PENYUSUNAN CITRA KOMPOSIT WARNA

Citra multispectral adalah citra yang dibuat dengan saluran jamak. Berbeda dengan citra tunggal yang umumnya dibuat dengan saluran lebar, citra multispectral umumnya dibuat dengan saluran sempit. Dengan menggunakan sensor multispectral, maka kenampakan yang diindera akan menghasilkan citra dengan berbagai saluran. Citra dengan saluran yang berbeda tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi kenampakan-kenampakan tertentu, karena saluran-saluran tersebut memiliki kepekaan terhadap suatu kenampakan.



Gambar Contoh Citra Single Band, Band 1 Pada Citra ALOS

Gambar Contoh Citra Multispektral, Komposit 321, Pada Citra ALOS

Sensor multispectral akan menghasilkan beberapa citra dengan saluran yang berbeda dan masing-masing memiliki variasi nilai spectral yang berbeda. Citra-citra tersebut akan menggambarkan berbagai variasi interaksi kenampakan objek dengan panjang gelombang yang digunakan. Satu citra mungkin akan sangat jelas menggambarkan vegetasi dengan mampu membedakan berdasarkan kerapatan namun lemah dalam menggambarkan kenampakan tanah, kemudian dari citra yang lain mungkin sebaliknya. Untuk melakukan perbandingan dari citra-citra tersebut akan sangat tidak efektif. Namun apabila digunakan saluran lebar, maka kenampakan keseluruhan justru tidak dapat dibedakan dengan baik. Sehingga untuk dapat membedakan kenampakan-kenampakan tersebut digunakan citra komposit, yaitu menggabungkan saluran dari banyak citra tersebut menjadi satu citra yang mampu membedakan kenampakan secara lebih baik.

Bagaimana data digital ini dapat tampil sebagai citra pada layar monitor atau dicetak pada kertas atau film? Tugas progam pengolah citra adalah mengendalikan perangkat keras, terutama graphic card dan layar monitor, untuk mengubah data dalam domain spektral ini menjadi data dalam domain spasial. Byte demi byte data dalam citra digital yang terbaca (byte map) akan ditempatkan pada layar monitor secara berurutan, menempati sel-sel fosfor pada layar monitor. Dengan demikian, citra dengan resolusi spasial yang sama misalnya 30 m, kemungkinan akan ditampilkan dengan tingkat kehalusan yang berbeda, bila ukuran sel-sel gambar pada layar atau resolusi layarnya berbeda. Layar monitor super VGA akan menyajikan sampai 1024 piksel dalam satu baris, sedangkan layar monitor CGA hanya 600 piksel. (Projo Danoedoro : 58).

Sistem tampilan (display) citra pada layer monitor dewasa ini telah mampu manyajikan warna yang lebih lengkap. Apabila suatu system multispektral menghasilkan 3 citra yang masing – masing direkam pada 8 bit coding, maka untuk menggabung kembali ketiganya menjadi citra berwarna pada layer monitor diperlukan kemampuan penyajian warna sebanyak 2(8)3 = 224 = 16,666 juta warna. Kemampuan ini didukung oleh ketersediaan graphic card tipe SVGA (super video graphic array) atau di atasnya dengan graphic card memory minimum 1MB dan layer monitor yang sesuai. Pada masa lalu, kemampuan ini belum didukung oleh layer monitor yang memadai, sehingga kemampuan sajian hanya terbatas 8 bit (256)warna saja. Jadi, ada persoalan bagaimana tiga macam citra yang masing – masing tersusun atas 8 bit informasi harus disajikan menjadi 256 warna saja.

Cara sederhana untutk menyajikan ketiganya secara berwarna ialah melalui kombinasi kompresi dan perentangan sekaligus, dan nilai baru yang muncul kemudian diberi warna (colour assignment) mengikuti colour palette atau look-up table (LUT) yang telah disediakan, yang paling sesuai untuk distribusi nilai komposit warna. Cara ini meliputi beberapa langkah sebagai berikut :

a) Menerapakan kompresi citra, yaitu dengan memapatkan nilai piksel dari julat asli (misalnya 0-15, 0-32, dan sebagainya) menjadi 0-5, pada seluruh saluran spectral yang dilibatkan. Cara kompresi ini memanfaatkan rumus sebagai berikut :
NPbaru = 5* (NPinput – NPminimum) / (NPmaks – NPminimum)
b) Menentukan saluran mana yang diberi warna merah (dan kemudian seluruh nilai pikselnya dinamakan NPbaru-merah), mana yang diberi warna hijau (NPbaru-hijau), dan mana yang diberi warna biru (NPbaru-biru).
c) Menerapkan nialai piksel pada citra komposit (NPkomp) berdasarkan NPbaru-merah, NPbaru-hijau, dan NPbaru-biru, dengan rumus sebagai berikut :
NPkomp = 36* NPbaru-merah + NPbaru-hiaju + NPbaru-biru
d) Menyajikan citra komposit ke layer monitor dengan pedoman palette warna yang telah ditentukan untuk nilai – nilai piksel komposit.

Hampir semua paket pengolah citra selalu menggunakan asumsi bahwa masukan citra memiliki 256 tingkat keabuan. Bila nilai kecerahan ini kita sebut BV (Brightness value), maka dalam program selalu dinyatakan bahwa BV input berkisar dari 0 sampai 255. Masukan nilai dengan julat 256 tingkat keabuan ini dapat ditransformasi menjadi 5, 16, 32, 64 maupun 256 tingkat, tergantung pada kemampuan layar dan kebutuhan. Untuk keluaran dengan 256 tingkat keabuan, transformasinya adalah 1:1, sedangkan untuk keluaran yang lebih rendah tingkat keabuannya, transformasinya dapat diatur melalui pengelompokan BV. (Projo Danoedoro, 1996 : 60).

Teknik pseudo colour digunakan untuk menonjolkan perbedaan nilai spektral yang tipis, tanpa melakukan perentangan kontras. Dengan pseudo colour, piksel-piksel bernilai rendah diberi warna biru, sedangkan nilai tengah diberi warna hijau, dan nilai tertinggi diberi warna merah. Untuk monitor 8 bit, nilai terendah nol diberi warna hitam, dan kemudian warna biru untuk nilai 1, 2, 3,....warna hijau untuk nilai 128, 129, 130,..., dan akhirnya warna merah untuk nilai 255 (ILWIS version 1.4 User Manual, 1994). Gradasi semacam ini dapat pula diterapkan dengan memberikan kombinasi warna yang berbeda, misalnya dari bitu gelap, ungu, magenta, merah, pink, sampai dengan putih. (Projo Danordoro, 1996 : 60).
Citra komposit standar merupakan paduan tiga saluran dengan rujukan foto udara inframerah dekat. Artinya warna merah yang dihasilkan menunjukkan adanya vegetasi, warna biru gelap sampai agak cerah menunjukkan adanya tubuh air, dan seterusnya. Citra komposit warna yang lainpun dapat dihasilkan dengan membalik urutan pemberian warnanya, misalnya saluran inframerah diberi warna biru, saluran warna merah diberi warna merah, dan saluran hijau diberi warna hijau. Citra komposit ini dikatakan tak standar. Meskipun demikian bukan berarti bahwa citra komposit ini tidak dapat digunakan dalam proses pengenalan obyek. Kadang-kadang, justru citra komposit tak standar ini lebih ekspresif dalam menyajikan kenampakan obyek yang dijadikan pusat perhatian (misalnya tubuh air di sela-sela hutan lahan basah). Ketersediaan citra multispektral dengan jumlah saluran yang lebih banyak, termasuk saluran biru dan inframerah tengah, memberikan kemungkinan yang lebih banyak dalam membuat kombinasi citra komposit. Citra komposit warna asli pun dapat dihasilkan, bila tersedia saluran-saluran biru, hijau, dan merah. Untuk keperluan ini, citra satelit Thematic Mapper Landsat dapat digunakan. Sayangnya untuk Indonesia, saluran biru cenderung sangat sensitif terhadap kabut tipis, sehingga komposit warna asli yang dihasilkan pun kuran memuaskan. Lain halnya bila citra yang digunakan adalah wilayah lintang sedang yang beriklim kering, seperti halnya Afrika Utara. (Projo Danoedoro, 1996 : 63).

sumber :

Danoedoro, Projo. 2009. Petunjuk Praktikum Pemrosesan Citra Digital. Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta
Danoedoro, Projo. 1996. Pengolahan Citra Digital. Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta
Habib.2011. Laporan Praktikum Pemrosesan Citra Digital. Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta
Habib.2011. Catatan Kuliah Pemrosesan Citra Digital. Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta

PENGENALAN FORMAT PENYIMPANAN CITRA DIGITAL PENGINDERAAN JAUH

Citra digital adalah citra yang diperoleh, disimpan dan dianalisis ddengan basis logika biner. Perolehan citra ini dapat dihasilkan dari pelarikan, yaitu melakukan perekaman dengan sensor berupa scanner. Citra digital dapat merupakan citra yang dihasilkan/dibuat dengan perangkat lunak tertentu CAD (computer-aided design) atau citra hasil perekaman melalui sensor yang dipasang pada suatu wahana tertentu. Kemudian penyimpanan yang dilakukan dilakukan pada media magnetic (disket, flash disk, hark disk, CD, atau CCT dan ditampilkan dalam monitor menjadi sebuah gambar.
Contoh Gambar Citra Penginderaan Jauh

Untuk mendapatkan citra digital diperoleh dengan meniru suatu objek pada kenampakan nyata. Secara sederhana citra digital dapat diperoleh dengan penggambaran secara digital melalui perangkat lunak. Selain itu citra dapat diperoleh dari perekaman dengan bantuan scanner. Yaitu dengan menangkap informasi pancaran dan pantulan gelombang elektromagnetik secara parsial/ tak serentak. Perekaman secara parsial tersebut dilakukan dengan pelarik/scanner menangkap informasi tiap bagian dan dicatat dalam computer. Misalnya perekaman dilakukan dari kiri atas ke kanan dan kembali lagi ke kiri, kemudian memulai baris baru untuk melakukan perekaman lagi. Setiap bagian direkam tersusun oleh bagian terkecil gambar yaitu pixel (picture element). Setiap pixsel/piksel memiliki dua aspek, yaitu aspek spatial yang berhubungan dengan ukuran objek terkecil yang digambarkan dan aspek spectral yaitu nilai spectral dari tiap piksel.

Proses kerja dari scanner mirip dengan proses kerja computer, karena nantinya citra hasil penyiaman tersebut diproses juga dalam computer. Kemuampuan dari computer&sensor untuk mengubah informasi pantulan dan pancaran elektromagnetik berbeda-beda. Saat ini kebanyakan sensor bekerja dalam 8 bit. Bit merupakan satuan terkecil informasi yang menggambarkan ada tidaknya arus listrik yang masuk. Basis bilangan yang digunakan oleh computer adalah basis biner, karena computer merupakan perangkat yang bekrja dengan arus listrik. Basis biner adalah bilangan 0 yang menunjukkan mati/ tidak ada arus listrik dan bilangan 1 menunjukkan ada arus listrik yang masuk.

Pada system 8 bit, akan memiliki kemungkinan 28 atau 256 informasi pada tiap piksel. Sebuah sensor yang merekam dengan pantulan yang sangat lemah atau tidak ada cahaya yang masuk maka nilai yang muncul adalah 00000000, artinya register tidak mencatat ada arus yang masuk sehingga tampak hitam/sangat gelap. Sebaliknya apabila sensor merekam sinyal yang sangat kuat, maka register akan teraliri arus pada semua sel dan mencatat sebagai nilai 11111111 atau 255. Nilai tersebut berarti putih/ sangat cerah.

Informasi dalam basis 8 bit akan disimpan dalam byte. Dalam 1 byte terdiri dari 8 bit. Tiap piksel akan memiliki nilai byte tersendiri. Maksudnya adalah tiap 1 piksel citra akan disimpan dalam 1 byte , sementara dalam 1 byte tersebut tiap piksel terdiri dari 8 bit. Misalkan sebuah citra dengan ukuran 1000 piksel x 1000 piksel, maka kapasitasnya adalah 1.000.000 byte.

Semakin besar ukuran citra maka akan semakin banyak piksel yang terdapat dalam citra tersebut sehingga ukuran file juga semakin besar. Penyimpanan dengan merekam tiap piksel menurut posisi baris dan kolom dinamakan penyimpanan raster. Penyimpanan ini boros tempat, karena tidak dilakukan kompresi. Namun penyimpanan tersebut mempermudah apabila akan melakukan convert ke format lain dalam perangkat lunak lain, atau akan melakukan manipulasi.

Berkembangnya system multispectral membuat penyimpanan secara efisien semakin dibutuhkan. Citra multispectral menggambarkan daerah yang sama namun memiliki variasi nilai spectral yang berbeda. System penyimpanan pada saluran multispectral tersebut dapat dilakukan dengan format BSQ,BIL dan BIP dan RLE. Pada format BSQ, BIL dan BIP tidak dilakukan kompresi, sedangkan pada format RLE dilakukan kompresi untuk piksel yang memiliki nilai yang sama. Piksel tersebut disimpan tidak dipisahkan dalam byte sendiri.

Citra digital merupakan kumpulan dari piksel-piksel. Sebuah piksel memiliki dua buah nilai, yaitu nilai spatial dan nilai spectral. Nilai spatial berkaitan dengan ukuran objek terkecil yang mampu terlihat, sedangkan nilai spectral berkaitan dengan nilai objek menurut dengan pola pantulan spektralnya.

Untuk menampilkan sebuah citra, setiap perangkat lunak/softwere memiliki system yang berbeda-beda dalam menyimpan citra. Terdapat dua cara penyimpanan, yaitu dengan kompresi, yaitu memampatkan nilai piksel yang nilainya sama, dan non kompresi, yaitu tanpa melakukan pemampatan, artinya dalam satu piksel disimpan dalam 1 bytes. Yang termasuk cara penyimpanan/format penyimpanan non kompresi adalah BSQ (Band Sequential), BIL (Band Interleaved by Line), dan BIP (Band Interleaved by Pixel).

Format penyimpanan BSQ adalah, cara penyimpanan yang memisahkan citra pada setiap band/salurannya. Citra digital tersebut disimpan berurutan dari baris pertama saluran pertama, kemudian baris kedua saluran kedua dan seterusnya sampai baris terakhir saluran pertama dan disimpan dalam satu file dengan header citra saluran 1. Penyimpanan dilanjutkan pada saluran kedua, pada baris pertama, kemudian pada baris kedua saluran kedua dan seterusnya sampai selesai. Jadi setiap band yang disimpan memiliki header masing-masing.

Format penyimpanan BIL adalah cara penyimpanan dengan mendasarkan pada urutan baris namun tidak memisahkan pada tiap band/saluran tetapi digabungkan menjadi satu dan memiliki hanya satu header citra. Penyimpanan dilakukan pada baris pertama saluran pertama, dilanjutkan baris pertama saluran kedua dan seterusnya setelah semua saluran pada baris pertama tersimpan maka dilanjutkan baris kedua untuk semua saluran.
Format penyimpanan BIP mendasarkan pada penyimpanan sesuai dengan urutan pikselnya. Jadi piksel pertama pada saluran pertama dilanjutkan piksel pertama pada saluran kedua dan selanjutnya. Setelah semua piksel pertama pada semua saluran sudah semua tersimpan dilanjutkan pada piksel kedua saluran pertama dan seterusnya. Pada format ini, citra juga hanya memiliki satu header.

Format penyimpanan BSQ, BIP dan BIL memiliki cara masing-masing dan tentunya memiliki kelemahan dan kelebihan. Format BSQ memiliki kapasitas paling besar dari format yang lain, karena setiap band disimpan dalam bagian tersendiri dengan header sendiri, namun data yang tersimpan tidak mudah rusak. Misalnya terdapat kerusakan salah satu nilai piksel pada salah satu band, maka band lain masih dapat terbaca dengan baik, karena disimpan dalam bagian tersendiri.

Untuk format pentimpanan BIL dan BIP hamper sama file nya ringan karena disimpan dalam satu bagian, akan tetapi apabila terdapat salah satu nilai piksel yang rusak atau tidak terbaca, maka citra akan rusak karena piksel yang rusak tadi akan dimasuki piksel selanjutnya, sehingga informasi yang tersimpan menjadi bergeser semua.


Untuk dapat ditampilkan sebagai gambar, hasil dari kode-kode tersebut harus dibaca lagi oleh computer tiap piksel citra tersebut. Kemudian citra tersebut dapat ditampilkan secara visual dalam layar monitor. System penyimpanan tersebut memiliki suatu sub-file yang disebut header citra yang berisi informasi citra. Dari informasi tersebut kode-kode tersebut dapat dirangkai kembali menjadi suatu gambar.

Setiap piksel dalam citra menggambarkan nilai pantulan dan pancaran objek di permukaan bumi. Untuk dapat mengetahui objek tersebut dalam citra diperlukan kemampuan ekstraksi informasi dengan menganalisis nilai piksel tersebut. Untuk mempermudah pengenalan memang sangat dipengaruhi juga oleh aspek spatial yang semakin baik resolusi spatial/ banyak piksel akan semakin mudah pengenalan objek tersebut.
Dalam pemrosesan citra dapat dilakukan pengolahan suatu citra untuk mempermudah dalam analisis karena banyak sekali gangguan yang diterima sensor dalam perekaman. Pengolahan citra tak lagi hanya berorientasi pada pengembangan fungsi-fungsi aljabar matematis, melainkan juga mencakup pengembangan fungsi-fungsi logis untuk pengolahan data nominal dan label. (Richards,1986)



Sumber :
Danoedoro, Projo. 1996. Pengolahan Citra Digital. Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta
Habib.2011. Laporan Praktikum Pemrosesan Citra Digital.Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta

WEB GIS Sederhana dengan Google Maps

Tanggal 5 dan 6 Maret, ARDGISS melakukan pelatihan GIS Eksplorer.
Sebenarnya saya tidak mengikuti pelatihan tersebut, namun saya hanya iseng-iseng membaca modul pelatihannya. dan saya tertarik dalam pembuatan WEB GIS sederhana yang saya langsung coba masukkan dalam Blog.

Langkagnya sangat mudah, seperti ini.

pertama kali anda harus memiliki account google. silahkan anda sign-in atau masuk ke account google anda kemudian pilih "maps".

setelah itu buka jendela baru ke alamat http://geocommons.com/
silahkan anda membuat account di geocommons dengan klick sign up for free

setelah anda selesai membuat account tersebut, klik upload data






setelah itu klik add files





kemudian silahkan anda pilih format file *dbf *prj *shp dan *shx , klik open



tunggu beberapa saat untuk menunggu upload data

pilih next untuk melanjutkan pengaturan

pilih next step untuk melakukan pengeditan atau apabila telah cukup, klik finish




pada "Your Library" klik download *kml












pada jendela google maps, import peta hasil download *kml dengan klik petaku, pilih import dan upload files hasil download






tunggu beberapa saat sampai upload selesai

anda dapat melakukan editing untuk attribut dengan meng klik titik yang akan di edit dan langsung di lakukan editing

untuk menampilkan pada blog anda harus memiliki link HTML dan dimasukkan ke dalam blog anda....

MAU DOWNLOAD CITRA?

Untuk mendapatkan citra dengan gratis anda dapat melakukan download dengan langkah seperti yang akan saya sampaikan. Semoga bermanfaat.

Pertama anda membuka jendela baru di mozilla firefox atau di Google chrome. Masukkan alamat dibawah ini,

http://glovis.usgs.gov/ImgViewer/Java2ImgViewer.html

lebih jelasnya lihat ini,,



kalau anda belum punya java anda akan direkomendasikan untuk mendownload java. Download saja seperti perintah.

Jika sudah refresh jendela sebelumnya, dan tunggu sejenak maka secara otomatis akan terhubung dengan jendela seperti dibawah,

Pilih citra apa yang akan di cari, Landsat, Aster dll , path and row nya , tahun perekaman dll

jelasnya lihat disini






Untuk mendownload, klik pada "file" dan pilih download,


tunggu beberapa saat, dan citra siap dinikmati :)