suatu daerah persawahan yang subur dibangun menjadi perumahan ataupun pabrik-pabrik. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan tujuan Ilmu Wilayah karena pembangunan rumah tentunya akan merusak tanah subur tersebut dan pembangunan pabrik akan menyebabkan kerusakan lingkungan apabila limbah tidak dapat dikelola dengan baik.

Gerakan ilmu wilayah muncul sekitar tahun 1950. Gerakan ini dipelopori oleh water isard untuk menghasilkan lebih banyak dasar kuantitatif dan analitis pada masalah geografi, sebagai tanggapan atas pendekatan kualitatif pada program geografi tradisional. Ilmu wilayah berisi pengetahuan bagaimana dimensi keruangan memiliki peran yang sangat penting seperti pengelolaan sumberdaya, ekonomi regional, perencanaan wilayah dan kota, ekologi muka bumi dan lain-lain.(dari berbagai sumber).

Foto Water Isard, Penemu Regional Science


Untuk melakukan suatu perencanaan pembangunan diperlukan studi yang komprehensif tentang wilayah.

2. PENGERTIAN WILAYAH
Wilayah adalah daerah di permukaan bumi yang sebagai kesatuan geografis meliputi semua unsur di dalamnya yang memiliki batas-batas administrasi tertentu sesuai dengan kesepakatan.

Batasan tentang wilayah yaitu sebagai permukaan bumi yang memiliki kesamaan yang berdasarkan unsur-unsur tertentu yang dipilih. (Djenen, dikutip oleh J.E Sinatala, 1979)

Dari batasan diatas dapat diketahui bahwa wilayah memiliki bermacam-macam cakupan, misalnya wilayah berdasarkan batas administrasi terdapat wilayah provinsi, kabupaten, kecamatan dan lainnya , wilayah berdasarkan geografis misalnya daratan, lautan, pegunungan dan lain-lain, atau wilayah berdasarkan jumlah penduduk yaitu penduduk desa dan penduduk kota.

Wilayah dapat dibagi menjadi dua yaitu wilayah formal dan wilayah fungsional. Wilayah formal adalah wilayah yang memiliki ciri dan sifat yang sama namun tertutup sehingga kegiatan didalamnya statis tidak terjadi interaksi dengan daerah lain. Kesamaan dalam wilayah tersebut berupa aspek fisik seperti bentanglahan, keadaan ekonomi, social budaya dan lain- lain. Misalnya di daerah pedesaan karena terdapat kesamaan berupa keadaan fisik berupa daerah yang belum terbangun sehingga banyak dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Wilayah fungsional adalah wilayah yang memperhatikan interaksi keruangan, yaitu interaksi antara suatu komponen dengan komponen lain misalnya suatu kota tercipta dengan dihubungkan oleh jalan yang menghubungkan suatu kota satu dengan kota lain, atau terciptanya hubungan komunikasi antar kota.

Dalam memahami wilayah, terdapat dua cara pandang yaitu,
a. Pandangan subyektif
Orang dengan pandangan subyektif meyakini bahwa wilayah hanya sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan. Wilayah hanya berupa angan-angan dan buah pikiran yang berfungsi hanya sebagai alat bantu untuk memahami dalam mempelajari bumi.
b. Pandangan obyektif
Orang dengan pandangan obyektif menganggap bahwa wilayah adalah nyata dan benar-benar ada pada permukaan bumi, menurut apa yang mereka lihat tanpa campurtangan dari pikiran.

3. KONSEP-KONSEP DALAM ILMU WILAYAH
a. Daerah
Daerah adalah bagian permukaan bumi yang memiliki batas - batas tertentu. Batas -batas tersebut biasanya merupakan batas yang telah ditentukan oleh pemerintah atau telah ditentukan oleh aturan perundang-undangan. Contoh daerah misalnya Daerah Provinsi, Daerah Kabupaten dan Daerah Kecamatan.

b. Kawasan
Kawasan adalah bagian permukaan bumi yang memiliki fungsi lindung dan budidaya.
Fungsi lindung disini maksunya yaitu melindungi lingkungan hidup meliputi lingkungan biotik, lingkungan abiotik dan lingkungan cultural. Lingkungan biotik misalnya tumbuhan, hewan, lingkungan aboitik misalnya tanah, batuan, cahaya, suhu, kelembaban, sedangkan lingkungan cultural misalnya kebiasaan manusia.
Fungsi budidaya maksudnya adalah memiliki fungsi melestarikan atau membudidayakan suatu potensi dari alam ataupun potensi buatan manusia.
Contoh kawasan adalah kawasan budidaya, kawasan perdagangan, kawasan pariwisata, kawasan industri, kawasan hutan lindung dan lain-lain.

c. Ruang
Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara, termasuk ruang didalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. (UU No 26 tahun 2007).
Ruang biasanya dicirikan dengan dibatasi oleh sekat atau dinding. Ruang memiliki fungsi tertentu, misalnya Ruang makan digunakan untuk makan, Ruang Kuliah digunakan untuk kuliah dan sebagainya.

d. Sistem
Sistem adalah suatu bagian-bagian yang teratur, saling berinteraksi dan saling tergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan tertentu.
Apabila subsistem atau bagian dari system itu tidak bekerja dengan baik atau bahkan mati, maka akan terjadi gangguan dari kerja sistem tersebut. Misalnya apabila manusia sebagai socialsystem dengan tumbuhan sebagai ecosystem tidak saling berinteraksi, maka tidak akan tercipta suatu kesatuan wilayah. Hal tersebut karena antara ecosystem dengan socialosystem saling membutuhkan.

e. Pendekatan sistem
Proses penerapan metode ilmiah dalam pemecahan masalah berdasarkan pemikiran sistematik, yang memandang segala sesuatu bersegi banyak (multi dimensi), penuh kompleksitas dan selalu merupakan bagian dari system yang lebih luas atau lebih besar. (Eko Budihardjo,1995)

f. Interaksi antarwilayah
Interaksi antarwilayah adalah suatu keterkaitan dan ketergantungan suatu wilayah terhadap wilayah lain akibat dari kebutuhan suatu wilayah terhadap wilayah lainnya. Hubungan ini karena suatu wilayah yang mungkin tidak memiliki apa yang dimiliki oleh wilayah lain sehingga menciptakan suatu hubungan untuk saling membantu satu sama lain. Misalnya adalah interaksi antara desa dan kota, desa yang memiliki potensi sebagai daerah pertanian sedangkan kota memiliki potensi sebagai daerah perdagangan dan industry. Disini terjadi interaksi antara desa dan kota. Kota akan membutuhkan desa sebagai penyedia dari bahan baku sedangkan desa membutuhkan kota untuk pemasaran bahan bakunya. Scara nyata, desa menghasilkan padi, sedangkan kota karena tidak memiliki lahan yang sesuai untuk pertanian maka kota tidak dapat menghasilkan padi. Namun sebaliknya, desa tidak dapat memasarkan hasil padinya ke desa saja, sehingga desa menjualnya ke kota. Disini terjadi suatu interaksi yang saling membutuhkan antara desa dan kota.

g. Wilayah homogen
Wilayah homogen adalah membatasi suatu wilayah berdasarkan faktor-faktor yang dominan pada wilayah tersebut dan sifatnya homogen, sebaliknya untuk faktor-faktor yang tidak dominan sifatnya heterogen.
Dengan menggunakan konsep ini maka akan dapat diketahui kekhasan dari suatu wilayah itu. Setelah diketahuinya kekhasan atau potensi sumberdaya yang dominan di daerah tersebt, maka dapat dijadikan sebagai penentuan dari basis ekonomi wilayah tersebut. Misalnya Surabaya memiliki basis ekonomi sebagai kota industry karena memiliki jaringan jalan yang besar dan memadai yang menghubungkan dengan kota-kota lain, kemudian memiliki pelabuhan laut yang besar sehingga dengan keadaan fisik yang strategis tersebut Surabaya dapat dikembangkan sebagai kota industri besar, hal ini berbeda dengan di Yogyakarta. Yogyakarta tidak cocok sebagai basis ekonomi industri, karena Yogyakarta memiliki ciri khas tersendiri yaitu sebagai kota sejarah, kota budaya dan kota pendidikan. Yogyakarta lebih cocok untuk dikembangkan sebagai kota pariwisata. Untuk industri mungkin akan lebih cocok dikembangkan industri kecil oleh masyarakat sendiri. Apabila dipaksakan untuk dikembangkan sebagai industri besar, maka ini akan melunturkan Yogyakarta sebagai kota pariwisata, budaya maupun pendidikan karena dengan adanya industri besar akan menyebabkan adanya degradasi kualitas lingkungan.

h. Entropi
Entropi adalah keadaan yang terjadi suatu ketidakteraturan suatu sistem atau terjadinya suatu penurunan energi dari suatu sistem.
Entropi terjadi pada sistem yang tertutup yang tidak berinteraksi atau tidak bertukar materi dengan lingkungan. Namun sistem itu sebenarnya tidak benar-benar tertupup apabila dilihat dalam kenyataan. Hal ini biasa terjadi untuk sistem buatan manusia. Misalnya adalah terjadinya arus migrasi dari desa ke kota. Desa memiliki entropi yang rendah karena cenderung homogen sedangkan kota memiliki entropi yang tinggi karena cenderung heterogen. Daerah yang heterogen karena memiliki banyak keragaman dan ketidakteraturan sehingga memiliki entropi yang tinggi.

i. Aglomerasi
Aglomerasi adalah pengelompokan suatu individu atau manusia di suatu daerah tertentu untuk mencapai keuntungan bersama. Contohnya adalah terjadinya aglomerasi di daerah Malioboro, yaitu Malioboro menjadi suatu kawasan perdagangan. Disana terdapat banyak took-toko menjual berbagai macam dagangan mulai dari makanan, pakaian, hiburan, jasa dan lain-lain. Dengan adanya Malioboro menarik seseorang datang menciptakan suatu lahan pekerjaan baru, misalnya pedagang asongan, penjual perak, penjual baju maupun assesoris di emperan malioboro, tukang parkir dan banyak lahan pekerjaan lain.
Contoh lain dari aglomerasi adalah, Yogyakarta merupakan kota pendidikan. Dengan menyandang sebagai kota pendidikan maka banyak sekali orang dari luar maupun dari dalam Yogyakarta datang ke Yogyakarta untuk sekolah atau kuliah. Efek dari hal tersebut adalah banyak berdiri universitas-universitas maupun sekolah sekolah baru, kemudian banyak terdapat kos, toko-toko rental pengetikan ataupun fotokopi untuk memenuhi kebutuhan dari para pelajar tersebut. Disini terjadi suatu aglomerasi akibat dari Yogyakarta sebagai kota Pendidikan.
Suatu aglomerasi akan menciptakan suatu interaksi sosial antar individu, misalnya interaksi antara penjual dengan pembeli di daerah malioboro, atau antara pelajar/mahasiswa dengan pemilik kos. Interaksi tersebut memberikan saling keuntungan antara keduanya dalam pemenuhan kebutuhan, atau saling terjadinya pertukaran informasi antara penjual satu dengan yang lainnya di malioboro juga antara pelajar yang satu dengan yang lainnya sebagai seorang pelajar di Yogyakarta.

j. Regionalisasi
Regionalisasi atau pewilayahan adalah kegiatan membagi seluruh atau sebagian permukaan bumi yang memiliki homogenitas yang dapat dibedakan dengan wilayah lainnya untuk tujuan tertentu dimana dalam prosesnya dipengaruhi oleh kriteria-kriteria atau unsur-unsur tertentu. (Petunjuk Praktikum Geografi Regional, 2009)

Dengan dilakukan regionalisasi akan mempermudah dalam mempelajari suatu wilayah, sehingga dapat diambil suatu kebijakan yang sesuai dengan keadaan wilayah tersebut terutama dalam pembangunan wilayah.
Sebagai contohnya dilakukan regionalisasi terhadap jumlah penduduk di seluruh provinsi di Indonesia. Dengan diketahui jumlah penduduk tersebut dapat diketahui kepadatan penduduknya dan dapat digunakan oleh pemerintah daerah untuk membuat suatu kebijakan. Misalnya masalah penekanan jumlah penduduk melalui program keluarga berencana, pemerataan penduduk melalui transmigrasi, pembukaan lapangan pekerjaan baru bagi penduduk pengangguran, dan lain-lain.

4. PENUTUP
Dari konsep-konsep diatas, secara umum dapat diketahui bahwa wilayah merupakan suatu bagian muka bumi yang memiliki suatu hal yang dapat dibedakan dengan wilayah lain dan memiliki batas-batas administrasi hasil dari kesepakatan.
Wilayah memiliki kemiripan definisi dengan Daerah dan Kawasan, sehingga perlu study secara komprehensif tentang wilayah untuk dapat memahami ketiga definisi tersebut.
Dengan mempelajari konsep wilayah dapat diketahui dengan jelas masalah-masalah yang terjadi terkait dengan wilayah.

5. DAFTAR PUSTAKA
Budihardjo, Eko. 1995. Pendekatan Sistem Dalam Tata Ruang dan Pembangunan Daerah Untuk Meningkatkan Ketahanan Nasional. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Hadiwerdoyo, Harinowo._____. Menjadikan Yogyakarta Sebagai Kota Wisata Medika._______ : www.apeksi.or.id

Mulyadi, Asep. ____. Sebuah Pemahaman Tentang Wilayah.__________ : file.upi.edu

Presiden Indonesia. 2007. Undang-Undang Non 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Jakarta : www.bkprn.org

Rusyana ._____ . Konsep Dasar Pewilayahan. Ciamis : www.scribd.com

Saputra, Erlis. S.Si., M.Si. 2009. Petunjuk Praktikum Geografi Regional. Yogyakarta : Program Studi Pengembangan Wilayah. Fakultas Geografi. UGM

____________ . 2009 . Konsep Wilayah dan Perencanaan Pembangunan. ________ : www.media-geo-chuy.blogspot.com

____________ . 2010 . Catatan Kuliah Ilmu Wilayah. Yogyakarta : __________

____________ . _____ . Geografi. ________ : www.id.wikipedia/org

____________ . _____ . ________ . _________ : www.penataanruang.net

BENTUKLAHAN ASAL PROSES SOLUSIOAL



A. Pengertian Bentuklahan Solusional
Bentuklahan solusioal adalah bentuklahan yang terbentuk akibat proses pelarutan batuan yang terjadi pada daerah berbatuan karbonat tertentu. Tidak semua batuan karbonat terbentuk topografi kars, walaupun factor selain batuannya sama. Beberapa syarat untuk dapat berkembangnya topografi kars sebagai akibat dari proses pelarutan adalah sebagai berikut,
1. Terdapat batuan yang mudah larut, yaitu batu gamping ataupun dolomite
2. Batu gamping dengan kemurnian tinggi
3. Mempunyai lapisan batuan yang tebal
4. Banyak terdapat diaklas/retakan
Batuan karbonat memiliki banyak diaklas akan memudahkan air untuk melarutkan CaCO3. Oleh karena itu batuan karbonat yang sedikit diaklas atau tidak memiliki diaklas , walaupun terletak pada wilayah dengan curah hujan yang tinggi, namun tidak terbentuk topografi karst.
5. Pada daerah tropis basah
Kondisi iklim mencakup ketersediaan curah hujan yang sedang hingga lebat yang bersamaan dengan temperature yang tinggi. Kondisi semacam ini menyebabkan pelarutan dapat berlangsung secara intensif.
6. Vegetasi penutup yang lebat
Vegetasi yang rapat akan menghasilkan humus, yang menyebabkan air di daerah LW memiliki PH rendah atau asam. Pada kondisi asam, air akan mudah melarutkan karbonat (CaCO3). Perpaduan antara batuan karbonat dengan banyak diaklas , curah hujan dan suhu tinggi, serta vegetasi yang lebat akan mendorong terbentuknya topografi kars.
Menurut Jenings (1971), karst merupakan suatu kawasan yang memiliki karakteristik relief dan drainase yang khas, terutama disebabkan oleh larutnya batuan yang tinggi oleh air.
Tektonisme menjadi factor prnrntu pula, sesar dan kekar menjadi factor yang amat penting. Menurut Faniran dan Jeje (1983), kekar-kekar yang terdapat pada batuan itu memberikan regangan mekanik, sehingga mempermudah gerakan air melalui batuan tersebut. Adanya kekar maupun sesar ini memudahkan perkembangan pelarutan didalam batuan.
B. Bentuklahan Kars
Bentuklahan yang terjadi pada daerah karst dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu bentuklahan negative dan bentuklahan positif.
1. Bentuklahan Negatif
Bentuklahan negative dimaksudkan bentuklahan yang berada dibawah rata-rata permukaan setempat sebagai akibat proses pelarutan, runtuhan maupun terban. Bentuklahan-bentuklahan tersebut antara lain terdiri atas doline, uvala, polye, cockpit, blind valley.
a. Doline
Doline merupakan bentuklahan yang paling banyak dijumpai di kawasan karst. Bahkan di daerah beriklim sedang, karstifikasi selalu diawali dengan terbentuknya doline tunggal akibat dari proses pelarutan yang terkonsentrasi. Tempat konsentrasi pelarutan merupakan tempat konsentrasi kekar, tempat konsentrasi mineral yang paling mudah larut, perpotongan kekar, dan bidang perlapisan batuan miring. Doline-doline tungal akan berkembang lebih luas dan akhirnya dapat saling menyatu. Secara singkat dapat dikatakan bahwa karstifikasi (khususnya di daerah iklim sedang) merupakan proses pembentukan doline dan goa-goa bawah tanah, sedangkan bukit-bukit karst merupakan bentukan sisa/residual dari perkembangan doline.
Doline merupakan suatu istilah yang mempunyai banyak sinonim antara lain, sink, sinkhole, cockpit, blue hole, swallow hole, ataupun canote. Doline itu sendiri telah diartikan oleh Monroe (1970) sebagai suatu ledokan atau lobang yang berbentuk corong pada batugamping dengan diameter dari beberapa meter hingga 1 km dan kedalamannya dari beberapa meter hingga ratusan meter. Karena bentuknya cekung, doline sering terisi oleh air hujan, sehingga menjadi suatu genangan yang disebut danau doline.
Berdasarkan genesisnya, doline dapat dibedakan menjadi 4 yaitu, doline solusi, doline terban, dan doline alluvial dan doline reruntuhan. (Faniran dan Jeje, 1983)
· Doline reruntuhan
Doline reruntuhan ini terjadi sebagai akibat dari proses pelarutan yang ada di bawah permukaan yang menghasilkan rongga bawah tanah. Rongga bawah tanah tersebut atapnya runtuh, hingga mengasilkan cekungan atau depresi dipermukaan. Doline seprti ini mempunyai lereng yang cukup curam-curam terdiri dari lapisan batuan yang keras dan menurun secara tiba-tiba.
· Doline Solusi
Doline solusi terjadi karena telah berlangsungnya proses solusi/pelarutan tanpa mendapat gangguan lain terhadap batuan. Doline seperti ini terjadi secara perlahan-lahan akibat larutnya batuangamping ke dalam tanah oleh air yang meresap melalui joint atau rekahan-rekahan pada daerah batugamping.
· Doline Terban
· Doline Alluvial
Doline aluvial ini terjadi sebagai akibat karena pelarutan oleh air yang mengalir yang kemudian menghilang ke dalam tanah. Adanya proses tersebut terbentuk doline aluvial.
b. Uvala
Uvala adalah cekungan tertutup yang luas yang terbentuk oleh gabungan dari beberapa danau doline. Uvala memiliki dasar yang tak teratur yang mencerminkan ketinggian sebelumnya dan karakteristik dari lereng doline yang telah mengalami degradasi serta lantai dasarnya tidak serata polje (Whittow, 1984)
c. Polje
Polje adalah ledokan tertutup yang luas dan memanjang yang terbentuk akibat runtuhnya dari beberapa goa, dan biasanya dasarnya tertutup oleh alluvium.
d. Blind Valley
Blind Valley adalah satu lembah yang mendadak berakhir/ buntu dan sungai yang terdapat pada lembah tersebut menjadi lenyap dibawah tanah.
2. Bentuklahan Positif
Pada prinsipnya ada 2 macam bentuklahan karst yang positif yaitu kygelkarst dan turmkarst
a. Kygelkarst
Kygelkarst merupakan satu bentuklahan karst tropic yang didirikan oleh sejumlah bukit berbentuk kerucut, yang kadang-kadang dipisahkan oleh cockpit. Cockpit-cockpit inisialing berhubungan satu sama lain dan terjadi pada suatu garis yang mengikuti pola kekar.
b. Turmkarst
Turmkarst merupakan istilah yang berpadanan dengan menara karst, mogotewill, pepinohill atau pinnacle karst. Turmkarst merupakan bentuka positif yang merupakan sisa proses solusional. Menara karst/ tumkarst terdiri atas perbukitan belerang curam atau vertical yang menjulang tersendiri diantara dataran alluvial.
c. Stalaktit dan Stalakmit
Stalaktit adalah bentukan meruncing yang menghadap kebawah dan menempel pada langit-langit goa yang terbentuk akibat akumulasi batuan karbonat yang larut akibat adanya banjir.
Stalakmit hamper mirip dengan stalaktit namun berada di bawah lantai dan menghadap keatas.
C. KLASIFIKASI KARST
Klasifikassi karst secara umum telah dikategorikan menjadi tiga kelompok, antara lain :
1. Klasifikasi Cvijic
a. Holokarst, merupakan karst dengan perkembangan sempurna, baik dari sudut pandang bentuklahannya maupun hidrologi bawah permukaannya. Terjadi bila perkembangan karst secara horizontal dan vertical tidak terbatas,batuan karbonat masif dan murni dengan kekar vertikal yang menerus dari permukaan hingga batuan dasarnya, serta tidak terdapat batuan impermeable yang berarti. Di Indonesia karst tipe ini jarang ditemukan karena besarnya curah hujan menyebabkan sebagian besar karst terkontrol oleh proses fluvial.
b. Merokarst, merupakan karst dengan perkembangan tidak sempurna atau parsial dengan hanya mempunyai sebagian cirri bentuklahan karst. Merokarst berkembang di batugamping yang relatif tipis dan tidak murni, serta khususnya nila batugamping diselingi oleh lapisan batuan napalan. Perkembangan secara vertical tidak sedalam perkembangan holokarst dengan evolusi relief yang cepat. Erosi lebih dominan dibandingkan pelarutan dan sungai permukaan berkembang. Merokarst pada umunya tertutup oleh tanah, tidak ditemukan dolin, goa, swllow hole berkembang hanya setempat-setempat. Sistem hidrologi tidak kompleks, alur sungai permukaan dan bawah permukaan dapat dengan mudah diidentifikasi. Drainase bawah tanah terhambat oleh lapisan impermeable. Contoh karst tipe ini yang terdapat di indonesia adalah karst disekitar Rengel Kabupaten Tuban.
c. Karst Transisi, berkembang di batuan karbunat relatif tebal yang memungkinkan perkembangan karst bawah tanah, akan tetapi batuan dasar yang impermeable tidak sedalam di holokarst, sehingga evolusi karst lebih cepat. Lembah fluvial lebih banya dijumpai dan polje hamper tidak ditemukan. Contoh karst transisi di Indonesia adalah Karst Gunung Sewu (Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan), Karst Karangbolong (Gombong), dan Karst Maros (Sulsel).
2. Klasifikasi Gvozdeckij (1965)
a. Bare karst, lebih kurang sama dengan karst Dinaric (holokarst)
b. Covered karst, merupakan karst yang terbentuk apabila batuan karbonat tertutup alluvium, material fluvio-glasial, atau batuan lain seperti batupasir.
c. Soddy karst / soil covered karst, merupakan karst yang berkembang di batu gamping yang tertutup oleh tanah atai terarossa yang berasal dari pelarutan batugamping.
d. Burried karst, merupakan karst yang telah tertutup oleh batuan lain, sehingga bukti karst hanya dapat dikenali melalui data bor.
e. Tropical karst of cone karst, merupakan karst yang terbentuk di daerah tropis.
f. Permaforst karst, merupakan karst yang terbentuk di daerah bersalju.
3. Klasifikasi Sweeting
a. True karst, merupakan karst dengan perkembangan sempurna. Karst yang sebenarnya harus meupakan karst dolin yang disebabkan oleh pelarutan karst secara vertical. Semua kast yang bukan tipe karst dolin dikatakan sebagai deviant. Contohnya adalah karst Dinaric
b. Fluvio karst, dibentuk oleh kombinasi proses fluvial dan proses pelarutan. Fluvio karst pada umumnya terjadi pada daerah batugamping yang dilalui oleh sungai alogenik (sungai berhilir di daerah non karst). Sebaran batu gamping baik secara vertical maupun lateral jauh lebih kecil dari pada true karst. Permukaan batugamping pada umumnya tertutup oleh tanah yang terbentuk oleh proses erosi dan sedimentasi proses fluvial. Singkapan batugamping ditemukan bila telah terjadi erosi yang terjadi karena penggundulan hutan. Lembah sungai permukaan dan ngarai banyak ditemukan. Bentukan hasil dari proses masuknya sungai permukaan ke bawah tanah dan keluarnya kembali sungai bawah ke permukaan merupakan fenomena yang banyak dijumpai (lembah buta dan lembah saku).
c. Glasiokarst, merupakan karst yang terbentuk karena karstifikasi yang didominasi oleh proses glasiasi dan pross glacial di daerah batugamping. Terdapat di daerah berbatugamping yang pernah ,mengalami proses glasiasi. Dicirikan oleh kenampakan hasil penggogosan, erosi, dan sedimentasi glacier. Hasil erosi glacier pada umumnya membentuk limstoe pavement. Erosi lebih intensif terjadi disekitar kekar menghasilkan cekungan dengan lereng terjal memisahkan pavement satu dengan yang lainnya. Dolin terbentuk terutama oleh hujan salju. Contohnya karst di lereng atas pegunungan alpen.
d. Nival karst, merupakan karst yang terbentuk karena karstifikasi oleh hujan salju pada lingkunagn glacial dan periglasial.
e. Tropical karst, merupakan karst yang terbentuk pada daerah tropis. Tropical karst secara umum dibedakan menjadi kegelkarst dan turmkarst.
Kegelkarst dicirikan oleh kumpulan bukit-bukit berbentuk kerucut yang sambung menyambung. Sela antar bukit kerucut membentuk cekungan dengan bentuk seperti bintang yang dikenal dengan cockpit. Cockpit sering membentuk pola kelurusan sebagai akibat control kekar atau sesar. Contoh di Indonesia adalah Karst Gunung sewu dan Karst Karanagbolong.
f. Turmkarst, dicirikan dengan bukit-bukit dengan lereng terjal, biasanya ditemukan dalam kelompok yang dipisahkan satu sama lain dengan sungai atau dataran alluvial. Beberapa ahli beranggapan bahwa turmkarst merupakan bentukan lebih lanjut dari kegelkarst karena kondisi hidrologi tertentu. Distribusi sebaran bukit dan menara pada umumnya dikontrol oleh kekar atau sesar dengan ukuran yag bervariasi. Kontak dari menara dengan dataran alluvium merupakan tempat pemunculan mata air dan perkembangan gua.
4. Tipe karst yang lain
a. Labyrint karst, karst yang dicirikan oleh koridor-koridor memanjang yang terkontrol oleh adanya kekar atau sesar. Morfologi karst tersusun oleh blok-blok batugamping yang dipisahkan satu sama lain oleh koridor karst. Terbentuk karena pelarutan yang jaul lebih intensif di jalur sesar dan patahan. Contoh di Indonesia adalah di Papua dan sebagian Gunungsewu.
b. Karst polygonal, merupakan penamaan yang didasarjan dari sudut pandang morfometri dolin. Dapat berupa kerucut karst maupun menara karst. Karst dikatakan poligonal apabila semua batuan karbonat telah berubah menjadi kumpulan dolin-dolin dan dolin telah bersambung dengan lainnya.
c. Karst fosil, merupakan karst yang terbentuk pada masa geologi lampau dan saat ini proses karstifikasinya sudah berhenti. Tipe ini dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, bentuklahan tinggalan (relict landform) yaitu karst yang dibentuk pada waktu geologi sebelumnya dan tidak tertutupi batuan lainnya. Kedua, bentuklahan tergali (exhumed landform) yaitu karst yang dibentuk pada waktu geologi sebelumnya dan tidak tertutupi batuan non karbonat yang selanjutnya muncul ke permukaan karena batuan ataonya telah tersingkap oleh proses denudasi.

Berikut foto keindahan bentukan solusional.





Sumber :
tjahyo-adji.staff.ugm.ac.id/buku_ajar_karst_indonesia.pdf
blog.unila.ac.id/igedesy/files/2009/08/materi-3.pdf
Catatan Kuliah Geomorfologi Dasar
Modul Kuliah Geomorfologi Dasar, Drs. Eko Haryono, M.Si.
http://geomagz.geologi.esdm.go.id