ATLAS NASIONAL INDONESIA (DIGITAL WEB)


Atlas dalam pengertian yang paling sederhana adalah kumpulan peta. Berbagai peta disusun baik dalam dalam bentuk analog maupun digital berisi tentang data yang bereferensi spasial/geo-spatial. Maksud dari kata geospatial merupakan informasi yang terletak pada permukaan bumi dengan koordinat. (Phyton Geospatial Development:2010)

Menurut Ormelling tahun 1997, Atlas adalah data geografi yang disusun secara sistematik dan koheren dalam bentuk analog maupun digital , menampilkan area khusus dengan satu atau lebih tema geografik, berdasarkan tujuan khusus dengan disertai narasi,digunakan sebagai sarana navigasi dan dapat ditampilkan untuk analisis.
Indonesia setelah lama tidak memiliki atlas nasional, pada tahun 2008 meluncurkan atlas nasional resmi oleh Bakosurtanal. Dalam perkembangannya, atlas tersebut saat ini telah mampu diakses umum oleh masyarakat secara digital pada alamat http://atlasnasional.bakosurtanal.go.id/. Badan Kordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) segera melengkapi ANI volume III yang kini sedang disiapkan dan dijadwalkan terbit pada 2011. Sedangkan ANI II diterbitkan Selasa (8/12) melengkapi ANI I yang terbit pada 2008. (http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/atlas-nasional-indonesia-dokumen-resmi-geospasial-tematik)

Atlas Nasional Indonesia tersebut memiliki tiga tema besar, yaitu Fisik & Lingkungan, Potensi & Sumberdaya dan Sejarah, Wilayah dan Budaya. Ketiga tema tersebut memiliki sub tema masing-masing, yaitu Geologi, Geomorfologi, Gunung Api, Iklim, Kelautan, Konservasi lahan, Lahan basah, Penutup lahan, rawan bencana, sumberdaya Geologi, Sumberdaya air, Sumberdaya pesisir laut, transportasi, pariwisata, Flora dan fauna.

Pada tema atlas nasional Indonesia tersebut, wilayah Indonesia digambarkan, terutama untuk pulau-pulau besar, antara lain pulau jawa, sumatera, Kalimantan, bali, Sulawesi, Maluku, Papua. Informasi tersebut ditambahkan keterangan narasi untuk informasi-informasi yang tidak tertuang pada peta. Data yang digunakan dalam pembuatan Atlas Nasional Indonesia dikumpulkan dari badan-badan nasional Indonesia, antara lain Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia, Departemen Kelautan dan Perikanan, Badan Geologi, Badan Pusat Statistik, Departemen Pekerjaan Umum, Jawatan Hidro Oseanografi, Departemen kehutanan, Departemen Perhubungan, Departemen Kebudayaann dan pariwisata, Badan Meteorologi dan Geofisika. Pembuatan atlas Nasional Indonesia tersebut juga dilakukan oleh beberapa instansi, dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Departemen Geografi Universitas Indonesia.
Sub tema Geologi berisikan informasi terkait batuan-batuan di Indonesia, lempeng tektonik dan geologi regional. Informasi tersebut ditampilkan dengan gambar sekaligus deskripsi tentang sub tema Geologi tersebut. Sub tema Geomorfologi berisikan informasi tentang Bentanglahan. Bentuklahan diterangkan untuk memberikan informasi pada beberapa bentuklahan yang ada di Indonesia. Gambaran secara lebih jelas juga diberikan dengan foto agar mempermudah dalam memahami fenomena geomorfologi. Sub tema gunung api dijelaskan tentang tipe-tipe erupsi, bentuk gunungapi, struktur gunungapi, terjadinya gunungapi, lokasi gunungapi, kejadian gunungapi, proses pembentukan gunungapi, bahaya gunungapi dan klasifikasi gunungapi. Subtema iklim menerangkan tentang faktor-faktor yang menentukan iklim. Sub tema Kelautan menerangkan tentang kelautan secara umum. Subtema Konservasi lahan menerangkan tentang hutan dan pemanfaatanya sesuai undang-undang. Subtema lahan basah menerangkan tentang beberapa kenampakan lahan basah, kondisi fisik dengan berbagai habitatnya. Subtema penutup lahan memberikan informasi tentang penutup lahan berupa hutan dengan berbagai spesifikasinya. Subtema rawanbencana menerangkan tentang potensi bencana yang ada di Indonesia.

Pada tema Potensi dan sumberdaya berisikan subtema antara lain sumberdaya geologi yang menerangkan tentang berbagai jenis sumberdaya geologi yang ada di Indonesia. Sumberdaya air memberikan informasi mengenai sumberdaya air bagi masyarakat. Sumberdaya pesiir laut menerangkan tentang berbagai sumberdaya kelautan yang ada di Indonesia. Subtema transportasi menerangkan tentang pergerakan penduduk dengan kondisi geografis Indonesia. Subtema pariwisata menerangkan tentang potensi wisata yang ada di Indonesia terutama de3ngan kekayaan lautnya. Sementara flora dan fauna menerangkan tentang kekhasan flora dan fauna di Indonesia.
Atlas Nasional Indonesia yang telah dirilis oleh bakosurtanal tersebut sebagai satu contoh atlas digital yang belum selesai. Hal tersebut dapat kita cermati dari definisi atlas menurut Ormelling, 1997, Atlas adalah data geografi yang disusun secara sistematik dan koheren dalam bentuk analog maupun digital , menampilkan area khusus dengan satu atau lebih tema geografik, berdasarkan tujuan khusus dengan disertai narasi,digunakan sebagai sarana navigasi dan dapat ditampilkan untuk analisis. Terdapat empat kata kunci dari definisi Ormelling ini, antara lain ,

1. Koleksi koheren dan sistematik dari data geografikal
2. Ditampilkan dalam format analog/konvensional ataupun digital
3. Menggambarkan daerah tertentu
4. Dilengkapi tools/sarana untuk mempermudah informasi dan analisis

Atlas Nasional Indonesia tersebut disusun dalam format digital yang tentunya memiliki tools yang berbeda dari peta analog. Tools tersebut maksudnya adalah berupa alat yang dapat memudahkan kita dalam memahami informasi yang ada dalam atlas. Tools berupa segala sesuatu, baik berupa tulisan/narasi, diagram, ataupun sketsa yang fungsinya untuk mempermudah informasi dan analisis. Kemudian atlas nasional tersebut berupa kumpulan data geografis yang sistematik dan koheren dengan menggambarkan daerah Indonesia secara umum dan beberapa pulau-pulau besar di Indonesia. Informasi ditampilkan dengan membagi pada beberapa tema besar, dan dari tema besar tersebut dibagi kembali menjadi beberapa tema. Hal tersebut tentunya agar informasi dapat diakses oleh user secara lebih mudah.

Kumpulan data geografis tidak selalu berupa peta, namun dapat berupa narasi atau data-data terkait daerah yang ditampilkan. Atlas Nasional Indonesia tersebut menampilkan lebih dominan informasi berupa narasi dibandingkan dengan informasi berupa peta. Secara definisi, Atlas Nasional Indonesia digital tersebut dapat disebut sebagai atlas. Hal tersebut karena menurut saya, Atlas Nasional Indonesia tersebut memenuhi keempat kata kunci sesuai dengan definisi Ormelling.

Selanjutnya ketika memahami tujuan Atlas antara lain,
1. Memperkenalkan atau mengkomunikasikan tentang lingkungan sekitar
2. Mengakses Informasi Global
3. Menyajikan permasalahan di lingkungan sekitar
4. Mengevaluasi kelayakan dan kebenaran fenomena tertentu
5. Mengetahui potensi suatu wilayah

Atlas Nasional Indonesia tersebut menurut saya bertujuan untuk memberikan informasi tentang potensi wilayah baik informasi fisik, social maupun budaya. Menurut jenisnya atlas tersebut merupakan atlas nasional, seperti nama atlas tersebut. Informasi yang disajikan berupa potensi wilayah Indonesia secara umum.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Atlas Nasional Indonesia telah menerapkan beberapa scenario. Atlas tersebuit sudah dilengkapi dengan tools sehingga informasi mudah diakses oleh user. Kemudian menjelaskan suatu situasi dengan narasi, artinya informasi tentang peta yang ditampilkan dieprjelas dengan narasi. Narasi dapat berupa gambar, diagram, video, maupun suara yang mampu memberikan informasi secara lebih jelas.

Atlas tidak pernah terlepas dari peta. Suatu kumpulan peta dengan berbagai tambahan informasi dan narasi. Pada Atlas Nasioanl Indonesia Digital tersebut hanya memberikan informasi berupa narasi tanpa diberikan dasar petanya. Pada tools yang ada, ternyata juga tidak sempurna karena terdapat informasi yang kosong. Jika dilakukan pembenahan dengan memberikan informasi peta pada setiap tema, sehingga user dapat melakukan analisis terhadap peta dengan membaca informasi dan narasi, Atlas Nasional Indonesia ini akan lebih layak untuk disebut atlas.


Sumber :
Rahardjo, Noorhadi. 2011. Catatan Kuliah Atlas dan peta Navigasi. Fakultas Geografi:UGM
(http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/atlas-nasional-indonesia-dokumen-resmi-geospasial-tematik) diakses 13 oktober 2011
http://atlasnasional.bakosurtanal.go.id/. Diakses 13 oktober 2011





UPAYA MITIGASI NON STRUKTURAL

Indonesia merupakan Negara yang tidak dapat lepas dari ancaman bencana. Hal tersebut dipengaruhi oleh posisi Indonesia yang berada pada pertemuan lempeng-lempeng tektonik. Lempeng tersebut antara lain lempeng Eurasia, , Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Lempeng Indo-Australia menabrak lempeng Eurasia di lepas pantai sumatera, jawa dan Nusa tenggara, sementara itu lempeng pasifik bertabrakan dengan lempeng Indo-Asutralia di utara irian dan Maluku utara. Terjsdinys tumbukan tersebut, sehingga Negara ini rawan sekali oleh bencana gempa bumi. Selain itu akibat dari tumbukan antar lempeng menghasilkan bentukan berupa gunungapi. Jumlah gunungapiu yanbg aktif sekitar 140 buah.Bahaya letusan gunungapi juga sangat berpotensi terjadi di Indonesia. Kemudian bahaya longsor juga mengancam. Besarnya curah hujan dapat menyebabkan terjadinya longsor di beberaopa tempat. Besarnya potensi bencana yang terjadi memaksa kita Sebagai warga Negara yang tinggal di daerah rawan bencana, kita harus mengenal alam kita ini.Ketika bencana terjadi ada upaya dari kita untuk mengurangi suatu dampak bahaya yang terjadi. Hal tersebut dikenal sebagai mitigasi.

Mitigasi merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana,baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan mengatasi anczman bencana. Ancaman bencana dapat terjadi sewaktu-waktu, namun bukan berarti kita tidak mempu untuk mengurangi dampak bencana. Upaya mitigasi melalui pembangunan fisik dikenal sebagai mitigasi structural, sedangkan upaya berupa penyadaran kepada masyarakat tentang risiko bencana dikenal sebagai mitigasi non structural.
Pentingnya mitigasi non structural

Mitigasi non structural menurut saya lebih efektif, walaupun perlu pula dikombinasikan dengan mtigasi structural. Berbagai upaya mitigasi non structural antara lain melakukan pelatihan, pendidikan, penyuluhan/sosialisasi, penataan ruang dan relokasi. Ketika masyarakat telah mengetahui resiko bencana melalui usaha-usaha tersebut, maka dampak korban jiwa, minimal dapat dikurangi. Masyarakat akan tau apa yang harus dilakukan ketika gempa bum, banr, tsunamii terjadi dan sebagainya. Msayarakat tidak akan terpengaruh oleh isu-isu tertentu yang membuat panic ketika terjadi bencana. Namun usaha mitigasi non structural tersebut seringkali tidak mudah dilakukan, terutama kepada masyarakt usia tua/lansia. Sehingga ketika bencana terjadi, masyarakat harus bersama-sama saling membantu untuk mengurangi dampak bencana.


Bagaimana langkah yang harus dilakukan?
1. Memberikan pendidikan dan pelatihan kebencanaan
Langkah tersebut dilakukan oleh masyarakat dibantu oleh pemerintah daerah terkait, peneliti, dosen maupun lembaga tertentu dengan memberikan suatu pendidikan tentang bencana yang terjadi. Pendidikan tersebut dapat berupa pengenalan karakteristik bencana, tipe bencana, bagaimana dan apa yang harus dilakukan jika bencana datang. Masyarakat diberikan langkah cepat yang harus dilakukan jika bencana datang tiba-tiba.

2. Memberikan sosialisasi
Sosialisasi juga penting untuk dilakukan. Biasanya sosialisasi dilakukan oleh pemerintah daerah melalui BPBD Badan Nasional Bencana Daerah). Masyarakat sebagai target sosialisasi diberikan pengetahuan tentang bencana yang sering terjadi di daerah tersebut dan memberikan langkah-langkah cepat yang harus dilakukan.

3. Penataan Ruang
Penataan ruang dan relokasi sangat penting dilakukan agar resiko bencana dan korban tidak terjadi lagi. Permukiman yang terkena bencana sebelumnya dipindahkan ke daerah lain yang lebih aman. Daerah yang memiliki potensi terhadap bencana diatur kembali untuk dipindahkan menjauhi daerah dengan resiko bencana lebih besar.

4. Membentuk organisasi penanggulangan bencana tingkat kampong/Desa
Masyarakat dapat saling membantu ketika terjadi bencana maupun ketika sebelum bencana dalam organisasi tersebut. Adanya organisasi tingkat lingkup kecil tersebut tentunya akan lebih dapat mengkoordinir warganya. Organisasi tersebut dapat bersama dengan pemerintah daerah memberikan pelatihan, simulasi bhencana, memberikan papan-papan jalur evakuasi, menyiapkan tanah lapang yang aman dari bencana untuk membangun barak pengungsian dan sebagainya. Bahkan ketika bencana terjadi, dalam lingkup kecil tersebut lebih mudah untuk memberikan bantuan, terutama makanan.