AEROMODELLING UNTUK PENGINDERAAN JAUH




Penginderaan Jauh dibagi menjadi dua yaitu penginderaan jauh sistem fotografi dan penginderaan jauh sistem non fotografi. Keduanya sering dibedakan berdasarkan sensor yang digunakan. Penginderaan jauh sistem non fotografi menggunakan sensor CCD untuk melakukan mengambil informasi di permukaan bumi. Prinsip kerjanya mirip dengan scanner, yaitu dengan penyiaman. Kemudian untuk penginderaan jauh sistem fotografi digunakan film sebagai sensor. Film tersebut menangkap informasi yang direkam, sehingga menghasilkan gambar pada film tersebut.

Penginderaan jauh sistem fotografi lebih dahulu ditemukan, karena sistem tersebut banyak menggunakan saluran tampak sama seperti kepekaan mata manusia. Perkembangan awal penginderaan jauh sistem fotografi adalah ketika tahun 1858, Gaspard Felix Tournachon menggunakan balon udara untuk memotret daerah Bievere, Perancis. Dia menghasilkan foto udara pertama kali dengan menggunakan balon udara pada ketinggian 80m. Setelah itu, penginderaan jauh sistem fotografi terus berkembang dan banyak digunakan oleh manusia.

Seiring dengan perkembangannya teknologi, saat ini penginderaan jauh sistem non fotografi dengan sistem fotografi mulai sulit untuk dibedakan. Penggunaan film dirasa tidak efektif dan memerlukan biaya yang mahal karena selain melalui proses yang lama sebelum gambar dapat digunakan, yaitu melalui pencucian dan pencetakan, sehingga biaya yang dikeluarkan lebih mahal. Kemudian sistem fotografi mulai menggunakan CCD sebagai sensor dalam kamera, sehingga saat ini sistem manual pada penginderaan jauh sistem fotografi beralih pada sistem digital.

Perkembangan dari foto yaitu munculnya video yang dirasa mampu digunakan sebagai media untuk penyadapan informasi dipermukaan bumi. Penggunaak video dirasa lebih murah dan efisien, karena dari video tersebut semua informasi dapat direkam secara terus menerus sehingga tidak ada bagian yang terlewatkan. Data video tersebut dapat digunakan sebagai media pemantau dari suatu keadaan, misalnya pemantauan kebakaran hutan, pemantauan penebangan liar dan sebagainya. Dengan videografi ini menjadi alternative untuk penyadapan informasi permukaan bumi, karena memenuhi kriteria yaitu berbiaya murah, mudah untuk dioperasikan , perolehan hasil yang lebih cepat dan kualitas yang cukup baik.
Akan tetapi penggunaan kamera yang digunakan untuk pemotretan seringkali mengalami gangguan-gangguan yaitu distorsi. Distorsi yang terjadi dapat bermacam-macam, distorsi akibat lensa, distorsi akibat dari sensor, distorsi akibat wahana maupun akibat gangguan dari luar. Distorsi karena lensa dibagi menjadi 4, yaitu distorsi akibat dari lensa, yaitu barell distortion, penchussion distorstion, vignette distortion dan wave distortion.

Informasi yang didapat dari perekaman foto maupun video tersebut akan mampu menggambarkan daerah secara lebih luas cakupannya dengan dilakukan mozaik foto. Mozaik adalah proses penyusunan beberapa foto menjadi satu bagian, sesuai dengan urutan nomor foto jalur terbang. Dengan menggunakan videografipun dapat diekstrak menjadi banyak foto dalam suatu bagian perekaman. Informasi yang mampu direkam lebih banyak, sehingga foto yang dihasilkan juga lebih banyak.

Cara mozaik foto dapat dilakukan dengan manual, yaitu menyusun sesuai urutan pemotretan. Akan tetapi jika foto yang dihasilkan sangat banyak, seperti pada penggunaan videografi, maka mozaik foto dapat dilakukan dengan softwere, sehingga lebih mudah. Untuk dapat digunakan secara lebih maksimal, hasil mozaik tersebut perlu diberikan koordinat.

ELEMEN DALAM FOTOGRAFI (FOTOGRAMETRI)

Contoh Penerapan ISO dalam Fotografi


  1. Pada kamera terdapat unsur-unsur penting yang mempengaruhi hasil pemotretan, yaitu ISO, bukaan kamera dan shutterspeed.
  2. ISO/ASA berkaitan dengan tingkat kesensitifitasan sensor, semakin tinggi ISO, maka sensor semakin sensitive dalam menagkap cahaya.
  3. Apperture atau bukaan kamera berkaitan dengan besar bukaan dari diafragma, semakin besar bukaan, maka cahaya yang masuk semakin banyak
  4. Shutterspeed atau kecepatan rana berkaitan dengan kecepatan dari bukaan kamera, semakin cepat bukaan, maka cahaya yang masuk semakin sedikit.
  5. Untuk menghasilkan gambar yang baik dibutuhkan komposisi yang pas antara nilai ISO, Apperture dan Shutterspeed.
  6. Gambar yang baik adalah gambar dengan cahaya yang pas, tidak undereksposure, tidak overeksposure.
  7. Gambar undereksposure adalah gambar kekurangan cahaya, hal ini mungkin terjadi karena ISO yang terlalu tinggi, bukaan yang terlalu besar atau kecepatan rana yang terlalu cepat.
  8. Gambar overeksposure adalah gambar yang kelebihan cahaya, hal ini mungkin terjadi karena ISO yang terlalu rendah, bukaan yang terlalu besar atau kecepatan rana yang terlalu cepat.
  9. Untuk mengatasi gambar yang undereksposure dapat dilakukan dengan memperbesar bukaan atau memperlama shutterspeed,
  10. Untuk mengatasi gambar yang overeksposure dapat dilakukan dengan memperkecil bukaan atau memcepat shutterspeed,
  11. Untuk memahami konsep komposisi ISO, apperture dan shutterspeed ini dapat digunakan HUKUM EMBER.
  12. Hukum ember menyebutkan bahwa ISO dianalogikan sebagai ember, shutterspeed sebagai lama bukaan keran dan aperture sebagai diameter bukaan keran.
  13. Jika ember (ISO) besar, shutterspeed (lama bukaan keran) cepat, maka bukaan (diameter keran) harus besar agar ember terisi pas
  14. Tetapi jika shutterspeed (lama bukaan keran) lama dan bukaan (diameter keran) besar, mungkin akan terjadi ember penuh dan air tumpah, kejadian ini dianalogikan seperti gambar yang overeksposure (kelebihan cahaya)
  15. Jika shutterspeed (lama bukaan keran) cepat dan bukaan (diameter keran) kecil, mungkin akan terjadi ember hanya sedikit berisi air, kejadian ini dianalogikan seperti gambar yang undereksposure (kekurangan cahaya)
  16. Gambar yang baik, ketika ISO tinggi Apperture besar, maka shutterspeed harus lebih kecil/cepat.
  17. Gambar yang baik, ketika ISO rendah, Apperture besar, maka shutterspeed harus lebih besar/lama.