TIPOLOGI PESISIR SELATAN MUARA SUNGAI OPAK





Pesisir dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pesisir primer dan pesisir sekunder. Pesisisr primer dipengaruhi oleh proses terrestrial, seperti erosi, deposisi, volkanik dan diatropisma daripada aktivitas organism maupun marin, sedangkan pesisir sekunder dikontrol oleh organism dan akibat gelombang. Pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki Tipologi pantai yang beragam. Pesisir yang berada pada muara sungai opak, yang meliputi pesisir pantai parangtritis dan pesisir pantai depok apabila diamati banyak dipengaruhi oleh proses aktivitas gelombang sehingga digolongkan pada tipologi Marin Deposition Coast.


Karakteristik bentukan pesisir pantai parangtritis dan pantai depok hampir sama. Zona yang ada didepan zona pecah gelombang, merupakan sedimentasi dari pasir yang terbawa oleh aktivitas gelombang air laut. Sedimentasi tersebut berasal dari salah satu aliran sungai besar yang bermuara kea rah laut. Zona diantara air laut dan air sungai terbentuk pula endapan/sedimentasi memanjang menghalangi bertemunya aliran sungai dan air laut secara langsung. Sedimentasi tersebut disebut dengan Split. Namun pada bagian tertentu, karena kekuatan air sungai yang mampu menembus endapan tersebut, namun material yang diendapkan oleh gelombang lebih sedikit, maka terbentuk bagian pertemuan antara air sungai dan air laut.


Selain pengaruh utama dari gelombang air laut, pengaruh sungai juga memegang peranan penting dalam pembentukan pesisir di parangtirtis dan pesisir pantai depok. Jika aliran sungai tersebut tidak membawa sedimen dari daerah diatasnya, tentunya tipologi tersebut tidak terbentuk. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pembentukan tipologi Marin Deposisional Coast pada Muara sungai Opak, yaitu pada pesisir parangtritis dan pesisir depok, dibentuk oleh gelombang air laut dan dipengaruhi oleh adanya transfer/aliran sedimentasi dari sungai Opak. Material tersebut berasal dari daerah diatasnya atau pada relief lebih tinggi, terutama material cukup besar dari aktivitas vulkanisme gunung merapi.

Aliran dari sungai opak terlihat membelok kearah barat. Jika dilihat pada aliran sungai yang lain pada pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, atau bahkan di seluruh pesisir selatan pulau Jawa, dapat dikatakan mayoritas aliran berbelok kearah barat. Perubahan arah aliran sungai opak dan sungai-sungai lain di pulau Jawa tersebut dipengaruhi oleh aktivitas angin. Angin yang bertiup di pesisir selatan, terutama pada Samudera Hindia, yaitu angin muson. Angin muson timur yang bertiup dari Australia menuju kearah asia akibat tekanan di daerah Asia lebih rendah daripada di Australia.


Penduduk sekitar muara sungai opak banyak bermata pencaharian sebagai petani. Pada citra menunjukkan bahwa luasan lahan pertanian di pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta cukup luas. Sawah tersebut merupakan sawah lahan basah dengan system irigasi dari aliran sungai Opak.

Potensi pariwisata terdapat pada muara sungai opak, pada pantai parangtritis dan pantai depok. Parangtritis sebagai wisata pantai paling dikenal oleh masyarakat luas selalu ramai oleh wisatawan, baik local, regional, maupun mancanegara. Pantai depok sebagai wisata juga sebagai tempat kuliner, karena ditempat ini tersedia hidangan laut dari nelayan sekitar. Hasil tangkapan nelayan yang sebenarnya banyak berasal dari cilacap menarik penduduk sekitar yang awalnya sebagai petani untuk ikut menjadi nelayan menagkap ikan. Jumlah dari hasil tangkapan warga yang besar mendorong penduduk sekitar untuk mendirika pangkalan pelelangan Ikan dan Tempat pelelangan Ikan sebagai poros perekonomian di pantai Depok.




Muara sungai opak sangat rentan terhadap abrasi akibat gelombang pantai parangtritis dan sekitarnya yang sangat besar. Upaya dalam menaggulangi masalah tersebut, pemerintah daerah bekerjasama dengan penduduk sekitar menanam pohon bakau di sekitar muara sungai opak. Selain untuk mengurangi abrasi dengan menahan gelombang air laut, pada daerah yang ditanami bakau juga diharapkan menjadi habitat ikan dan udang sehingga dapat berkembangiak dengan baik. Pemerintah pun memberikan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya pohon bakau pada daerah dengan kerawanan terhadap bahaya tsunami.



Kuatnya hantaman gelombang pantai selatan sempat mengakibatkan kerusakan pada tumbuhan bakau yang ada. Menurut kompas.com pada 7 agustus 2011, ratusan pohon bakau atau mangrove di Dusun baros, Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek, kabupaten Bantul, Daerah Intimewa Yogyakarta, hanyut terseret gelombang. Rusaknya ratusan pohon bakau tersebut diakibatkan pada bulan Mei terjadi gelombang yang cukup besar melewati sungai dan menghantam tanaman mangrove tersebut. Kejadian tersebut tentunya semakin menggiatkan penduduk sekitar dibantu dengan pemerintah setempat untuk menanam mangrove lebih banyak untuk sebagai penahan gelombang laut. Setelah mencapai ketinggian satu meter, mangrove telah kuat untuk menahan gelkombang laut.
Penduduk sekitar juga mengembangkan budidaya kepiting/lemuru sehingga diharapkan dapat menjadi sumber perekonomian dari penduduk sekitar selain sebagai nelayan. Budidaya kepiting dilakukan dengan menggunakan sistem keramba atau jaring apung.
Apresiasi penduduk muara sungai opak terhadap lingkungan sekitar ternyata juga tinggi. Penduduk mepunyai kesepakatan untuk mengganti benih ikan jika diketahui penduduk yang melakukan perusakan terhadap habitat ikan. Hal tersebut tentunya menjadikan kelestarian lingkungan menjadi terjaga.





SUMBER
Langgeng Wahyu S,Materi Kuliah Oseanografi. 2011. Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta
http://beritadaerah.com/berita/jawa/43213
http://jogja-citytour.blogspot.com/2010/12/depok-beach.html
http://maps.google.co.id/
http://parangtritisyogya.blogspot.com/2009/09/potensi-kawasan-pesisir-yogyakarta.html
http://regional.kompas.com/read/2011/08/07/20462690/Ratusan.Pohon.Bakau.Hanyut.Disapu.Ombak

DAMPAK PEMBANGUNAN TERHADAP LINGKUNGAN



Pembangunan menimbulkan suatu dampak, baik terhadap makhluq hidup maupun terhadap lingkungan. Dampak terhadap lingkungan antaraq lain adalah terjadinya bencana banjir, kekeringan, erosi tanah, pencemaran lingkungan, matinya beberapa jenis tumbuhan dan hewan.

Pembangunan tersebut erat kaitannya dengan perubahan penggunaan lahan. Apabila terjadi perubahan penggunaan lahan, misalnya di daerah hulu/atas berupa hutan lindung digunakan untuk permukiman atau perumahan sedangkan daerah hilir digunakan untuk industry dan permukiman, maka akan berdampak besar untuk daerah itu sendiri maupun daerah di bawahnya. Terjadi erosi atau longsor di bagian atas/hulu karena terjadi penggundulan hutan yang dialihfungsikan untuk perumahan. Selain itu karena terjadi perubahan penggunaan lahan, juga terjadi kerusakan suatu ekosistem yang menyebabkan habitat tanaman atau binatang rusak. Hal tersebut sangat berdampak kepada beberapa tumbuhan atau hewan yang punya karakter khusus, yaitu hanya dapat bertahan hidup pada daerah dengan keadaan tertentu. Dibagian hilir dapat terjadi banjir karena di bagian hulu telah terjadi alih fungsi lahan dari hutan lindung menjadi permukiman, sehingga daerah diatas akan mengirimkan limpasan sedangkan daerah hilir. Karena daerah hilir juga mengalami perubahan penggunaan lahan, dari kebun menjadi industry maupun permukiman untuk kegiatan ekonomi, sehingga daerah resapan air semakin sedikit. Potensi banjir juga semakin besar.



Kekeringan juga mungkin dapat terjadi akibat pembangunan, dengan penggunaan airtanah yang berlebihan karena pembangunan besar-besaran maka persediaan airtanah semakin sedikit, sementara air hujan yang masuk kedalam tanah lebih lambat dari air yang digunakan/dipompa.

BENTUKAN FLUVIAL

1. Dataran alluvial (Alluvial Plain)

Dataran alluvial merupakan dataran yang terbentuk akibat proses-proses geomorfologi yang lebih didominasi oleh tenaga eksogen antara lain iklim, curah hujan, angin, jenis batuan, topografi, suhu, yang semuanya akan mempercepat proses pelapukan dan erosi. Hasil erosi diendapkan oleh air ke tempat yang lebih rendah atau mengikuti aliran sungai.
Dataran alluvial menempati daerah pantai, daerah antar gunung, dan dataran lembah sungai. daerah alluvial ini tertutup oleh bahan hasil rombakan dari daerah sekitarnya, daerah hulu ataupun dari daerah yang lebih tinggi letaknya. Potensi air tanah daerah ini ditentukan oleh jenis dan tekstur batuan.

2. Dataran banjir (Flood Plain)

Dataran banjir berupa dataran yang luas yang berada pada kiri kanan sungai yang terbentuk oleh sedimen akibat limpasan banjir sungai tersebut. Umumnya berupa pasir, lanau, dan lumpur.
Dataran banjir merupakan bagian terendah dari floodplain. Ukuran dan bentuk dari dataran banjir ini sangat tergantung dari sejarah perkembangan banji, tetapi umumnya berbentuk memanjang (elongate). Endapan dataran banjir (floodplain) biasanya terbentuk selama proses penggenangan (inundations).

Umumnya Endapan dataran banjir ini didominasi oleh endapan suspensi seperti lanau dan lumpur, meskipun kadang-kadang muncul batupasir halus yang terendapkan oleh arus yang lebih kuat pada saat puncak banjir. Kecepatan pengendapannya pada umumnya sangat rendah, berkisar antara 1 dan 2 cm lapisan lanau-lempung per periode banjir (Reineck dan Singh, 1980).
Endapannya mengisi daerah relatif datar pada sisi luar sungai dan kadang-kadang mengandung sisa tumbuhan serta terbioturbasikan oleh organisme-organisme. Di Indonesia, dapat ditemukan di Kecamatan kretek Kab. Bantul, yang merupakan dataran banjir dari Sungai Opak.




3. Tanggul alam sungai (Natural Levee)

Tanggul alam merupakan akumulasi sedimen berupa igir/tanggul memanjang dan membatasi alur sungai. Tinggi maksimum suatu tanggul terdapat pada bagian tepi dalam tanggul yang berbatasan dengan alur sungai dengan lereng yang curam. Hal ini menunjukkan bahwa tinggi muka air sungai pernah menapai permukaan tanggul tersebut pada saat terjadi banjir besar. Sebaliknya menjauhi alur sungai kea rah dataran banjir lereng tanggul berangsur-angsur berkurang besarnya dari miring hingga landai.
Tanggul yang terbentuk akibat banjir sungai di wilayah dataran rendah yang berperan menahan air hasil limpasan banjir sehingga terbentuk genangan yang dapat kembali lagi ke sungai. Seiring dengan proses yang berlangsung kontinyu akan terbentuk akumulasi sedimen yang tebal sehingga akhirnya membentuk tanggul alam.

Tanggul alam memiliki struktur berlapis karena terbentuk oleh endapan sedimen saat banjir meluap melampaui tanggul sungai. Akibat kecepatan aliran yang menurun maka terjadilah pengendapan sedimen yang kasar diendapkan dekat alur sungai sedang yang lebih halus terangkut jauh kearah dataran banjir.
Tanggul alam terdapat pada daerah dekat dengan muara sungai atau zona lower dari sungai



4. Rawa belakang (Backswamps)

Backswamp atau Rawa belakang adalah bagian dari dataran banjir dimana simpanan tanah liat menetap setelah banjir. Backswamps biasanya terletak di belakang sungai alam sebuah tanggul. Kemudian kembali rawa-rawa yang terletak agak jauh dari saluran sungai di dataran banjir tersebut. Ketika air tumpah ke dataran banjir, material terberat tetes keluar pertama dan materi terbaik dilakukan jarak yang lebih besar

Relief : Cekung – datar
Batuan/struktur :Berlapis, tidak kompak
Proses :Sedimentasi
Karakteristik :Relief cekung - datar, selalu tergenang, proses sedimentassi.

5. Kipas alluvial (Alluvial Fan)

Bila suatu sungai dengan muatan sedimen yang besar mengalir dari bukit atau pegunungan, dan masuk ke dataran rendah, maka akan terjadi perubahan gradien kecepatan yang drastis, sehingga terjadi pengendapan material yang cepat, yang dikenal sebagai kipas aluvial, berupa suatu onggokan material lepas, berbentuk seperti kipas, biasanya terdapat pada suatu dataran di depan suatu gawir. Biasanya pada daerah kipas aluvial terdapat air tanah yang melimpah. Hal ini dikarenakan umumnya kipas aluvial terdiri dari perselingan pasir dan lempung sehingga merupakan lapisan pembawa air yang baik.


Kipas Aluvial banyak terdapat pada daerah dengan perubahan lerang yang besar, misalnya pertemuan pegunungan terjal dengan dengan dataran.



Kipas alluvial yang menakjubkan ini luasnya dari Kunlun sampai pegunungan Altun, yang terletak di ujung selatan padang pasir takilmakan, China. Kipas Aluvial ini lembut, relative datar, landai dan terbuat dari batuan lepas dan sedimen, ditemukan di pegunungan dan disetor oleh air. Bentukan ini adalah salah satu yang terbesar di dunia.

6. Teras sungai

Teras sungai dapat dimanfaatkan untuk mengetahui proses- proses yang telah terjadi di masa lalu. teras sungai merupakan satu morfologi yang sering dijumpai pada sungai. Proses deposisi, proses migrasi saluran, proses erosi sungai meander dan aliran overbank sangat berperan dalam pembentukan dan perkembangan dataran banjir. Faktor yang mempengaruhi proses pembentukan dan perkembangan teras sungai adalah perubahan base level of erosion dan perubahan iklim

7. Gosong sungai (point bar)

Merupakan kenampakan morfologik yang umum pada sungai yang sedang mengalami meandering dan pada saat yang bersamaan pengendapan point bar merupakan proses sedimentasi yang terjadi di dalam alur sungai tersebut. Bentuk dan ukuran sedimentasi bervariasi tergantung pada besarnya alur sungai serta berkembang pada bagian lengkung dalam (inner band) alur sungai. Tekstur dari material point bar tergantung pada keadaan sedimen yang terangkut pada saat banjir terjadi. Kelerengan umumnya miring kea rah aliran menuju lengkung luar.

Relief : Datar - berombak
Batuan/struktur : Berlapis, tidak kompak
Proses :Sedimentasi

Karakteristik :Terbentuk pada tubuh sungai bagian hilir, bagian hulu gosong tumpul dan bagian hilir menyudut.


8. Sungai teranyam (Braided Stream)

Sungai teranyam merupakan bentukan asal proses fluvial berupa sungai yang saling terpisah membentuk seperti anyaman kemudian bergabung kembali pada bagian yang lain oleh adanya gosong sungai.

Terbentuk pada bagian hilir sungai yang memiliki slope hampir datar – datar, alurnya luas dan dangkal. terbentuk karena adanya erosi yang berlebihan pada bagian hulu sungai sehingga terjadi pengendapan pada bagian alurnya dan membentuk endapan gosong tengah. Karena adanya endapan gosong tengah yang banyak, maka alirannya memberikan kesan teranyam. Keadaan ini disebut juga anastomosis( Fairbridge, 1968).

Tipe sungai teranyam dapat dibedakan dari sungai kekelok dengan sedikitnya jumlah lengkungan sungai, dan banyaknya pulau-pulau kecil di tengah sungai yang disebut gosong.

Sungai teranyam akan terbentuk dalam kondisi dimana sungai mempunyai fluktuasi dischard besar dan cepat, kecepatan pasokan sedimen yang tinggi yang umumnya berbutir kasar, tebing mudah tererosi dan tidak kohesif (Cant, 1982). Biasanya tipe sungai teranyam ini diapit oleh bukit di kiri dan kanannya. Endapannya selain berasal dari material sungai juga berasal dari hasil erosi pada bukit-bukit yang mengapitnya yang kemudian terbawa masuk ke dalam sungai. Runtunan endapan sungai teranyam ini biasanya dengan pemilahan dan kelulusan yang baik, sehingga bagus sekali untuk batuan waduk (reservoir).

Umumnya tipe sungai teranyam didominasi oleh pulau-pulau kecil (gosong) berbagai ukuran yang dibentuk oleh pasir dan krikil. Pola aliran sungai teranyam terkonsentrasi pada zona aliran utama. Jika sedang banjir sungai ini banyak material yang terbawa terhambat pada tengah sungai baik berupa batang pepohonan ataupun ranting-ranting pepohonan. Akibat sering terjadinya banjir maka di sepanjang bantaran sungai terdapat lumpur yang mengusai hampir di sepanjang bantaran sungai.

Sungai teranyam umumnya terdapat pada daerah datar dengan energi arus alirannya lemah dan batuan di sekitarnya lunak. Sungai tipe ini bercirikan debit air dan pengendapan sedimen tinggi. Daerah yang rata menyebabkan aliran dengan mudah belok karena adanya benda yang merintangi aliran sungai utama


9. Sungai meander dan Enteranched meander

Bentukan pada dataran banjir sungai yang berbentuk kelokan karena pengikisan tebing sungai, daerah alirannya disebut sebagai Meander Belt. Meander ini terbentuk apabila pada suatu sungai yang berstadia dewasa/tua mempunyai dataran banjir yang cukup luas, aliran sungai melintasinya dengan tidak teratur sebab adanya pembelokan aliran Pembelokan ini terjadi karena ada batuan yang menghalangi sehingga alirannya membelok dan terus melakukan penggerusan ke batuan yang lebih lemah.

Leopold dan Wolman (1957) menyebut sungai meandering jika sinuosity-nya lebih daru 1.5. Pada sungai tipe ini erosi secara umum lemah sehingga pengendapan sedimen kuat. Erosi horizontallnya lebih besar dibandingkan erosi vertical, perbedaan ini semakin besar pada waktu banjir. Hal ini menyebabkan aliran sungai sering berpindah tempat secara mendatar. Ini rerjadi karena adanya pengikisan horizontal pada tepian sungai loleh aliran air utama pada daerah kelokan sungai pinggir luar dan pengendapan pada kelokan tepi dalam.


Meander banyak terdapat pada daerah dengan relief yang relative datar misalnya di Irian jaya dan Bintan yang ditunjukkan pada gambar.



10. Delta dan macamnya

Delta adalah bentang alam hasil sedimentasi sungai pada bagian hilir setelah masuk pada daerah base level. Pada saat aliran air mendekati muara, seperti danau atau laut maka kecepatan aliranya menjadi lambat. Akibatnya, terjadi pengendapan sedimen oleh air sungai. Pasir akan diendapkan sedangkan tanah liat dan lumpur akan tetap terangkut oleh aliran air. Setelah sekian lama , akan terbentuk lapisan - lapisan sedimen. Akhirnya lapian lapisan sedimen membentuk dataran yang luas pada bagian sungai yang mendekati muaranya dan membentuk delta.

Pembetukan delta memenuhi beberapa syarat. Pertama, sedimen yang dibawa oleh sungai harus banyak ketika akan masuk laut atau danau. Kedua, arus panjang di sepanjang pantai tidak terlalu kuat. Ketiga , pantai harus dangkal.



Contoh bentang alam ini adalah delta Sungai Musi, Kapuas, dan Kali Brantas, delta Sungai Mahakam.

Menurut Storm drr (2005), Delta Mahakam merupakan tipe delta yang didominasi oleh proses pasang-surut dan gelombang laut yang berlokasi di tepian Cekungan Kutai, Kalimantan Timur dan mempunyai runtunan stratigrafi deltaik pantai (coastal deltaic) berumur Miosen hingga Holosen


11. Danau oxbow (Oxbow Lake)

Danau Oxbow merupakan bentukan berbentuk U dari sebuah aliran sungai yang terbentuk ketika sebuah meander/kelokan sungai dengan sungai utama terpotong dan membentuk danau. Bentukan Fluvial tersebut disebut dengan danau oxbow dengan bentuk lengkungan yang khas.

Di Australia sebuah bentukan danau oxbow disebut Billabong yang berasal dari bahasa asli. Danau oxbow terbentu dari waktu ke waktu dari erosi dan pengendapan dari tanah yang terdapat di sungai. Danau oxbow terbentuk seperti di bawah ini :
1. Di dalam putaran sungai perjalanan lebih lambat menyebabkan pengendapan lumpur
2. Sementara itu air di tepi luar cenderung menyebabkan pengendapan lumpur
3. Sementara itu air di tepi luar cenderung mengalir cepat yang mengikis tepian membentuk meander yang lebih luas
4. Seiring waktu putaran meander melebar sampai bagian lehernya lenyap sama sekali
5. Kemudian meander akan dihapus dari sungai say ini dan bentukan tapal kuda danau oxbow terbentuk.

Tanpa arus untuk memindahkan air bersama, sedimen menumpuk di sepanjang tepian dan menisci danau.


Sungai mati, oxbow, dan oxbow lake merupakan bentukan sebagai akibat dari sungai mati. Sungai mati terjadi sebagai akibat dari ditinggalkannya alur sungai oleh aliran air sungai utama, sehingga aliran air sungai terhenti atau berpindah ke alur sungai yang lain. Pemotongan alur sungai ini terjadi karena sungai tersebut telah mengalami kelengkungan (sinous), sungai yang telah mengalami terbentuknya meander. Ada tiga cara pemotongan sungai yang menyebabkan sungai tersebut ditinggalkan/mati yang membentuk dasar sungai mati (abandoned river), yaitu Chu cut off, neck cut off, dan avulsi. Pada pemotongansungai yang telah mengalami meandering tersebut akan membentuk senacam tapal kuda (oxbow), manakala oxbow ini




12. Stream Captured

Merupakan fenomena geomorfologi yang terjadi ketika aliran atau system drainase sungai atau DAS dialihakan dari tempatnya sebaliknya aliran yang beru berasal dari aliran sungai tetangganya. Hal tersebut terjadi akibat beberapa sebab, yaitu
1. Gerakan tektonik bumi, dimana sudut lereng/kemiringan lereng dari perubahan tanah dan aliran sungai keluar dari bekas sungai sebelumnya
2. Pembendungan alami akibat longsor atau lapisan es
3. Erosi, baik erosi headward yang menyebabkan satu lembah sungai berada diatas yang lain, atau erosi lateral yaitu meander melalui tanah yang lebih tinggi membagi sungai yang berdekatan.
4. Pada topografi karst, sungai bias tenggelam atau berada di bawah tanah dan kemudian muncul kembali di lembah sungai terdekat.
5. Air tambahan mengalir kebawah capturing stream dan dapat mempercepat erosi dan mendorong perkembangan ngarai.


13. Lembah Terkubur (Burried Valley)

Lembah terkubur adalah sebuah aliran sungai kuno atau lembah sungai yang telah diisi dengan sedimen glacial atau terkonsolidasi. Endapan ini terdiri dari kerikil, pasir ,lumpur, dan tanah liat. Jenis sedimen seperti itu sering dapat menyimpan dan mentransmisikan sejumlah besar air tanah, sehingga daerah tersebut memiliki potensi air tanah yang besar. Pembentukannya terjadi akibat longsoran material di tebing sungai dalam jumlah m,aterial yang besar kemudian lembah sungai tertutup. Lembah terkubur banyak terdapat di daerah sungai bagian upper atau middle yang memiliki kestabilan lereng yang rendah dan lembah sungai relative dalam.

Pembentukan Burried Valley (lembah terkubur)


14. Struktur silangsiur (Crossbraided Structure)

Crossbraided Structure merupakan bentukan proses perubahan arah aliran akibat adanya pola perlapisan batuan. Pembentukannya berasal dari sedimentasi oleh material di daerah pasang surut yang dalam waktu tertentu mengalami perubahan pada arah aliran arus dominan. Dalam waktu yang bergantian terjadi perubahan arah arus secara berlawanan sehingga terbentuk perlapisan sedimen yang khas. Pembentuk struktur silangsiur dapat berupa air ataupun angin.
Struktur silangsiur ini banyak terdapat pada daerah estuary sehingga bentukanyya dipengaruhi oleh air atau pada daerah gumuk pasir yang dipengaruhi oleh angin.

Struktur Silang-siur (Crossbraided Structure)


15. Tanggul sungai (Levee Ridge)

Tanggul sungai merupakan bentukan dari proses fluvial yaitu sebuah bentukan berupa gundukan yang terdapat di sepanjang tepian sungai. Pembentukannya dari sedimentasi material yang terangkut oleh arus sungai kemudian terendapkan yang merupakan proses bentukan alami, sedangkan bentukan yang berupa pengaruh manusia merupakan artificial form. Tanggul sungai berfungsi untuk mencegah banjir ketika debit air berlebih.
Tanggul sungai banyak terdapat pada dataran alluvial yang sering terjadi banjir, misalnya di Sungai progo.

Tanggul Sungai (levee ridge)

16. Lembah ditinggalkan (Abandon Valley)

Lembah ditinggalkan merupakan benukan fluvial berupa lembah sungai yang tidak dialiri oleh air lagi. Proses pembentukannya akibat proses erosi dan sedimentasi terutama pada sungai bermeander. Ketika meander terbentuk, kemudian aliran semakin intensif terbentuk danau tapal kuda. Dalam waktu yang lama air yang menggenang hilang membentuk lembah yang ditinggalkan.
Bentukan ini banyak terdapat pada dataran alluvial dengan struktur batuan yang relative homogen

Lembah Ditinggalkan (Abandon Valley)














Daftar Pustaka
Charlton, Ro. 2008. Fundamentals of Fluvial Geomorphology. New York : Maddison Avenue
Kehew, Alan E dan Boettger, William M. 1986. Depositional Environmental of Braided Valley Aquifers in North Dakota. U.S : University of North Dakota
Suharsono, Prapto. 1999. Identifikasi Bentuklahan dan Interpretasi Citra Untuk Geomorfologi.Fakultas Geografi:Universitas Gadjah Mada
http://adityamulawardhani.blogspot.com/2009/02/bentang-alam-fluvial.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Floodplain
http://en.wikipedia.org/wiki/Buried_valley
http://en.wikipedia.org/wiki/Oxbow_lake
http://en.wikipedia.org/wiki/Stream_capture
http://geologi.ugm.ac.id/gdl42/gdl.php?mod=browse&op=read&id=tglugm--msitocahyo-90
http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/6308167173.pdf
http://lingkunganhijau08007.blogspot.com/2010/01/hidrologi-dataran-alluvial-pernah-ada.html
http://sim.nilim.go.jp/ge/SEMI2/Presentation/1Sampurno/Seminar.doc
www.uwsp.edu/geo/.../alluvial_landforms_page_1.html
http://wong168.wordpress.com/2010/01/31/pemandangan-menakjubkan-karya-bumi-2/
http://wwwnuansamasel.blogspot.com/2010/05/hidrologi-bagian-ii.html
http://www.mbgnet.net/fresh/lakes/oxbow.htm

TEORI PERKEMBANGAN MUKA BUMI

Sifat fisika dan ukuran batuan maupun sedimen dasar basin lautan dapat diketahui dengan Eksplorasi Geofisika, antara lain Seismic Reftraction, Gravity Measurenen, dan Deep sea Drilling.

Refraksi seismic
Prinsip dari refraksi seismic yaitu dengan menggunakan gelombang radio yang dipancarkan dari permukaan laut, kenudian getarannya akann diterima oleh hidrophones. Hasil data yang didapatkan adalah lapisan batuan dibawah permukaan laut yang dibedakan berdasarkan kekerasannya.

Gravity Measurement
Membandingkan antara pengukuran gravitasi di ekuator dengan suatu titik tertentu karena bumi tidak bulat sempurna, maka suatu tempat akan mengalami anomaly.

Pengeboran dasar Laut
Th 1960 --> Monhole Project
Th 1968 --> DSDP oleh SIO dgn GC, menghasilkan 3 teori :


Teori Apungan Benua
Dahulu kala bumi memiliki satu benua yaitu Pangea dan satu lautan yaitu Thetys. Pangea dibatasi oleh samudra mahaluas bernama Panthalasa. Pangea pecah menjadi 3 bagian , yaitu Laurasia, Gondwana dan Benua Antartika. Laurasia pecah menjadi Amerika utara dan Eurasia. Gondwana pecah menjadi Amerika selatan dan Afrika. Antartika pecah menjadi india dan daratan antartika.
Ilustrasi Benua Pengea dan Tethys Sea

Alfred Wegener (astronom Phd) mengemukakan hipotesis apungan benua. Teori tersebut adalah dahulu kala terdapat sebuah super-kontinen yang disebut pangea. Kemudian pangea pecah menjadi bagian-bagian kecil menuju posisinya seperti saat ini.
Bukti :


  1. Persamaan garis pantai benua amerika bagian selatan dan benua afrika
  2. Ditemukannya fosil mososaurus yang sejenis yang hanya ditemukan di kedua bagian benua tersebut. Jauhnya jarak antara benua amerika dan benua afrika diyakini tidak dapat dilintasi oleh meosaurus tersebut. Mesosaurus adalah sejenis reptil amfibi yang hidup di air tawar. Bentuknya kira-kira seperti cecak, tapi kepalanya seperti buaya, Badannya fleksibel dan konon ekornya dapat digunakan sebagai semacam sirip untuk berenang. Tidak jelas berapa ukurannya dan hidup pada berapa juta tahun yang lalu. Fosil ini ditemukan di Brasil dan Afrika bagian barat.
  3. Jajaran pegunungan yang terpotong oleh Ocean. Diyakini bahwa struktur maupun umur batuan di pegunungan Appalachia (Amerika Utara) yang terpotong oleh pantai Newfouland serupa dengan jajaran pegunungan di kepulauan Inggris dan Scandainavia.
  4. Iklim masa lampu mempengaruhi benua-benua pecahan dari Pangea. Ketika benua-benua tersebut disatukan, maka terlihat pola hamparan es menutup sebagian benua afrika selatan, amerika selatan, Australia bagian selatan dan sebagian Eurasia.


DR Rollin T Chamberlin (U. Chicago) berpendapat bahwa hipotesis Wegener tidak berdasar. Harold Jefreys ahli geofisika Inggris membantah pula pernyataan Wegener. Gaya sebesar apa yang mampu menarik daratan hingga terpisah sebegitu jauh di atas dasar laut sebagai bidang gesar tanpa mematahkan dasar lautnya?

Wegener tidak dapat menjelaskan mekanisme pergheseran benua. Dalam teori Wegener, benua diasosiasikan sebagai benda ringan berupa Si dan Al yang mengapung diatas bahan yang memiliki densitas lebih besar. Bahan tersebut ebrsifat plastis berupa kerak ssamudera.
Wegener tidak memperhitungkan gaya yang bekerja.
Bumi hanya dianggap seperti bongklahan es dengan masa jenis yang rendah mengapung diatas lautan dengan masa jenis yang lebih besar.

Teori Pemekaran Lantai Samudera Harry Hess (1960)
Pada mid ocean ridge (pematang tengah samudera) terjadi pemekaran lantai samudera. Terjadinya pemekaran tersebut diakibatkan oleh gaya tarikan yang digerakkan arus konveksi pada bagian mantel bumi. Karena adanya arus konveksi, maka magma keluar melalui mid ocean ridge dan membeku.
Lantai samudera bergerak menunjam astenosfer pada zona subdaksi, sementara di bagian mid ocean ridge terbentuk material baru. Bagian yang menyusup ini sangat rentan sekali untuk hancur/pecah dan berpotensi untuk meenyebabkan gempa. Selain itu juga sangat berpotensi untuk pembentukan gunungapi dari magma yang naik.
Ilustrasi Pemekaran Samudera


Bukti
Dari hasil pengeboran di Gabon dan Brazil, ditemukan batuan dan fosil yang sama pada kedalaman yang sama.

Kelemahan
Tidak dapat menjelaskan apakah bumi tersusun lapisan yang seragam, dengan lapisan tertentu?

Teori Tektonik Lempeng
Mengemukakan bahwa bumi kita sebagai lapisan lempeng yang sangat keras namun tipis yang saling bergerak. Lempeng tektonik terdiri dari kerak benua, kerak samudra dan mantel bumi yang dinamakan lithsosfer. Pergerakan lempeng diakibatkan lapisan astenosfer yang lebih berat dengan suhu yang sangat tinggi maka lapisan batuan disana bergerak mengalir seperti sebuauah carian.






http://yudi81.wordpress.com/2010/12/04/teori-tektonik-lempeng/
http://clupst3r.wordpress.com/2009/10/12/teori-laurasia-gondwana/
http://syaifulmangantjo.wordpress.com/2011/11/04/teosri-geosinklin-continental-drift-sea-floor-spreading-dan-tektonik-lempeng/