TIPOLOGI PESISIR SELATAN MUARA SUNGAI OPAK





Pesisir dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pesisir primer dan pesisir sekunder. Pesisisr primer dipengaruhi oleh proses terrestrial, seperti erosi, deposisi, volkanik dan diatropisma daripada aktivitas organism maupun marin, sedangkan pesisir sekunder dikontrol oleh organism dan akibat gelombang. Pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki Tipologi pantai yang beragam. Pesisir yang berada pada muara sungai opak, yang meliputi pesisir pantai parangtritis dan pesisir pantai depok apabila diamati banyak dipengaruhi oleh proses aktivitas gelombang sehingga digolongkan pada tipologi Marin Deposition Coast.


Karakteristik bentukan pesisir pantai parangtritis dan pantai depok hampir sama. Zona yang ada didepan zona pecah gelombang, merupakan sedimentasi dari pasir yang terbawa oleh aktivitas gelombang air laut. Sedimentasi tersebut berasal dari salah satu aliran sungai besar yang bermuara kea rah laut. Zona diantara air laut dan air sungai terbentuk pula endapan/sedimentasi memanjang menghalangi bertemunya aliran sungai dan air laut secara langsung. Sedimentasi tersebut disebut dengan Split. Namun pada bagian tertentu, karena kekuatan air sungai yang mampu menembus endapan tersebut, namun material yang diendapkan oleh gelombang lebih sedikit, maka terbentuk bagian pertemuan antara air sungai dan air laut.


Selain pengaruh utama dari gelombang air laut, pengaruh sungai juga memegang peranan penting dalam pembentukan pesisir di parangtirtis dan pesisir pantai depok. Jika aliran sungai tersebut tidak membawa sedimen dari daerah diatasnya, tentunya tipologi tersebut tidak terbentuk. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pembentukan tipologi Marin Deposisional Coast pada Muara sungai Opak, yaitu pada pesisir parangtritis dan pesisir depok, dibentuk oleh gelombang air laut dan dipengaruhi oleh adanya transfer/aliran sedimentasi dari sungai Opak. Material tersebut berasal dari daerah diatasnya atau pada relief lebih tinggi, terutama material cukup besar dari aktivitas vulkanisme gunung merapi.

Aliran dari sungai opak terlihat membelok kearah barat. Jika dilihat pada aliran sungai yang lain pada pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, atau bahkan di seluruh pesisir selatan pulau Jawa, dapat dikatakan mayoritas aliran berbelok kearah barat. Perubahan arah aliran sungai opak dan sungai-sungai lain di pulau Jawa tersebut dipengaruhi oleh aktivitas angin. Angin yang bertiup di pesisir selatan, terutama pada Samudera Hindia, yaitu angin muson. Angin muson timur yang bertiup dari Australia menuju kearah asia akibat tekanan di daerah Asia lebih rendah daripada di Australia.


Penduduk sekitar muara sungai opak banyak bermata pencaharian sebagai petani. Pada citra menunjukkan bahwa luasan lahan pertanian di pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta cukup luas. Sawah tersebut merupakan sawah lahan basah dengan system irigasi dari aliran sungai Opak.

Potensi pariwisata terdapat pada muara sungai opak, pada pantai parangtritis dan pantai depok. Parangtritis sebagai wisata pantai paling dikenal oleh masyarakat luas selalu ramai oleh wisatawan, baik local, regional, maupun mancanegara. Pantai depok sebagai wisata juga sebagai tempat kuliner, karena ditempat ini tersedia hidangan laut dari nelayan sekitar. Hasil tangkapan nelayan yang sebenarnya banyak berasal dari cilacap menarik penduduk sekitar yang awalnya sebagai petani untuk ikut menjadi nelayan menagkap ikan. Jumlah dari hasil tangkapan warga yang besar mendorong penduduk sekitar untuk mendirika pangkalan pelelangan Ikan dan Tempat pelelangan Ikan sebagai poros perekonomian di pantai Depok.




Muara sungai opak sangat rentan terhadap abrasi akibat gelombang pantai parangtritis dan sekitarnya yang sangat besar. Upaya dalam menaggulangi masalah tersebut, pemerintah daerah bekerjasama dengan penduduk sekitar menanam pohon bakau di sekitar muara sungai opak. Selain untuk mengurangi abrasi dengan menahan gelombang air laut, pada daerah yang ditanami bakau juga diharapkan menjadi habitat ikan dan udang sehingga dapat berkembangiak dengan baik. Pemerintah pun memberikan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya pohon bakau pada daerah dengan kerawanan terhadap bahaya tsunami.



Kuatnya hantaman gelombang pantai selatan sempat mengakibatkan kerusakan pada tumbuhan bakau yang ada. Menurut kompas.com pada 7 agustus 2011, ratusan pohon bakau atau mangrove di Dusun baros, Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek, kabupaten Bantul, Daerah Intimewa Yogyakarta, hanyut terseret gelombang. Rusaknya ratusan pohon bakau tersebut diakibatkan pada bulan Mei terjadi gelombang yang cukup besar melewati sungai dan menghantam tanaman mangrove tersebut. Kejadian tersebut tentunya semakin menggiatkan penduduk sekitar dibantu dengan pemerintah setempat untuk menanam mangrove lebih banyak untuk sebagai penahan gelombang laut. Setelah mencapai ketinggian satu meter, mangrove telah kuat untuk menahan gelkombang laut.
Penduduk sekitar juga mengembangkan budidaya kepiting/lemuru sehingga diharapkan dapat menjadi sumber perekonomian dari penduduk sekitar selain sebagai nelayan. Budidaya kepiting dilakukan dengan menggunakan sistem keramba atau jaring apung.
Apresiasi penduduk muara sungai opak terhadap lingkungan sekitar ternyata juga tinggi. Penduduk mepunyai kesepakatan untuk mengganti benih ikan jika diketahui penduduk yang melakukan perusakan terhadap habitat ikan. Hal tersebut tentunya menjadikan kelestarian lingkungan menjadi terjaga.





SUMBER
Langgeng Wahyu S,Materi Kuliah Oseanografi. 2011. Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta
http://beritadaerah.com/berita/jawa/43213
http://jogja-citytour.blogspot.com/2010/12/depok-beach.html
http://maps.google.co.id/
http://parangtritisyogya.blogspot.com/2009/09/potensi-kawasan-pesisir-yogyakarta.html
http://regional.kompas.com/read/2011/08/07/20462690/Ratusan.Pohon.Bakau.Hanyut.Disapu.Ombak

DAMPAK PEMBANGUNAN TERHADAP LINGKUNGAN



Pembangunan menimbulkan suatu dampak, baik terhadap makhluq hidup maupun terhadap lingkungan. Dampak terhadap lingkungan antaraq lain adalah terjadinya bencana banjir, kekeringan, erosi tanah, pencemaran lingkungan, matinya beberapa jenis tumbuhan dan hewan.

Pembangunan tersebut erat kaitannya dengan perubahan penggunaan lahan. Apabila terjadi perubahan penggunaan lahan, misalnya di daerah hulu/atas berupa hutan lindung digunakan untuk permukiman atau perumahan sedangkan daerah hilir digunakan untuk industry dan permukiman, maka akan berdampak besar untuk daerah itu sendiri maupun daerah di bawahnya. Terjadi erosi atau longsor di bagian atas/hulu karena terjadi penggundulan hutan yang dialihfungsikan untuk perumahan. Selain itu karena terjadi perubahan penggunaan lahan, juga terjadi kerusakan suatu ekosistem yang menyebabkan habitat tanaman atau binatang rusak. Hal tersebut sangat berdampak kepada beberapa tumbuhan atau hewan yang punya karakter khusus, yaitu hanya dapat bertahan hidup pada daerah dengan keadaan tertentu. Dibagian hilir dapat terjadi banjir karena di bagian hulu telah terjadi alih fungsi lahan dari hutan lindung menjadi permukiman, sehingga daerah diatas akan mengirimkan limpasan sedangkan daerah hilir. Karena daerah hilir juga mengalami perubahan penggunaan lahan, dari kebun menjadi industry maupun permukiman untuk kegiatan ekonomi, sehingga daerah resapan air semakin sedikit. Potensi banjir juga semakin besar.



Kekeringan juga mungkin dapat terjadi akibat pembangunan, dengan penggunaan airtanah yang berlebihan karena pembangunan besar-besaran maka persediaan airtanah semakin sedikit, sementara air hujan yang masuk kedalam tanah lebih lambat dari air yang digunakan/dipompa.

BENTUKAN FLUVIAL

1. Dataran alluvial (Alluvial Plain)

Dataran alluvial merupakan dataran yang terbentuk akibat proses-proses geomorfologi yang lebih didominasi oleh tenaga eksogen antara lain iklim, curah hujan, angin, jenis batuan, topografi, suhu, yang semuanya akan mempercepat proses pelapukan dan erosi. Hasil erosi diendapkan oleh air ke tempat yang lebih rendah atau mengikuti aliran sungai.
Dataran alluvial menempati daerah pantai, daerah antar gunung, dan dataran lembah sungai. daerah alluvial ini tertutup oleh bahan hasil rombakan dari daerah sekitarnya, daerah hulu ataupun dari daerah yang lebih tinggi letaknya. Potensi air tanah daerah ini ditentukan oleh jenis dan tekstur batuan.

2. Dataran banjir (Flood Plain)

Dataran banjir berupa dataran yang luas yang berada pada kiri kanan sungai yang terbentuk oleh sedimen akibat limpasan banjir sungai tersebut. Umumnya berupa pasir, lanau, dan lumpur.
Dataran banjir merupakan bagian terendah dari floodplain. Ukuran dan bentuk dari dataran banjir ini sangat tergantung dari sejarah perkembangan banji, tetapi umumnya berbentuk memanjang (elongate). Endapan dataran banjir (floodplain) biasanya terbentuk selama proses penggenangan (inundations).

Umumnya Endapan dataran banjir ini didominasi oleh endapan suspensi seperti lanau dan lumpur, meskipun kadang-kadang muncul batupasir halus yang terendapkan oleh arus yang lebih kuat pada saat puncak banjir. Kecepatan pengendapannya pada umumnya sangat rendah, berkisar antara 1 dan 2 cm lapisan lanau-lempung per periode banjir (Reineck dan Singh, 1980).
Endapannya mengisi daerah relatif datar pada sisi luar sungai dan kadang-kadang mengandung sisa tumbuhan serta terbioturbasikan oleh organisme-organisme. Di Indonesia, dapat ditemukan di Kecamatan kretek Kab. Bantul, yang merupakan dataran banjir dari Sungai Opak.




3. Tanggul alam sungai (Natural Levee)

Tanggul alam merupakan akumulasi sedimen berupa igir/tanggul memanjang dan membatasi alur sungai. Tinggi maksimum suatu tanggul terdapat pada bagian tepi dalam tanggul yang berbatasan dengan alur sungai dengan lereng yang curam. Hal ini menunjukkan bahwa tinggi muka air sungai pernah menapai permukaan tanggul tersebut pada saat terjadi banjir besar. Sebaliknya menjauhi alur sungai kea rah dataran banjir lereng tanggul berangsur-angsur berkurang besarnya dari miring hingga landai.
Tanggul yang terbentuk akibat banjir sungai di wilayah dataran rendah yang berperan menahan air hasil limpasan banjir sehingga terbentuk genangan yang dapat kembali lagi ke sungai. Seiring dengan proses yang berlangsung kontinyu akan terbentuk akumulasi sedimen yang tebal sehingga akhirnya membentuk tanggul alam.

Tanggul alam memiliki struktur berlapis karena terbentuk oleh endapan sedimen saat banjir meluap melampaui tanggul sungai. Akibat kecepatan aliran yang menurun maka terjadilah pengendapan sedimen yang kasar diendapkan dekat alur sungai sedang yang lebih halus terangkut jauh kearah dataran banjir.
Tanggul alam terdapat pada daerah dekat dengan muara sungai atau zona lower dari sungai



4. Rawa belakang (Backswamps)

Backswamp atau Rawa belakang adalah bagian dari dataran banjir dimana simpanan tanah liat menetap setelah banjir. Backswamps biasanya terletak di belakang sungai alam sebuah tanggul. Kemudian kembali rawa-rawa yang terletak agak jauh dari saluran sungai di dataran banjir tersebut. Ketika air tumpah ke dataran banjir, material terberat tetes keluar pertama dan materi terbaik dilakukan jarak yang lebih besar

Relief : Cekung – datar
Batuan/struktur :Berlapis, tidak kompak
Proses :Sedimentasi
Karakteristik :Relief cekung - datar, selalu tergenang, proses sedimentassi.

5. Kipas alluvial (Alluvial Fan)

Bila suatu sungai dengan muatan sedimen yang besar mengalir dari bukit atau pegunungan, dan masuk ke dataran rendah, maka akan terjadi perubahan gradien kecepatan yang drastis, sehingga terjadi pengendapan material yang cepat, yang dikenal sebagai kipas aluvial, berupa suatu onggokan material lepas, berbentuk seperti kipas, biasanya terdapat pada suatu dataran di depan suatu gawir. Biasanya pada daerah kipas aluvial terdapat air tanah yang melimpah. Hal ini dikarenakan umumnya kipas aluvial terdiri dari perselingan pasir dan lempung sehingga merupakan lapisan pembawa air yang baik.


Kipas Aluvial banyak terdapat pada daerah dengan perubahan lerang yang besar, misalnya pertemuan pegunungan terjal dengan dengan dataran.



Kipas alluvial yang menakjubkan ini luasnya dari Kunlun sampai pegunungan Altun, yang terletak di ujung selatan padang pasir takilmakan, China. Kipas Aluvial ini lembut, relative datar, landai dan terbuat dari batuan lepas dan sedimen, ditemukan di pegunungan dan disetor oleh air. Bentukan ini adalah salah satu yang terbesar di dunia.

6. Teras sungai

Teras sungai dapat dimanfaatkan untuk mengetahui proses- proses yang telah terjadi di masa lalu. teras sungai merupakan satu morfologi yang sering dijumpai pada sungai. Proses deposisi, proses migrasi saluran, proses erosi sungai meander dan aliran overbank sangat berperan dalam pembentukan dan perkembangan dataran banjir. Faktor yang mempengaruhi proses pembentukan dan perkembangan teras sungai adalah perubahan base level of erosion dan perubahan iklim

7. Gosong sungai (point bar)

Merupakan kenampakan morfologik yang umum pada sungai yang sedang mengalami meandering dan pada saat yang bersamaan pengendapan point bar merupakan proses sedimentasi yang terjadi di dalam alur sungai tersebut. Bentuk dan ukuran sedimentasi bervariasi tergantung pada besarnya alur sungai serta berkembang pada bagian lengkung dalam (inner band) alur sungai. Tekstur dari material point bar tergantung pada keadaan sedimen yang terangkut pada saat banjir terjadi. Kelerengan umumnya miring kea rah aliran menuju lengkung luar.

Relief : Datar - berombak
Batuan/struktur : Berlapis, tidak kompak
Proses :Sedimentasi

Karakteristik :Terbentuk pada tubuh sungai bagian hilir, bagian hulu gosong tumpul dan bagian hilir menyudut.


8. Sungai teranyam (Braided Stream)

Sungai teranyam merupakan bentukan asal proses fluvial berupa sungai yang saling terpisah membentuk seperti anyaman kemudian bergabung kembali pada bagian yang lain oleh adanya gosong sungai.

Terbentuk pada bagian hilir sungai yang memiliki slope hampir datar – datar, alurnya luas dan dangkal. terbentuk karena adanya erosi yang berlebihan pada bagian hulu sungai sehingga terjadi pengendapan pada bagian alurnya dan membentuk endapan gosong tengah. Karena adanya endapan gosong tengah yang banyak, maka alirannya memberikan kesan teranyam. Keadaan ini disebut juga anastomosis( Fairbridge, 1968).

Tipe sungai teranyam dapat dibedakan dari sungai kekelok dengan sedikitnya jumlah lengkungan sungai, dan banyaknya pulau-pulau kecil di tengah sungai yang disebut gosong.

Sungai teranyam akan terbentuk dalam kondisi dimana sungai mempunyai fluktuasi dischard besar dan cepat, kecepatan pasokan sedimen yang tinggi yang umumnya berbutir kasar, tebing mudah tererosi dan tidak kohesif (Cant, 1982). Biasanya tipe sungai teranyam ini diapit oleh bukit di kiri dan kanannya. Endapannya selain berasal dari material sungai juga berasal dari hasil erosi pada bukit-bukit yang mengapitnya yang kemudian terbawa masuk ke dalam sungai. Runtunan endapan sungai teranyam ini biasanya dengan pemilahan dan kelulusan yang baik, sehingga bagus sekali untuk batuan waduk (reservoir).

Umumnya tipe sungai teranyam didominasi oleh pulau-pulau kecil (gosong) berbagai ukuran yang dibentuk oleh pasir dan krikil. Pola aliran sungai teranyam terkonsentrasi pada zona aliran utama. Jika sedang banjir sungai ini banyak material yang terbawa terhambat pada tengah sungai baik berupa batang pepohonan ataupun ranting-ranting pepohonan. Akibat sering terjadinya banjir maka di sepanjang bantaran sungai terdapat lumpur yang mengusai hampir di sepanjang bantaran sungai.

Sungai teranyam umumnya terdapat pada daerah datar dengan energi arus alirannya lemah dan batuan di sekitarnya lunak. Sungai tipe ini bercirikan debit air dan pengendapan sedimen tinggi. Daerah yang rata menyebabkan aliran dengan mudah belok karena adanya benda yang merintangi aliran sungai utama


9. Sungai meander dan Enteranched meander

Bentukan pada dataran banjir sungai yang berbentuk kelokan karena pengikisan tebing sungai, daerah alirannya disebut sebagai Meander Belt. Meander ini terbentuk apabila pada suatu sungai yang berstadia dewasa/tua mempunyai dataran banjir yang cukup luas, aliran sungai melintasinya dengan tidak teratur sebab adanya pembelokan aliran Pembelokan ini terjadi karena ada batuan yang menghalangi sehingga alirannya membelok dan terus melakukan penggerusan ke batuan yang lebih lemah.

Leopold dan Wolman (1957) menyebut sungai meandering jika sinuosity-nya lebih daru 1.5. Pada sungai tipe ini erosi secara umum lemah sehingga pengendapan sedimen kuat. Erosi horizontallnya lebih besar dibandingkan erosi vertical, perbedaan ini semakin besar pada waktu banjir. Hal ini menyebabkan aliran sungai sering berpindah tempat secara mendatar. Ini rerjadi karena adanya pengikisan horizontal pada tepian sungai loleh aliran air utama pada daerah kelokan sungai pinggir luar dan pengendapan pada kelokan tepi dalam.


Meander banyak terdapat pada daerah dengan relief yang relative datar misalnya di Irian jaya dan Bintan yang ditunjukkan pada gambar.



10. Delta dan macamnya

Delta adalah bentang alam hasil sedimentasi sungai pada bagian hilir setelah masuk pada daerah base level. Pada saat aliran air mendekati muara, seperti danau atau laut maka kecepatan aliranya menjadi lambat. Akibatnya, terjadi pengendapan sedimen oleh air sungai. Pasir akan diendapkan sedangkan tanah liat dan lumpur akan tetap terangkut oleh aliran air. Setelah sekian lama , akan terbentuk lapisan - lapisan sedimen. Akhirnya lapian lapisan sedimen membentuk dataran yang luas pada bagian sungai yang mendekati muaranya dan membentuk delta.

Pembetukan delta memenuhi beberapa syarat. Pertama, sedimen yang dibawa oleh sungai harus banyak ketika akan masuk laut atau danau. Kedua, arus panjang di sepanjang pantai tidak terlalu kuat. Ketiga , pantai harus dangkal.



Contoh bentang alam ini adalah delta Sungai Musi, Kapuas, dan Kali Brantas, delta Sungai Mahakam.

Menurut Storm drr (2005), Delta Mahakam merupakan tipe delta yang didominasi oleh proses pasang-surut dan gelombang laut yang berlokasi di tepian Cekungan Kutai, Kalimantan Timur dan mempunyai runtunan stratigrafi deltaik pantai (coastal deltaic) berumur Miosen hingga Holosen


11. Danau oxbow (Oxbow Lake)

Danau Oxbow merupakan bentukan berbentuk U dari sebuah aliran sungai yang terbentuk ketika sebuah meander/kelokan sungai dengan sungai utama terpotong dan membentuk danau. Bentukan Fluvial tersebut disebut dengan danau oxbow dengan bentuk lengkungan yang khas.

Di Australia sebuah bentukan danau oxbow disebut Billabong yang berasal dari bahasa asli. Danau oxbow terbentu dari waktu ke waktu dari erosi dan pengendapan dari tanah yang terdapat di sungai. Danau oxbow terbentuk seperti di bawah ini :
1. Di dalam putaran sungai perjalanan lebih lambat menyebabkan pengendapan lumpur
2. Sementara itu air di tepi luar cenderung menyebabkan pengendapan lumpur
3. Sementara itu air di tepi luar cenderung mengalir cepat yang mengikis tepian membentuk meander yang lebih luas
4. Seiring waktu putaran meander melebar sampai bagian lehernya lenyap sama sekali
5. Kemudian meander akan dihapus dari sungai say ini dan bentukan tapal kuda danau oxbow terbentuk.

Tanpa arus untuk memindahkan air bersama, sedimen menumpuk di sepanjang tepian dan menisci danau.


Sungai mati, oxbow, dan oxbow lake merupakan bentukan sebagai akibat dari sungai mati. Sungai mati terjadi sebagai akibat dari ditinggalkannya alur sungai oleh aliran air sungai utama, sehingga aliran air sungai terhenti atau berpindah ke alur sungai yang lain. Pemotongan alur sungai ini terjadi karena sungai tersebut telah mengalami kelengkungan (sinous), sungai yang telah mengalami terbentuknya meander. Ada tiga cara pemotongan sungai yang menyebabkan sungai tersebut ditinggalkan/mati yang membentuk dasar sungai mati (abandoned river), yaitu Chu cut off, neck cut off, dan avulsi. Pada pemotongansungai yang telah mengalami meandering tersebut akan membentuk senacam tapal kuda (oxbow), manakala oxbow ini




12. Stream Captured

Merupakan fenomena geomorfologi yang terjadi ketika aliran atau system drainase sungai atau DAS dialihakan dari tempatnya sebaliknya aliran yang beru berasal dari aliran sungai tetangganya. Hal tersebut terjadi akibat beberapa sebab, yaitu
1. Gerakan tektonik bumi, dimana sudut lereng/kemiringan lereng dari perubahan tanah dan aliran sungai keluar dari bekas sungai sebelumnya
2. Pembendungan alami akibat longsor atau lapisan es
3. Erosi, baik erosi headward yang menyebabkan satu lembah sungai berada diatas yang lain, atau erosi lateral yaitu meander melalui tanah yang lebih tinggi membagi sungai yang berdekatan.
4. Pada topografi karst, sungai bias tenggelam atau berada di bawah tanah dan kemudian muncul kembali di lembah sungai terdekat.
5. Air tambahan mengalir kebawah capturing stream dan dapat mempercepat erosi dan mendorong perkembangan ngarai.


13. Lembah Terkubur (Burried Valley)

Lembah terkubur adalah sebuah aliran sungai kuno atau lembah sungai yang telah diisi dengan sedimen glacial atau terkonsolidasi. Endapan ini terdiri dari kerikil, pasir ,lumpur, dan tanah liat. Jenis sedimen seperti itu sering dapat menyimpan dan mentransmisikan sejumlah besar air tanah, sehingga daerah tersebut memiliki potensi air tanah yang besar. Pembentukannya terjadi akibat longsoran material di tebing sungai dalam jumlah m,aterial yang besar kemudian lembah sungai tertutup. Lembah terkubur banyak terdapat di daerah sungai bagian upper atau middle yang memiliki kestabilan lereng yang rendah dan lembah sungai relative dalam.

Pembentukan Burried Valley (lembah terkubur)


14. Struktur silangsiur (Crossbraided Structure)

Crossbraided Structure merupakan bentukan proses perubahan arah aliran akibat adanya pola perlapisan batuan. Pembentukannya berasal dari sedimentasi oleh material di daerah pasang surut yang dalam waktu tertentu mengalami perubahan pada arah aliran arus dominan. Dalam waktu yang bergantian terjadi perubahan arah arus secara berlawanan sehingga terbentuk perlapisan sedimen yang khas. Pembentuk struktur silangsiur dapat berupa air ataupun angin.
Struktur silangsiur ini banyak terdapat pada daerah estuary sehingga bentukanyya dipengaruhi oleh air atau pada daerah gumuk pasir yang dipengaruhi oleh angin.

Struktur Silang-siur (Crossbraided Structure)


15. Tanggul sungai (Levee Ridge)

Tanggul sungai merupakan bentukan dari proses fluvial yaitu sebuah bentukan berupa gundukan yang terdapat di sepanjang tepian sungai. Pembentukannya dari sedimentasi material yang terangkut oleh arus sungai kemudian terendapkan yang merupakan proses bentukan alami, sedangkan bentukan yang berupa pengaruh manusia merupakan artificial form. Tanggul sungai berfungsi untuk mencegah banjir ketika debit air berlebih.
Tanggul sungai banyak terdapat pada dataran alluvial yang sering terjadi banjir, misalnya di Sungai progo.

Tanggul Sungai (levee ridge)

16. Lembah ditinggalkan (Abandon Valley)

Lembah ditinggalkan merupakan benukan fluvial berupa lembah sungai yang tidak dialiri oleh air lagi. Proses pembentukannya akibat proses erosi dan sedimentasi terutama pada sungai bermeander. Ketika meander terbentuk, kemudian aliran semakin intensif terbentuk danau tapal kuda. Dalam waktu yang lama air yang menggenang hilang membentuk lembah yang ditinggalkan.
Bentukan ini banyak terdapat pada dataran alluvial dengan struktur batuan yang relative homogen

Lembah Ditinggalkan (Abandon Valley)














Daftar Pustaka
Charlton, Ro. 2008. Fundamentals of Fluvial Geomorphology. New York : Maddison Avenue
Kehew, Alan E dan Boettger, William M. 1986. Depositional Environmental of Braided Valley Aquifers in North Dakota. U.S : University of North Dakota
Suharsono, Prapto. 1999. Identifikasi Bentuklahan dan Interpretasi Citra Untuk Geomorfologi.Fakultas Geografi:Universitas Gadjah Mada
http://adityamulawardhani.blogspot.com/2009/02/bentang-alam-fluvial.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Floodplain
http://en.wikipedia.org/wiki/Buried_valley
http://en.wikipedia.org/wiki/Oxbow_lake
http://en.wikipedia.org/wiki/Stream_capture
http://geologi.ugm.ac.id/gdl42/gdl.php?mod=browse&op=read&id=tglugm--msitocahyo-90
http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/6308167173.pdf
http://lingkunganhijau08007.blogspot.com/2010/01/hidrologi-dataran-alluvial-pernah-ada.html
http://sim.nilim.go.jp/ge/SEMI2/Presentation/1Sampurno/Seminar.doc
www.uwsp.edu/geo/.../alluvial_landforms_page_1.html
http://wong168.wordpress.com/2010/01/31/pemandangan-menakjubkan-karya-bumi-2/
http://wwwnuansamasel.blogspot.com/2010/05/hidrologi-bagian-ii.html
http://www.mbgnet.net/fresh/lakes/oxbow.htm

TEORI PERKEMBANGAN MUKA BUMI

Sifat fisika dan ukuran batuan maupun sedimen dasar basin lautan dapat diketahui dengan Eksplorasi Geofisika, antara lain Seismic Reftraction, Gravity Measurenen, dan Deep sea Drilling.

Refraksi seismic
Prinsip dari refraksi seismic yaitu dengan menggunakan gelombang radio yang dipancarkan dari permukaan laut, kenudian getarannya akann diterima oleh hidrophones. Hasil data yang didapatkan adalah lapisan batuan dibawah permukaan laut yang dibedakan berdasarkan kekerasannya.

Gravity Measurement
Membandingkan antara pengukuran gravitasi di ekuator dengan suatu titik tertentu karena bumi tidak bulat sempurna, maka suatu tempat akan mengalami anomaly.

Pengeboran dasar Laut
Th 1960 --> Monhole Project
Th 1968 --> DSDP oleh SIO dgn GC, menghasilkan 3 teori :


Teori Apungan Benua
Dahulu kala bumi memiliki satu benua yaitu Pangea dan satu lautan yaitu Thetys. Pangea dibatasi oleh samudra mahaluas bernama Panthalasa. Pangea pecah menjadi 3 bagian , yaitu Laurasia, Gondwana dan Benua Antartika. Laurasia pecah menjadi Amerika utara dan Eurasia. Gondwana pecah menjadi Amerika selatan dan Afrika. Antartika pecah menjadi india dan daratan antartika.
Ilustrasi Benua Pengea dan Tethys Sea

Alfred Wegener (astronom Phd) mengemukakan hipotesis apungan benua. Teori tersebut adalah dahulu kala terdapat sebuah super-kontinen yang disebut pangea. Kemudian pangea pecah menjadi bagian-bagian kecil menuju posisinya seperti saat ini.
Bukti :


  1. Persamaan garis pantai benua amerika bagian selatan dan benua afrika
  2. Ditemukannya fosil mososaurus yang sejenis yang hanya ditemukan di kedua bagian benua tersebut. Jauhnya jarak antara benua amerika dan benua afrika diyakini tidak dapat dilintasi oleh meosaurus tersebut. Mesosaurus adalah sejenis reptil amfibi yang hidup di air tawar. Bentuknya kira-kira seperti cecak, tapi kepalanya seperti buaya, Badannya fleksibel dan konon ekornya dapat digunakan sebagai semacam sirip untuk berenang. Tidak jelas berapa ukurannya dan hidup pada berapa juta tahun yang lalu. Fosil ini ditemukan di Brasil dan Afrika bagian barat.
  3. Jajaran pegunungan yang terpotong oleh Ocean. Diyakini bahwa struktur maupun umur batuan di pegunungan Appalachia (Amerika Utara) yang terpotong oleh pantai Newfouland serupa dengan jajaran pegunungan di kepulauan Inggris dan Scandainavia.
  4. Iklim masa lampu mempengaruhi benua-benua pecahan dari Pangea. Ketika benua-benua tersebut disatukan, maka terlihat pola hamparan es menutup sebagian benua afrika selatan, amerika selatan, Australia bagian selatan dan sebagian Eurasia.


DR Rollin T Chamberlin (U. Chicago) berpendapat bahwa hipotesis Wegener tidak berdasar. Harold Jefreys ahli geofisika Inggris membantah pula pernyataan Wegener. Gaya sebesar apa yang mampu menarik daratan hingga terpisah sebegitu jauh di atas dasar laut sebagai bidang gesar tanpa mematahkan dasar lautnya?

Wegener tidak dapat menjelaskan mekanisme pergheseran benua. Dalam teori Wegener, benua diasosiasikan sebagai benda ringan berupa Si dan Al yang mengapung diatas bahan yang memiliki densitas lebih besar. Bahan tersebut ebrsifat plastis berupa kerak ssamudera.
Wegener tidak memperhitungkan gaya yang bekerja.
Bumi hanya dianggap seperti bongklahan es dengan masa jenis yang rendah mengapung diatas lautan dengan masa jenis yang lebih besar.

Teori Pemekaran Lantai Samudera Harry Hess (1960)
Pada mid ocean ridge (pematang tengah samudera) terjadi pemekaran lantai samudera. Terjadinya pemekaran tersebut diakibatkan oleh gaya tarikan yang digerakkan arus konveksi pada bagian mantel bumi. Karena adanya arus konveksi, maka magma keluar melalui mid ocean ridge dan membeku.
Lantai samudera bergerak menunjam astenosfer pada zona subdaksi, sementara di bagian mid ocean ridge terbentuk material baru. Bagian yang menyusup ini sangat rentan sekali untuk hancur/pecah dan berpotensi untuk meenyebabkan gempa. Selain itu juga sangat berpotensi untuk pembentukan gunungapi dari magma yang naik.
Ilustrasi Pemekaran Samudera


Bukti
Dari hasil pengeboran di Gabon dan Brazil, ditemukan batuan dan fosil yang sama pada kedalaman yang sama.

Kelemahan
Tidak dapat menjelaskan apakah bumi tersusun lapisan yang seragam, dengan lapisan tertentu?

Teori Tektonik Lempeng
Mengemukakan bahwa bumi kita sebagai lapisan lempeng yang sangat keras namun tipis yang saling bergerak. Lempeng tektonik terdiri dari kerak benua, kerak samudra dan mantel bumi yang dinamakan lithsosfer. Pergerakan lempeng diakibatkan lapisan astenosfer yang lebih berat dengan suhu yang sangat tinggi maka lapisan batuan disana bergerak mengalir seperti sebuauah carian.






http://yudi81.wordpress.com/2010/12/04/teori-tektonik-lempeng/
http://clupst3r.wordpress.com/2009/10/12/teori-laurasia-gondwana/
http://syaifulmangantjo.wordpress.com/2011/11/04/teosri-geosinklin-continental-drift-sea-floor-spreading-dan-tektonik-lempeng/

EARTH CATHATOSTROPHIC PAST


Bumi terbentuk dari serangkaian peristiwa bencana yang meledakkan, membakar dan mengukir bentuk bumi. Untuk membuktikan dan mencari bukti tentang bumi pada masa lampau, dapat dicari dari petunjuk-petunjuk tertentu. Meteor jatuh merupakan salah satu petunjuk untuk melihat struktur pembentuk bumi, karena bumi merupakan kumpulan dari batuan-batuan luar angkasa yang menyatu. Adanya benturan antar benda di data surya menimbuklkan suatu energy dan meningkatkan panas bumi lebih dari 1800 derajat. Radioaktif makin meningkatkan suhu bumi. Unsur pembentuk bumi terbentuk dalam proses yang panjang. Dengan inti besi dikelilingi batuan yang meleleh.

Lempeng tektonik bergerak tanpa henti menyobek dan bertabrakan. Beberapa lempeng terpisah membentuk kulit baru. Ketiksa salah satu lempeng berada dibawah lempeng lain, maka terbentuk zona gunung api.

Bumi terbentuk berupa daerah yang kering dan panas tanpa air dan tanpa oksigen di udara. Air terbentuk akibat adanya komet es yang menabrak bumi kemudian menyebabkan hujan kosmik dengan mengandung puluhan ton komet es menghujani atmosfir bumi setiap 3 detik. Ketika atmosfer dipenuhi air hujan mulai turun dan menyebabkan banjir besar di bumi selama waktu yang sangat lama.

Ketika bumi mulai stabil, diperkirakan kehidupan di bumi mulai ada. Hal terseabut dibuktikann dengan penelitian terhadap bakteri dalam batu besar pada kedalaman tertentu. Bakteri tersebut mampu hidup pada kondisi yang sangat ekstrem. Bukti dari fosil-fosil tersebut mampu digunakan untuk memperkirakan waktu hidup suatu makhluk hidup.Di Dalam laut pun kehidupan bakteri juga ditemukan.Dalam larutan kimia pada gunungapi bawah laut mereka hidup.

Lempengan tektonik di dasar laut pecah dan membentuk gunungapi baru di dasar laut. Karena ledakan itu dalam waktu yang lama terbentuk pulau/benua.
Lapisan lithosfer membentuk benua memiliki kedalaman 60 mil. Penggalian paling dalam adalah baru pada kedalaman 6 mil dengan menggunakan gelombang kejut. Sebuah dinamit ditanam kemudian diledakkan. Geophone akan mencatat informasi dari gelombang yang datang dari pantulan suara ledakan dinamit yang menuju ke bawah tanah dan kembali ke atas. Sehingga didapatkan informasi berupa peninggalan pulau vulkanik.
200 juta tahun lalu, benua raksasa yaitu Pangea terpecah menjadi dua. Bukti-bukti sejarah dapat ditemukan dari batuannya.

Samudra atlantik yang membelah antara afrika dan amerika selayan terbentuk karena bencana geologi yang memecah pangea. Dalam masa geologi hal tersebut terjadi sangat cepat Kecepatan retakan 2 inci per tahunn kea rah utara. Kemudian sumber api vulkanik keluar menyembur dari retakan tersebut.

Bukti adanya retakan dapat diketahui dari adanuya kesamaan garis pantai antara afrika dan amerika selatan.

65 juta tahun yang lalu india adalah pulau mengapung yang menuju asia ketika dataran berlapis Deccan Traps terbentuk.
Hoba, meteor terbesar didunia mengandung elemen iridium yang menurut ahli geologi digunakan untuk menghubungkan antara hujan meteor yang terjadi di Indonesia dengan musnahnya dinosaurus.

Pada sebuah rawa terdapat suatu pintu masuk menuju dunia kuno. Gua-gua tersebut membawa suatu cerita bahwa dahulu gua ini merupakan laut. Aira tawar disana bercampur dengan air laut dan menimbulkan cahaya redup. Di atap gua terbentuk dinding sepreti keju lembut berupa batuan kapur yang sangat rapuh. Hal tersebut menunjukkan bahwa gua tersebut terbentuk dalam ratusan taun.

Pada kedalaman 20 meter terdapat fosil kotoran kelelawar.Ketika gua kering dan kelelawar bergelantungan diatas. Kemudian koorannya terkumpul dibawah ketika air pasang. Semakin jauh kedalam terdapat debu gurun sahara. Ketika badai terjadi, pasir merah tersebut tertiup masuk kedalam gua. Bukti lain yang menunujukkkan bahwa gua tersebut pernah kering adalah terdapat stalakmit dan stalaktit.

PENAJAMAN KONTRAS PADA PEMROSESAN CITRA DIGITAL

Histogram citra merupakan representasi grafis karakteristik spectral citra yang bersangkutan. Seorang analis citra dapat memahami citra yang akan di ekstract informasi didalamnya dapat melihat histogram citra, misalnya aspek kecerahan atau ketajamannya dan juga dapat diketahui saluran yang digunakan. Citra dengan spektrum gelombang yang relatif pendek akan terlihat bukit tunggal yang sempit, sedangkan untuk wilayah perairan yang lebar, dengan spektrum inframerah dekat menghasilkan dua bukit dengan ketajaman lebih tinggi. Dengan adanya perubahan nilai spektral pada citra, maka akan merubah bentuk dari histogram dan juga sebaliknya dari perangkat lunak tertentu dapat merubah tampilan citra dengan memanipulasi bentuk dari histogram.
Gambar Citra Multipektral ALOS dengan Komposit 432

Penajaman kontras (image enchancement) meliputi seluruh operasi untuk menghasilkan citra baru dengan kenampakan visual dan karakteristik spektral yang berbeda. Penajaman kontras dilakukan untuk membuat citra memiliki kesan kontras yang lebih tinggi dari citra awal. Penajaman citra dilakukan dengan mentransformasikan nilai piksel, maka akan terbentuk nilai piksel maksmimum yang lebih tinggi dari nilai maksimum awal dan umumnya nilai minimumnya lebih rendah dari nilai minimum awal.

Perentangan kontras menciptakan histogram baru dengan julat yang lebih lebar sehingga kualitasnya lebih baik. Dengan julat yang makin lebar dapat dikenali objek dengan lebih mudah. Untuk merentangkan kontras dilakukan dengan merubah nilai piksel dengan dikalikan faktor pengali atau dengan perbandingan Np input-Np min dibagi dengan Np max-Np min dikalikan panjang julat yang diinginkan. Maka akan didapat nilai piksel baru untuk citra yang digunakan. Secara visual, hasil ini berupa citra baru yang variasi hitam putih lebih menonjol, sehingga tampak lebih tajam dan memudahkan proses interpretasi. (Projo Danoedoro, 1996 : 93).
Gambar Histogram Citra, 
Menunjukkan Informasi Nilai Piksel dan Jumlah pada tiap Band Citra

Ekualisasi histogram dilakukan dengan menonjolkan julat-julat tertentu dan memasukkan nilai piksel dari suatu objek ke dalam nilai yang paling mendekati. Hal tersebut dimaksudkan untuk memasukkan objek dengan nilai piksel yang hampir sama menjadi satu dan ditonjolkan.

Dalam terapan untuk penginderaan jauh, teknik penajaman kontras penting untuk dilakukan karena hampir semua ekstraksi informasi membutuhkan bantuan teknik ini. Apabila dilakukan pada citra dengan saluran tampak, maka teknik ini dapat dengan mudah membedakan kerapatan vegetasi pada lahan pertanian atau bahkan sampai perbedaan suspensi muatan tersuspensi dalam air dapat diketahui.

PERBANDINGAN "FILTERING" CITRA DENGAN ENVI

A. Pendahuluan
Filtering merupakan suatu metode untuk menonjolkan suatu kenampakan pada citra sehingga lebih mudah dibedakan dengan kenampakan lain. Swain dan Davis (1978) memberikan batasan filter sebagai mekanisme yang dapat mengubah sinyal-sinyal optis, elektronis maupun digital, sesuai dengan kriteria tertentu. Lebih lanjut, keduanya menyatakan bahwa pemfilteran adalah suatu cara untuk ekstraksi bagian data tertentu dari suatu himpunan data, dengan menghilangkan bagian-bagian data yang tidak diinginkan. Fungsi dari filter pada pemrosesan citra adalah untuk menyeleksi suatu nilai piksel sehingga memiliki variasi nilai yang mampu menggambarkan kenampakan dengan lebih jelas dari citra asli. Untuk dapat menampilkan citra yang lebih jelas daripada citra aslinya maka diperlukan suatu penonjolan dan penyamaran dari nilai piksel. Dengan dilakukan operasi filtering diharapkan interpretasi visual dapat dilakukan dengan lebih mudah karena kenampakan menjadi lebih jelas.

Variasi nilai piksel pada sebuah citra diubah dengan menggunakan algoritma tertentu. Dengan menggunakan moving window/kernel dengan ukuran 3x3, 5x5 , 7x7 dan seterusnya. Setiap kernel tersebut juga memiliki bobot tersendiri yang tentunya juga mempengaruhi perubahan nilai piksel pada citra. Dengan bobot dan dari nilai piksel, dilakukan proses perubahan nilai piksel dengan menggeser kernel sampai semua bagian citra dilalui. Sehingga nilai piksel yang diubah sangat dipengaruhi oleh nilai piksel di sekitarnya.

Fisiografi atau kenampakan relief permukaan suatu daerah pada suatu citra penginderaan jauh seringkali tidak tergambarkan dengan jelas. Gambar yang ditangkap oleh sensor tidak selalu tepat dalam menggambarkan aspek fisiografis. Hal tersebut akibat dari keterbatasan sensor maupun akibat gangguan dari luar, misalnya cahaya matahari. Intensitas cahaya yang berbeda ketika mengenai suatu daerah akan memberikan efek yang berbeda pula pada kenampakan yang direkam. Sehingga citra hasil perekaman tidak selalu menunjukkan efek fisiografi secara jelas. Dengan ditampilkannya aspek fisiografi pada citra, sehingga citra dapat dianalisis secara lebih mendalam mengenai bentuklahan sehingga dapat diketahui pula aspek penggunaan lahannya.

Berbagai metode dalam filtering dapat digunakan untuk menonjolkan aspek fisiografi pada citra. Melalui teknik pemfilteran, variasi relief yang kurang jelas pada citra asli dapat ditonjolkan, sehingga topografi suatu bentuklahan tertentu dapat dibedakan dari yang lain secara lebih baik (Projo Danoedoro, 1996). Aplikasi filtering dalam menonjolkan aspek fisiografi dapat dilakukan dengan berbagai metode, misalnya dengan filter high pass, laplace, directional, shadow filter dan sebagainya. Pada tulisan ini hanya akan dilakukan pembandingan antara metode high pass, laplace dan directional.

B. Metode
Untuk melakukan pemfilteran spatial ini, digunakan softwere ENVI dan Arc-Giss. Citra yang digunakan adalah citra Landsat daerah Merapi yang telah di resize agar lebih mudah dalam mengamati kenampakan. Setelah citra telah difilter dengan ketiga metode tersebut kemudian setiap citra ditampalkan dengan kenampakan sungai dan garis kontur pada Arc-Giss, sehingga kesan fisiografi melalui pola aliran dan ketinggian dapat ditangkap dengan mudah.

Citra dilakukan filtering dengan menggunakan filter high pass, dan laplace, directional menghasilkan citra dengan kenampakan fisiografi dengan lebih jelas. Aspek warna/kombinasi warna sudah tidak lagi diperhatikan, karena penggunaan filter tersebut memang untuk menampilkan kesan fisiografi permukaan bumi dengan lebih jelas. Untuk menampilkan aspek tersebut akan lebih jelas jika digunakan gradasi/grayscale.

Metode filtering yang dilakukan mengguunakan kernel ukuran 3x3 untuk kesemua metode. Setiap kernel tersebut memiliki bobot masing-masing yang antar metode berbeda bobotnya. Untuk metode directional input yang digunakan adalah 45. Dengan nilai input yang berbeda nantinya juga dihasilkan bobot yang berbeda untuk setiap kernel.

C. Hasil dan Pembahasan
Pada band 4 untuk setiap metode filtering terlihat kesan fisiografi sangat terlihat jelas jika dibandingkan dengan band yang lainnya. Namun yang ditampilkan pada band 4 tersebut merupakan fisiografi vegetasi. Hal tersebut karena vegetasi memiliki pantulan yang tinggi pada band 4. Untuk menonjolkan kesan fisiografi permukaan bumi dengan meminimalisisr pengaruh dari landcover yang seringkali berupa vegetasi, maka digunakan band yang peka terhadap objek tanah. Band yang dapat digunakan adalah band inframerah tengah maupun inframerah jauh. Disini akan digunakan band 5 untuk ditampalkan dengan sungai dan garis kontur.

Setiap filter menunjukkan kenampakan fisiografi dengan lebih jelas pada citra. Perbedaan ketinggian dengan variasi yang besar mampu diperlihatkan sehingga aspek topografi pada citra hasil filter sangat jelas dibanding pada citra asli. Akan tetapi jika dibandingkan antara ketiganya, dapat dilihat hasil filtering menggunakan metode directional mampu menyajikan kesan fisiografi paling jelas. Hal tersebut karena pada tipe filter directional nilai kecerahan yang dihitung untuk arah sumbu x dan sumbu y. Aspek bayangan yang besar akan menampilkan kesan 3D yang lebih jelas pula. Dengan sudut 45 derajat yang digunakan dalam algoritma tersebut, kesan fisiografis yang ditampilkanpun dapat maksimal. Secara visual kesan timbul tersebut tampak sangat jelas pada hasil filter directional.

Pada hasil filter laplacian aspek fisiografis tampak terlihat lebih halus dibanding filter highpass dan laplacian. Terlihat kenampakan rekahan pada daerah disekitar gunung merapi dan merbabu. Jika pada filter highpass kenampakan dengan pantulan yang tinggi akan ditampilkan dengan rona yang lebih terang. Hal tersebut terlihat pada objek berupa material pasir dari merapi. Aspek yang terlihat dari hasil filtering dengan highpass dan laplacian juga memperlihatkan aspek perbedaan ketinggian atapun kedalaman.

Setelah dilakukan penampalan dengan kenampakan sungai dan garis kontur secara umum semua citra hasil filter mampu memberikan kesan ketinggian lebih jelas. Kenampakan fisiografi yang paling terlihat hasil pertampalan dengan sungai dan garis kontur adalah pada hasil filter directional, sementara untuk highpass dan laplacian hampir menunjukkan kesan yang sama.
A

B

C


Gambar Bagian (A) merupakan citra hasil filtering menggunakan directional fillter, Bagian (B) menunjukkan tampalan antara hasil filter directional dengan sungai, dan bagian (C) menunjukkan tampalan antara filter directional dengan garis kontur.


D. Kesimpulan
Aplikasi dari filtering ini sangat penting digunakan untuk menonjolkan kenampakan topografi suatu daerah, sehingga aspek geologi maupun geomorfologi dapat diketahui. Bentuk dan jenis batuan juga dapat diindera ketika diketahui bentuklahan suatu daerah. Suatu bentuklahan dapat diketahui jika informasi berupa rekahan, igir ataupun suatu sub satuan lahan yang lain mampu ditonjolkan. Selain itu dengan pendekatan geologi maupun geomorfologi dapat diketahui aspek lain misalnya pola spasial objek.

E. Acuan
Danoedoro, Projo. 1996. Pengolahan Citra Digital. Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta


(untuk file lengkap dapat diminta ke penulis)






BELAJAR DARI BENCANA ALAM


Erupsi Gunung Merapi 2011
Disampaikan Oleh : Badan Pertanahan Nasional @novotel
Resume oleh : Habeeb Maruu :))

Erusi merapi selalu melewati daerah di sekitar kali gendol. Daerah yang terkena oleh awan panas dapat dilihat dari citra satelit. Terlihat daerah sekitar kali gendol dan beberapa titik di sekitar sungai yang berada di sekitar merapi terlewati awan panas. Banyak rumah-rumah tertutup abu vulkanik. Namun tak semua daerah dengan jarak yang sama terkena efek dari erusi merapi. Dari citra dapat terlihat ada daerah yang berada di sebelah kanan dari sungai tidak terkena efek dari erupsi merapi, sementara di sebelah kiri sungai daerah tersapi awan panas dan tertutup abu vulkanik. Kemudian aliran lumpur dan abu vulkanik sampai di selatan di daerah Merapi Golf. Namun hanya sedikit daerah dari Merapi Golf yang terkena abu vulkanik.

Provinsi di Jawa tengah yang terkena akibat dari erupsi adalah di kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten. Di kabupaten Magelang, daerah yang terkena adalah Muntilan, Dukun, Salam, Srumbung, Sawangan, Mungkid. Untuk di kabupaten Boyolali daerah yang terkena adalah di Selo, Copogo, Musuk, ampel, boyolali, Mojosongo. Daerah di kabupaten Klaten yang terkena akibat erupsi merapi adalah Kemalang, Manisrenggo dan Karangnongko. Dari peta dapat dilihat terdapat permukiman dalam radius 5km dari puncak merapi. Daerah tersebut banyak terdapat di boyolali.

Dari siklus manajemen bencana terdapat dua poin penting, yaitu tahap proteksi dan recovery. Tahapan proteksi berupa tahapan awal terhadap bahaya bencana, yaitu sangat berhubungan dengan cara mitigasi. Mitigasi adalah tindakan baik terstruktur maupun tidak terstruktur yang dilakukan atas bahaya dan dampak dari bahaya alam, degradasi lingkungan dan bahaya teknologi (ISDR.2004). Langkah mitigasi ini misalnya dilakukan dengan peringatan dini. Pada tahap recovery adalah tahapan setelah terjadi bencana yaitu berupa cara rehabilitasi dan rekonstruksi.

Untuk rekonstruksi seperti pada kasus aceh. Setelah terjadi bencana, tanah mungkin telah terjadi pergeseran dari posisi awal. Dalam rangka rekonstruksi fisik, dilakukan dengan cara yang efektif dan efisien.

Teknologi dapat digunakan untuk membantu dalam memantau dampak yang terjadi saat ini. Tahapan relokasi dapat dilakukan dengan memilih daerah yang akan di relokasi dengan mempertimbangkan daerah yang terpengarus letusan saja.

Manajemen bencana adalah siklus berkelanjutan yang digunakan untuk pembelajan. Untuk mendata daerah yang terkena bencana perlu dilakukan secara cepat, rekonstruksi yang akurat dan mitigasi yang lebih baik. Respon yang cepat dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi untuk memantau dampak yang terjadi.


AEROMODELLING UNTUK PENGINDERAAN JAUH




Penginderaan Jauh dibagi menjadi dua yaitu penginderaan jauh sistem fotografi dan penginderaan jauh sistem non fotografi. Keduanya sering dibedakan berdasarkan sensor yang digunakan. Penginderaan jauh sistem non fotografi menggunakan sensor CCD untuk melakukan mengambil informasi di permukaan bumi. Prinsip kerjanya mirip dengan scanner, yaitu dengan penyiaman. Kemudian untuk penginderaan jauh sistem fotografi digunakan film sebagai sensor. Film tersebut menangkap informasi yang direkam, sehingga menghasilkan gambar pada film tersebut.

Penginderaan jauh sistem fotografi lebih dahulu ditemukan, karena sistem tersebut banyak menggunakan saluran tampak sama seperti kepekaan mata manusia. Perkembangan awal penginderaan jauh sistem fotografi adalah ketika tahun 1858, Gaspard Felix Tournachon menggunakan balon udara untuk memotret daerah Bievere, Perancis. Dia menghasilkan foto udara pertama kali dengan menggunakan balon udara pada ketinggian 80m. Setelah itu, penginderaan jauh sistem fotografi terus berkembang dan banyak digunakan oleh manusia.

Seiring dengan perkembangannya teknologi, saat ini penginderaan jauh sistem non fotografi dengan sistem fotografi mulai sulit untuk dibedakan. Penggunaan film dirasa tidak efektif dan memerlukan biaya yang mahal karena selain melalui proses yang lama sebelum gambar dapat digunakan, yaitu melalui pencucian dan pencetakan, sehingga biaya yang dikeluarkan lebih mahal. Kemudian sistem fotografi mulai menggunakan CCD sebagai sensor dalam kamera, sehingga saat ini sistem manual pada penginderaan jauh sistem fotografi beralih pada sistem digital.

Perkembangan dari foto yaitu munculnya video yang dirasa mampu digunakan sebagai media untuk penyadapan informasi dipermukaan bumi. Penggunaak video dirasa lebih murah dan efisien, karena dari video tersebut semua informasi dapat direkam secara terus menerus sehingga tidak ada bagian yang terlewatkan. Data video tersebut dapat digunakan sebagai media pemantau dari suatu keadaan, misalnya pemantauan kebakaran hutan, pemantauan penebangan liar dan sebagainya. Dengan videografi ini menjadi alternative untuk penyadapan informasi permukaan bumi, karena memenuhi kriteria yaitu berbiaya murah, mudah untuk dioperasikan , perolehan hasil yang lebih cepat dan kualitas yang cukup baik.
Akan tetapi penggunaan kamera yang digunakan untuk pemotretan seringkali mengalami gangguan-gangguan yaitu distorsi. Distorsi yang terjadi dapat bermacam-macam, distorsi akibat lensa, distorsi akibat dari sensor, distorsi akibat wahana maupun akibat gangguan dari luar. Distorsi karena lensa dibagi menjadi 4, yaitu distorsi akibat dari lensa, yaitu barell distortion, penchussion distorstion, vignette distortion dan wave distortion.

Informasi yang didapat dari perekaman foto maupun video tersebut akan mampu menggambarkan daerah secara lebih luas cakupannya dengan dilakukan mozaik foto. Mozaik adalah proses penyusunan beberapa foto menjadi satu bagian, sesuai dengan urutan nomor foto jalur terbang. Dengan menggunakan videografipun dapat diekstrak menjadi banyak foto dalam suatu bagian perekaman. Informasi yang mampu direkam lebih banyak, sehingga foto yang dihasilkan juga lebih banyak.

Cara mozaik foto dapat dilakukan dengan manual, yaitu menyusun sesuai urutan pemotretan. Akan tetapi jika foto yang dihasilkan sangat banyak, seperti pada penggunaan videografi, maka mozaik foto dapat dilakukan dengan softwere, sehingga lebih mudah. Untuk dapat digunakan secara lebih maksimal, hasil mozaik tersebut perlu diberikan koordinat.

ELEMEN DALAM FOTOGRAFI (FOTOGRAMETRI)

Contoh Penerapan ISO dalam Fotografi


  1. Pada kamera terdapat unsur-unsur penting yang mempengaruhi hasil pemotretan, yaitu ISO, bukaan kamera dan shutterspeed.
  2. ISO/ASA berkaitan dengan tingkat kesensitifitasan sensor, semakin tinggi ISO, maka sensor semakin sensitive dalam menagkap cahaya.
  3. Apperture atau bukaan kamera berkaitan dengan besar bukaan dari diafragma, semakin besar bukaan, maka cahaya yang masuk semakin banyak
  4. Shutterspeed atau kecepatan rana berkaitan dengan kecepatan dari bukaan kamera, semakin cepat bukaan, maka cahaya yang masuk semakin sedikit.
  5. Untuk menghasilkan gambar yang baik dibutuhkan komposisi yang pas antara nilai ISO, Apperture dan Shutterspeed.
  6. Gambar yang baik adalah gambar dengan cahaya yang pas, tidak undereksposure, tidak overeksposure.
  7. Gambar undereksposure adalah gambar kekurangan cahaya, hal ini mungkin terjadi karena ISO yang terlalu tinggi, bukaan yang terlalu besar atau kecepatan rana yang terlalu cepat.
  8. Gambar overeksposure adalah gambar yang kelebihan cahaya, hal ini mungkin terjadi karena ISO yang terlalu rendah, bukaan yang terlalu besar atau kecepatan rana yang terlalu cepat.
  9. Untuk mengatasi gambar yang undereksposure dapat dilakukan dengan memperbesar bukaan atau memperlama shutterspeed,
  10. Untuk mengatasi gambar yang overeksposure dapat dilakukan dengan memperkecil bukaan atau memcepat shutterspeed,
  11. Untuk memahami konsep komposisi ISO, apperture dan shutterspeed ini dapat digunakan HUKUM EMBER.
  12. Hukum ember menyebutkan bahwa ISO dianalogikan sebagai ember, shutterspeed sebagai lama bukaan keran dan aperture sebagai diameter bukaan keran.
  13. Jika ember (ISO) besar, shutterspeed (lama bukaan keran) cepat, maka bukaan (diameter keran) harus besar agar ember terisi pas
  14. Tetapi jika shutterspeed (lama bukaan keran) lama dan bukaan (diameter keran) besar, mungkin akan terjadi ember penuh dan air tumpah, kejadian ini dianalogikan seperti gambar yang overeksposure (kelebihan cahaya)
  15. Jika shutterspeed (lama bukaan keran) cepat dan bukaan (diameter keran) kecil, mungkin akan terjadi ember hanya sedikit berisi air, kejadian ini dianalogikan seperti gambar yang undereksposure (kekurangan cahaya)
  16. Gambar yang baik, ketika ISO tinggi Apperture besar, maka shutterspeed harus lebih kecil/cepat.
  17. Gambar yang baik, ketika ISO rendah, Apperture besar, maka shutterspeed harus lebih besar/lama.

MEMBUAT FOTO 3-D

Assalamualaikum
Tanggal 24 April 2011, kami ada praktikum lapangan mata kuliah Penginderaan Jauh Sistem Fotografi.

Abis itu dapet tugas membuat foto 3D. Tentunya pakai softwere lah buatnya :p
Buatnya sangat mudah, anda cuma butuh dua pasang foto dari sudut pandang yang berbeda, dari kanan dan dari kiri. kemudian anda download softwere namanya ANAGLYPH MAKER, coba search aja uda banyak kok gan

Langkah langkahnya seperti ini

  1. Download softwere anaglyph maker di http://www.4shared.com/file/zAdtX5yu/anaglyph_maker.htm
  2. Buka program
  3. Masukkan foto kanan dan foto kiri sesuai pada kolom buat masukin poto
  4. Pilih mau buat yang model kayak apa potonya, misalnya anaglyph gray, colour, red green dan sebagainya coba coba aja
  5. Klik make image 3D
  6. Atur posisi gambar agar pas dengan menggunakan tombol 5L, L, 0, R, 5R, U, 5U, D, 5D
  7. Setalah gambar uda pas (kira kira aja dipasinnya) atur brightness dan contrast nya
  8. Setelah itu save 3D image di folder yang kamu sukai :3
  9. Gunakan kacamata 3D untuk melihat gambar, maka akan terlihat tuh jadi 3D

ini contoh foto yang aku buat

kanan


kiri


hasil


kalau dilihat sih kayaknya g ada perubahan yang berarti, coba dilihat dengan kacamata 3D

PENGENALAN SISTEM KAMERA ANALOG

Contoh kamera analog (1)

Kamera jenis SLR (Singele Lense Reflex) yaitu perekaman yang dilakukan menggunakan satu rangkaian lensa. Ketika objek direkam, maka bayangan akan masuk dalam lensa tunggal, kemudian cermin yang berada disebaliknya akan memantulkan objek ke prisma. Setelah itu bayangan akan diteruskan ke mata melalui view finder. Dengan cara tersebut, maka bayangan yang diamati oleh fotografer akan sama dengan yang terekam pada film.
Contoh kamera analog (2)

Kamera jenis SDVC (Simple Direct Vision Camera) menerapkan prinsip perekaman objek yang antara lensa pengamat dengan lensa perekam tanpa ada hubungan satu dengan yang lain. Kelemahan dari kamera ini adalah tidak dapat diketahui kekuatan lensa, pajang focus dan spesifikasi lain yang biasaya tercantum dalam sebuah kamera.

Kamera ketiga yaitu jenis DVIL (Direct Vision with Interchangeable Lens), yaitu kamera dengan lensa pengamat yang terdiri dari dua jendela dan lensa perekam objek terpisah, namun terhubung oleh sistem yang dapat mengetahui ketepatan focus. Perekaman yang dilakukan adalah wide angle dengan perspektif lebih luas apabila dilakukan pengamatan tanpa melalui view finder.

Didalam fotografi terdapat film sebagai perekam keadaan nyata dari objek yang dipotret. Secara khusus fotografi dalam penginderaan jauh, film adalah sebagai sensor. Sensor berfungsi untuk merekam apa yang dlihat oleh kamera. Sensor berkaitan dengan ukuran. Dalam fotogrametri, ukuran objek di lapangan dapat diketahui dari foto, tergantung oleh ukuran sensor/film. Film yang biasa digunakan oleh orang secara umum memiliki ukuran 35 mm atau 70mm, sedangkan film yang digunakan untuk penginderaan jauh/foto udara biasanya memiliki ukuran yang lebih besar, yaitu 23mmx23mm atau lebih besar.

ASA atau Kepekaan film adalah digunakan untuk mengukur tingkat kesensitivitas atau kepekaan film foto terhadap cahaya. Film dengan kepekaan rendah (memiliki angka ISO rendah seperti ASA 100) membutuhkan sorotan/exposure yang lebih lama sehingga disebut slow film, sedangkan film dengan kepekaan tinggi (memiliki angka ISO tinggi seperti ASA 800) membutuhkan exposure yang singkat.

Kepekaan dari sensor dipengaruhi oleh ISO/ASA. Apabila ISO yang dimiliki film rendah maka ukuran foto akan lebih kecil/piksel lebih sedikit. Jika ISO rendah, maka butir halide pada film lebih kasar, sehingga cepat untuk terbakar, namun hasil foto kurang begitu baik karena banyak terdapat speckel atau noise. Kemudian jika ISO tinggi, maka karena butir perak halide lebih halus sehingga film lama terbakar dan hasil lebih baik.

Bukaan dalam fotografi merupakan ukuran pembukaan diafragma dalam mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk dalam kamera. Nilai dari bukaan merupakan perbandingan dari jarak focus lensa dengan diameter lubang diafragma dan biasanya dilambangkan dengan format f/(nilai bukaan).

Shutter speed merupakan kecepatan dari bukaan, sehingga cahaya dapat masuk. Agar dihasilkan foto dengan hasil yang baik, maka perlu memperhatikan perbandingan antara shutter speed, bukaan diafragma dan kepekaan film. Baik nya suatu foto tergantung oleh kesesuaian cahayanya. Kesesuaian tersebut yaitu sesuai ukuran cahaya dan lama cahaya yang masuk. Hal tersebut dapat dianalogikan seperti sebuah ember. Shutter speed sebagai lama keran mengalirkan air, bukaan merupakan besar kecilnya keran, dan kepekaan film sebagai embernya. Semakin besar bukaan, maka shutter speed harus semakin cepat dan kepekaan film harus tinggi. Kemudian jika bukaan besar, maka shutter speed harus lambat dan kepekaan film harus rendah. Diafragma yang dibuka besar, sementara shutter speed bekerja lama, lama gambar kelebihan cahaya, sehingga didapatkan gambar yang pucat karena kelebihan cahaya. Kemudian ketika diafragma dibuka kecil, sementara shutter speed bekerja sebentar maka gambar kekurangan cahaya dan warna gambar menjadi gelap.

Ada dua jenis film pada kamera, yang pertama adalah film hitam putih dan yang kedua adalah film berwarna. Pada film berwarna ada 4 lapis. Lapisan pertama adalah lapisan yang peka dengan warna biru, kemudian lapisan kedua adalah lapisan dengan filter kuning, lapisan ketiga adalah lapisan

Kekuatan lensa adalah kemampuan lensa dalama mengumpulkan cahaya. Jika kekuatan lensa semakin kecil, maka focus dari lensa semakin kecil cahaya yang dikumpulkan akan semakin besar. Jika cahaya yang mampu dikumpulkan kecil, maka kamera membutuhkan cahaya tambahan berupa blitz. Kemudian jika diafragma lebar, maka ruang tajam semakin sempit dan latar belakang dan latar depan menjadi tidak focus, sehingga didapatkan gambar yang kabur.


sumber :

Habeeb.2011. Laporan Praktikum Penginderaan Jauh Sistem Fotografi. Faakultas Geografi.UGM
http://adityapermana.ucoz.com/blog/2009-04-16-9
Lillesand, Kiefer. 1999. Penginderaan Jauh Dan Interpretasi Citra. Gadjah mada University Press : Yogyakarta.

KAMERA DIGITAL

Saat ini teknologi kamera telah mengalami perkembangan yang begitu pesat. Dahulu kala kamera ditemukan dalam bentuk pinhole atau sebuah kamera obscura, namun seiring bertambahnya waktu, saat ini telah berkembang teknologi kamera digital.

Contoh gambar kamera lubang jarum


Ilustrasi kamera lubang jarum
Adanya kamera digital tidak bisa dilepaskan dari munculnya teknologi komputer. Kamera digital muncul setelah ditemukan teknologi computer, karena kamera digital ditampilkan dalam suatu layar digital seperti layar monitor pada komputer. Menurut definisinya kamera digital merupakan alat untuk membuat gambar suatu objek yang selanjutnya dibiaskan melalui lensa kepada sensor. Sensor yang digunakan pun juga tbermacam-macam. Ada sistem kamera menggunakan sensor berupa CCD, ada pula yang menggunakan sensor CMOS, kemudian hasil dari perekaman disimpan dengan format dan dalam media digital. CCD/CMOS berupa chip yang berada di belakang lensa yang terdiri dari banyak piksel. Apabila jumlah piksel semakin banyak, maka kedetailan gambar juga semakin baik. Hal ini berbeda dengan kamera analog yang menggunakan film sebagai sensor. Film dan CCD/CMOS berfungsi sebagai penangkap bayangan objek dan salah satu pembeda antara kamera digital dengan kamera analog.

Kamera digital sering memiliki sebuah layar kecil yang dapat menampilkan hasil perekaman objek. Kita dapat melihat hasil rekaman yang ditangkap oleh sensor pada LCD secara langsung, sehingga ketika hasil rekaman objek ternyata kurang baik, dapat langsung dikoreksi untuk dapat diulang kembali dalam memotret objek. Pada kamera analog tidak dapat menampilkan hasil foto secara langsung, sehingga untuk meliha hasil rekaman harus dilakukan pencetakan foto dahulu.
Contoh gambar kamera digital

Perekaman objek disimpan dalam format digital. Secara default hasil perekaman disimpan dalam format JPG. Walaupun dapat diubah kedalam format lain, misalnya TIFF atau RAW namun tentunya akan membutuhkan ruang lebih beasr untuk menyimpan file tersebut. Penyimpanan file hasil perekaman kamera dilakukan pada media penyimpanan digital tertentu, biasanya disimpan dalam memory stick/MMC. Semakin besar resolusi dari CCD, maka file foto/gambar akan memakan banyak ruang dalam memory kamera. File pada kamera digital dapat dipindahkan kedalam media penyimpanan lain, misalnya disket, compact disk, hark disk, maupun flashdisk.

RANGKUMAN (FOTOGRAMETRI)

1. Foto tercipta dengan kerja sama lensa dan kamera...
2. Pada lensa terdapat diafragma yang mengatur besar kecilnya cahaya yang akan masuk ke kamera.
3. Pada kamera ada rana yang mengatur lama sebentarnya cahaya masuk ke dalamnya
4. Perhatikan dua kombinasi dari poin 3. Di lensa ada diagrafgma yg menyangkut soal BESAR/KECIL, di kamera ada rana yg soal LAMA/SEBENTAR
5. Jadi, masuknya cahaya ke kamera sampai menghasilkan foto menyangkut besar/kecilnya cahaya dan lama/sebentarnya dia menyinari...
6. Foto yg baik, tercahayai dgn benar. Benar ukuran cahayanya, benar lama penyinarannya. Artinya kerjasama diafragma dan rana harus TEPAT!
7. Soal pencahayaan dgn benar ini, mari ambil analogi orang mengisi ember pakai kran....
8. Kalau krannya dibuka lebar, menghisi embernya cepet. Kalau kran dibuka kecil, ngisi embernya lama.....ya gak ?
9. Mari bawa logika kran tadi ke kamera. Kalau diafragma dibuka lebar, rana hrs cepat nutup. Kalau diafragma dibuka kecil, rana dibuka lama.
10. Kran yg dibuka besar dan waktunya lama--->ember meluap. Diafragma yg dibuka besar dgn rana lama, foto kelebihan cahaya ---> pucat!
11. Kran dibuka kecil dgn waktu sebantar--->ember tak penuh. Diafragma dibuka kecil dgn rana sebentar--->foto kekurangan cahaya (gelap)
12. Foto kelebihan cahaya disebut over exposure, atau biasa disebut OVER saja...
13. Foto yg kekurangan cahaya disebut under exposure atau bisa disebut UNDER saja...
14. Penegasan: Foto yang baik adalah foto yg tercahayai dengan pas, tidak UNDER dan tidak OVER
15. Foto yg tercahayai dengan baik adalah hasil kombinasi diafragma dan rana yang pas...
16. Kalau saja Anda memotret lalu terlihat OVER, ulangi lagi dgn diafragma yg lebih kecil atau rana yang lebih cepat (waktu lebih singkat).
17. Sedangkan kalau Anda memotret hasilnya UNDER, ulangi lagi dgn diafragma yg lebih besar atau rana yang lebih lambat...
18. Diafgragma klasik (zaman lensa manual) dinyatakan dalam angka2 sebagai berikut 1 -1,4 -2- 2,8- 4 -5,6 -8 -11 -16- 22 dst........
19. Angka diafragma makin besar, artinya bukaan makin sempit. Dari satu angka diafragma ke angka diafragma yg lain disebut satu STOP...
20. Di era digital, angka diafragma makin rumit walau cara kerjanya sama persis. Untuk gampangnya, kultwit ini memakai angka diafragma klasik
21. Sedangkan rana dinyatakan dalam angka2 yg artinya seper detik. Angka 500 artinya seperlimaratus detik.
22. Angka rana klasik: 2-4-8-15-30-60-125-250-500-100-200-4000\
23. Kenaikan antar angka rana juga disebut 1 STOP....
24. Satu STOP difragma nilainya persis sama dgn satu STOP rana. Artinya jika diafragma dikecilkan 1 Stop, rana dilambatkan 1 Stop agar imbang
25. CONTOH: diafragma 5,6 dgn rana 125 itu sama dengan diafragma 8 dgn rana 60. Coba dipikirkan baik2 dulu....
26. Diafragma 11 dgn rana 125 itu sama dengan diafragma 5,6 dgn rana 500....
27. Diafragma 11 dgn rana 125, sama dengan diafragma 16 dgn rana 60....
28. OK...itu tadi kombinasi dua arah antara diafragma dan rana saja.....Dlm fotografi, kombinasi itu ada 3, dan satu lagi adalah ISO.....
29. Mari kita mulai merambah ke ISO.....Dan kita kembali memakai analogi mengisi ember pakai kran...
30. Apa yg harus kita lakukan kalau aliran kran kecil sementara kita juga buru2?...bagaimana supaya ember bisa penuh? Jawaban: GANTI EMBER!
31. Ganti ember dalam fotografi adalah ganti ISO....mana kala ember tidak penuh, kita ganti ember kecil PASTI PENUH...
32. Jadi manakala kita sudah buka diafragma lebar2, tapi tidak bisa melambatkan rana lagi, naikkan ISO!
33. ISO adalah kepekaan sensor kamera terhadap cahaya. makin tinggi ISO, makin peka terhadap cahaya (alias ukuran ember makin kecil)
34. Angka ISO dinyatakan dgn 50-100-200-400-800-1600-3200-6400 dst...Makin besar angkanya, makin peka cahaya. Antar angka ISO adalah 1 STOP
35. ISO dalam era digital SAMA PERSIS dgn ISO di jaman dulu. Semua teori dasar fotografi analog dan digital SAMA PERSISSSSSSSS...
36. OK...kini kita sudah masuk ke segitiga. Bukaan kran, lama ngisi ember dan besarnya ember.......
37. Kalau kita mau mengubah-ubah tingkat pencahayaan, kita bisa memainkan nilai stop dari tiga arah: dari diafragma, dari rana atau dari ISO
38. Sebelum menjabarkan efek ISO tinggi atau efek bukaan diafragma besar, kita perjelas hubungan dafragma, rana dan ISO dulu dgn soal contoh
39. Kombinasi ISO 400, diafragma 8 dan rana 500 setara dgn ISO 400, diafragma 5,6 dan rana 1000
40. Kombinasi ISO 400, diafragma 8 dan rana 500 setara dgn ISO 800, diafragma 8 dan rana 1000
41. OK! pelajari berbagai contoh tadi. Rasakan logika ini dgn analogi mengisi ember (buka kran besar apa efeknya, ember kecil apa efeknya)
42. Itu adalah cara bagaimana mendapatkan pencahayaan yang tepat....Itu adalah TEORI DASAR FOTOGRAFI yang baik dan benar (dan tidak sombong)
43. ISO makin tinggi, foto yg dihasilkan makin kasar ("berpasir", alias grainy)
44. Diafragma makin sempit (angkanya makin besar), Depth of Field (DOF) makin lebar...
45. DOF adalah ruang tajam. DOF yg lebar membuat beberapa meter di depan dan di belakang titik fokus ikut terekam tajam

sumber
http://pekatkata.posterous.com/rangkuman-kultwit-teori-dasar-fotografi-penca