Laman

Senin, 16 Januari 2012

LAUT SEBAGAI THE NEXT “PARU-PARU DUNIA”



Dua pertiga luasan dari bumi ini adalah lautan. Laut menyimpan potensi sumberdaya yang sangat besar. Laut sebagai ekosistem dari berbagai organisme. Hubungan antara organisme laut juga menjalin hubungan erat dengan ekosistem darat dan udatra. Semakin mendekati daratan, di lautan dangkal terdapat terumbu karang dengan pesonanya. Matahari juga memberikan sinarnya, masuk perlahan ke laut hingga dapat terbentuk terumbu karang yang indah tersebut.

Laut memiliki fungsi yang tidak kalah pentingnya dengan hutan. Hutan disebut sebagai paru-paru dunia, sebagai tempat hidup berbagai pohon dan tumbuhan dengan luasan yang sangat besar. Begitu pula terjadi untuk laut. Apabila kita cermati konferensi dunia yang membahas tentang kelautan pada mei 2009 lalu, yaitu WOC (World Ocean Conference) di Indonesia, membahas mengenai fungsi laut yang dapat mengurangi dampak dari global warming. Ada hubungan timbal balik antara laut dengan iklim yang dapat dikaji kembali bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menjaga ekosistem laut, menghentikan eksploitasi laut dan pencemaran laut agar laut tetap terjaga dan mampu menjalankan fungsinya dengan baik sebagai penangkap gas CO2.

Didalam laut terdapat berbagai organisme seperti fitoplankton, algae, terumbu karang, padanglamnun dan organism lain yang dapat berfotosintesis dengan menangkap CO2. Fitoplankton, alga maupun tumbuhan pada padang lamun mensintesis makanan sendiri dari bahan anorganik menjadi bahan organic dengan bantuan cahaya matahari dan menyerap CO2. Hal tersebut karena fitoplankton, alga dan lamun mirip seperti tumbuhan lainnya, yaitu memiliki kandungan klorofil. Untuk dapat berfoosintesis organism-organisme tersebut harus berada pada daerah yang terjangkau sinar matahari. Sinar matahari hanya dapat menembus air laut pada kedalaman tertentu saja. Sehingga organism-organisme tersebut tumbuh dan berada pada bagian permukaan atau pada daerah lautan dangkal.



http://images.sciencedaily.com/2008/12/081217190334-large.jpg

Terumbu karang merupakan kumpulan hewan yang bersimbiosis dengan alga yang dapat melakukan fotosintesis. Fotosintesis dilakukan terumbu karang dengan menghasilkan oksigen-oksigen yang dilarutkan dalam air. Untuk berfotosintesis terumbu karang juga memerlukan cahaya matahari, sehingga terumbu karang banyak terdapat pula pada lautan dangkal. Selain itu adanya terumbu karang juga dipengaruhi oleh suhu dan kandungan zat kapur dengan kadar tertentu.


http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/terumbu-karang.jpg

Tak hanya organism-organisme tersebut saja, masih banyak organism di laut yang jumlahnya sangat banyak, berupa tumbuhan, maupun jasad renik versel satu sampai bersel banyak mampu mengurangi dampak pemanasan global dengan menyerap oksigen. Hal tersebut seperti hutan, yang posisinya di perairan laut. Sungguh sangat luar biasa kekayaan laut tersebut.

Penelitian dalam skala laboratorium yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membuktikan algae di laut mampu tumbuh 20-25 kali hanya dalam 15 hari dengan diberi makan karbondioksida (CO2). Bahkan Chlorella sp dengan jumlah awal 40.000 sel per ml menjadi 1 juta sel per ml dalam 15 hari, kata Kepala BPPT Dr Marzan Aziz Iskandar dalam seminar Implementasi Pengurangan Emisi Karbondioksida sebagai Upaya Mitigasi Global Warming di Jakarta. (Harian Seputar Indonesia, Jumat 15 Mei 2009)

Ketika kita telah mengetahui bahwa terdapat organism-organisme di lautan yang mampu mengkonversi karbondioksida menjadi oksigen, tentunya akan menjadi semangat kita untuk paling tidak menjaga ekosistem laut supaya tetap terjaga. Sesuai data yang telah disampaikan oleh pihak BPPT bahwa algae mampu tumbuh sampai 20-25 kali dalam 15 hari dengan menyerap karbondioksida. Padahal di beberapa wilayah laut memiliki kekayaan berupa alga/ganggang hijau, biru, merah, coklat dan jenis lainnya yang sangat melimpah. Sebarannya dibatasi pada zona daerah yang masih terdapat cahaya matahari yang terdiri atas batuan-batuan dan juga dipengaruhi pula oleh tingkat salinitas.
Terumbu karang juga tak kalah melimpah. Terumbu karang membentuk pola seperti hutan yang berada di dalam lautan. Terumbu karang sebagai rumah dari berbagai organism lainnya, terutama ikan yang banyak berkembangbiak pada daerah terumbu karang. Semakin banyak jumlah terumbu karang, maka jumlah oksigen yang dihasilkan juga semakin besar, Namun pemanasan global mengancam terumbu karang yang dapat mengakibatkan naiknya permukaan laut sehingga terjadi kerusakan karang karena tidak mempu mendapatkan sinar matahari dan terjadinya pemutihan karang/coral bleeching.
Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan luasan laut lebih luas dari daratannya. Kekayaan sumberdaya kelautan Indonesia begitu besar dan beragam, mulai dari terumbu karang, alga, padang lamun, dan masih banyak lagi potensi sumberdaya laut lainnya. Hal tersebut tentunya menjadi sebuah nilai penting untuk Indonesia untuk berperan secara aktif kepada dunia untuk memulai mengembangkan dan melestarikan sumberdaya laut. Isu tentang kemampuan organism dalam mengurangi dampak global warming dapat dikembangkan pula dengan penelitian, misalnya dengan mencari tahu sebaran dan sekaligus seberapa besar kemampuan dari organism laut untuk mengambil dan menghasilkan oksigen. Tentunya akan sangat bermanfaat sekali bagi berbagai kalangan.







Sumber :
http://teenforgreen.blogspot.com/ http://id.wikipedia.org/wiki/Terumbu_karang
http://id.wikipedia.org/wiki/Fitoplankton
http://www.nytimes.com/2007/05/01/business/01plankton.html?ref=science
http://id.wikipedia.org/wiki/Alga
http://www.scribd.com/doc/29838613/PADANG-LAMUN
http://alinur.wordpress.com/2009/06/04/pentingnya-world-ocean-conference-woc-bagi-indonesia/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

English Premier League News